<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3373062771363800051</id><updated>2011-04-21T15:38:07.260-07:00</updated><title type='text'>MANTRA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3373062771363800051.post-8353258738874183060</id><published>2008-08-17T12:26:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T12:27:24.421-07:00</updated><title type='text'>Mantra Dewa Bumi</title><content type='html'>NA MO SAMANTHO BU THO NAM AUM TURU TURU DI WEI SOA HA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3373062771363800051-8353258738874183060?l=mantar-bodhicita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/feeds/8353258738874183060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3373062771363800051&amp;postID=8353258738874183060' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default/8353258738874183060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default/8353258738874183060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/2008/08/mantra-dewa-bumi.html' title='Mantra Dewa Bumi'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3373062771363800051.post-7737721303573863481</id><published>2008-08-17T12:06:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T12:09:06.903-07:00</updated><title type='text'>SEDIKIT INFO TENTANG MANTRAM MAHA KARUNA DHARANI</title><content type='html'>Maha Karuna Dharani Sutra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang aku dengar, saat Hyang Sakyamuni Buddha berada di Gunung Pu Tuo Lo, tempat Istana Avalokitesvara, Hyang Sugata duduk di tempat yang teragung. Duduk dengan posisi Simha, yang terbuat dari beraneka mustika; tempat memuliakan Hyang Thatagata. Dihiasi oleh ratusan bendera artribut kebesaran para Bodhisattva dan Dewata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Sang Tathagata berada di atas tempat duduknya yang selanjutnya ingin membicarakan perihal Cung Ce To Lo Ni (Saddharana Dharani) , antara lain dihadiri oleh Para Maha Bodhisattva Mahasattva yang tidak terhitung banyaknya yaitu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cung Che Wang Phu Sa, Pao Wang Phu Sa,&lt;br /&gt;Yo Wang Phu Sa, Yo Sang Phu Sa,&lt;br /&gt;Kuan Se Im Phu Sa, Ta Se Ce Phu Sa,&lt;br /&gt;Hua Yen Phu Sa, Ta Cuang Yen Phu Sa,&lt;br /&gt;Pau Chang Phu Sa, Te Chang Phu Sa,&lt;br /&gt;Cing Kang Chang Phu Sa, Si Kung Chang Phu,&lt;br /&gt;Mi Le Phu Sa, Phu Shien Phu Sa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikianlah seluruh Bodhisattva Mahasattva yang mempunyai kekuatan gaib yang dapat memberikan berkah tidak terkira di dunia ini .&lt;br /&gt;Terdapat juga tiada terhitung banyaknya Maha Sravaka, Para Arahat yang telah menjalankan Dasa Bhumika; di mana Maha Kasyapa sebagai pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga terdapat tidak terhitung banyaknya Para Brahma dan Raja Langit, dibawah pimpinan San Ca Fan Mo (Brahma Sanca).&lt;br /&gt;Juga tidak terkira banyaknya Para Pangeran dari alam Karma Dhatu yang di pimpin oleh Chi Pho Cie Thien Ce.&lt;br /&gt;Demikian pula Para Dewa Pelindung Dharma yang dipimpin oleh Thi Thou Lai Ca.&lt;br /&gt;Terdapat juga tiada terhitung banyaknya Para Dewa, Naga, Yaksa, Gandhaeva, Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga, Manusia, bukan manusia; yang dipimpin oleh Maha Dewa Naga Pala.&lt;br /&gt;Terdapat juga tidak terhitung banyaknya para wanita dari Karma Dhatu yang dipimpin oleh Thung Mu Thien Ni.&lt;br /&gt;Terdapat juga tidak terhitung banyaknya Dewa Angkasa (Shi Khung Sen), Dewa Sungai, Dewa Laut, Dewa Sumber Air, Dewa Danau, Dewa Pohon Obat, Dewa Tempat Tinggal, Dewa Air, Dewa Api, Dewa Bumi, Dewa Angin, Dewa Tanah, Dewa Gunung, Dewa Batu, Para Dewa Istana yang tiada terkira banyaknya hadir dalam pertemuan Dharma ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Persamuan Dharma ini, Avalokitesvara Bodhisattva memancarkan cahaya terang benderang. Cahayanya berwarna emas yang dapat menembus sepuluh penjuru dunia dan mempengaruhi Tiga Ribu Maha Besar Alam Semesta, Istana Dewa, Istana Naga, juga Istana Para Dewa-Dewa yang lain terguncang adanya. Sungai, kali, lautan yang luas, Gunung Besi, Gunung Semeru, Gunung Tanah, Gunung yang gelap gulita, semuanya juga terguncang Matahari, Bulan, benda-benda di luar angkasa (bintang) tertutup cahayanya sehingga tidak terlihat muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Chung Che Wang Phu Sa melihat keadaan yang aneh ini, berdiri dari tempat dudukNya, merangkapkan kedua belah tangannya, dan bertanya kepada Hyang Buddha: “ Siapakah yang mempunyai kesaktian seperti ini ?”, bertanya dengan menggunakan syair sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Siapakah pada hari ini mencapai kesadaran agung, memancarkan sinar yang begitu terang benderang.&lt;br /&gt;•  Sepuluh penjuru dunia berwarna keemasan. Demikian juga Tiga Ribu Alam Semesta.&lt;br /&gt;•  Siapa yang pada hari ini memperoleh kesempurnaan dengan mempertunjukkan kekuatan Maha Dewa.&lt;br /&gt;•  Negeri Buddha tanpa batas seluruhnya bergetar, di Istana Naga dan Dewa tidak ada ketenangan.&lt;br /&gt;•  Hari ini semua makhluk terdapat keragu-raguan, tidak terukur kekuatan jodohnya.&lt;br /&gt;•  Untuk Para Buddha, Para Bodhisattva, Maha Sravaka, untuk Para Brahma, Dewa, dan Suku Sakya lainnya,&lt;br /&gt;•  Mohon kesedian Sang Sugata Yang Maha Maitri Karuna menjelaskan asal dari kegaiban ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang Buddha memberitahukan kepada Chung Ce Wang Phu Sa: “Orang Budiman, pada pertemuan ini ada seorang Bodhisattva Mahasattva bernama Avalokitesvara yang telah membina diri dari kalpa yang tidak terhitung lamanya, sudah memperoleh kesempurnaan Maha Maitri Maha Karuna. dan telah berhasil membina diri sesuai ajaran Dharani yang tiada batasnya, untuk memberikan ketenangan, kegembiraan kepada semua makhluk. Demikianlah kekuatan kesaktian yang diperolehNya”. Demikianlah yang telah dikatakan Hyang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Hyang Avalokitesvara berdiri dari tempat dudukNya, merapikan jubahNya, beranjali menghadap Hyang Buddha dan berkata: “Sang Bhagava Saya mempunyai Mantra Maha Karuna Dharani. Sekarang ingin ‘Ku sampaikan agar para makhluk dapat memperoleh ketenangan dan kegembiraan, menghilangkan segala macam penyakit, memperoleh usia yang panjang, memperoleh kemakmuran, melenyapkan seluruh karma buruk yang berat, menjauhi kesusahan, menambah pahala sesuai dengan ajaran Dharma, menyempurnakan akar kebajikan, menjauhi rasa ketakutan, secepatnya tercapai keinginannya, mohon kesedian Sang Bhagava mendengarkan dengan penuh welas asih dan menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang Buddha bersabda: “ Orang Yang Budiman Anda membangkitkan Maha Maitri Karuna, memberikan ketenangan dan kegembiraan kepada semua makhluk mengulang Dharani ini. Inilah saatnya yang benar untuk menyampaikan kepada semua orang, Tathagata penuh kegembiraan demikian juga Para Buddha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- / message --&gt;&lt;!-- controls --&gt; Avalokitesvara Bodhisattva berkata kepada Buddha: “ Aku mengingat kembali ribuan kalpa yang lalu, pada saat itu hidup seorang Buddha yang bernama Chien Kuang Wang Cing Cu Ju Lai. Sang Bhagava menyayangiKu dan demi semua makhluk membabarkan Maha Karuna Dharani dengan tangan emasNya mengusapi kepalaKu dan berkata: “Orang Budiman, jika Anda terus menerus membaca Dharani ini untuk menolong Para Makhluk yang susah pada masa yang akan datang melakukan perbuatan yang berguna dan membahagiakan para makhluk; pada saat itu Aku baru mencapai tingkatan kesucian yang pertama. Begitu mendengarkan Dharani ini langsung mencapai tingkatan kesucian yang kedelapan. Di dalam batinKu timbul kegembiraan. Pada saat itu juga Aku membangkitkan Prasetya dengan tekad: “ Jika pada waktu yang akan datang Aku berguna dapat memberikan ketenangan dan kegembiraan kepada semua makhluk, saat itu juga tubuhKu akan berubah dan mempunyai tangan seribu mata seribu.” Setelah membangkitkan prasetya ini, segera sempurnalah tubuhKu dengan memiliki tangan seribu mata seribu. Sepuluh penjuru alam semesta terjadi enam macam getaran, sepuluh penjuru ribuan Para Buddha segera memancarkan cahayaNya, menyinari seluruh tubuhKu sampai ke seluruh penjuru alam semesta tanpa batas. Sejak saat itu terulang kembali di Alam Buddha yang tanpa batas pada saat Pertemuan Dharma yang tidak terhitung banyaknya selalu terdengar kembali. Terus menerus mengulang membaca Dharani ini dengan selalu membangkitkan kegembiraan, kebahagiaan tanpa batas sehingga melewati miliaran kalpa kelahiran dan kematian yang tidak terhitung banyaknya. Sejak saat itu terus membaca tanpa terlupakan. Dari pahala membaca Dharani ini disetiap kelahiran akan selalu bertemu Buddha, mempunyai Bodhicitta yang bersih bagaikan bunga teratai, tidak terlahir dengan badan yang penuh dengan kekotoran batin.&lt;br /&gt;&lt;div id="post_message_6846"&gt;Jika terdapat Para Bhikksu, Bhiksuni, Para Upasakha Upasikha, anak laki-laki dan perempuan ingin menbacanya, semua makhluk harus membangkitkan Maitri Karuna, lebih dahulu harus membangkitkan prasetya yang seperti Aku lakukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya mengerti seluruh Dharma.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya mempunyai mata kebijaksanaan.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya menolong semua makhluk.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya dengan mudah dapat melakukan perbuatan baik.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya memperoleh perahu kebijaksanaan.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya melewati lautan samsara.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya berhasil menjalani sila dan samadhi.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya mencapai ketenangan Nirwana.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya mencapai keseimbangan batin.&lt;br /&gt;•  Namo Maha Karuna Avalokitesvara, aku bertekad secepatnya memperoleh kesadaran Buddha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku hendak dibunuh dengan golok, golok tersebut patah atau putus.&lt;br /&gt;Bila aku sedang mengalami emosi kemarahan, api kemarahan tersebut akan segera padam.&lt;br /&gt;Bila aku sedang mengalami penderitaan seperti di neraka maka penderitaan tersebut akan langsung berhenti.&lt;br /&gt;Bila aku seperti setan kelaparan, maka akan segera terasa kenyang kembali&lt;br /&gt;Bila aku seperti asura, maka aku dapat mengendalikan batin yang jahat.&lt;br /&gt;Bila aku menjadi binatang, binatang yang mempunyai kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membangkitkan prasetya ini, dengan sungguh-sungguh hati menyebut namaKu, mengalunkan pujian kepada GuruKu Amitabha Buddha, kemudian membaca Dharani ini sebanyak 5 kali, dapat melenyapkan ratusan ribuan jutaan miliar kalpa karma buruk yang menyebabkan kelahiran dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avalokitesvara Bodhisattva berkata kepada Hyang Buddha: “Sang Bhagava, jika terdapat manusia dan dewa membaca Maha Karuna Dharani ini, pada saat kematian tiba, Sepuluh Penjuru Buddha datang menjemputnya untuk terlahir di negeri Buddha. Dengan menjalankan prasetya akan memperoleh kelahiran seperti tersebut di atas”. Kemudian Beliau berkata kepada Buddha: “ Sang Bhagava, jika para makhluk yang dengan sungguh-sungguh hati membaca Maha Karuna Dharani ini, masuk ke tiga alam samsara Aku berjanji tidak mencapai penerangan yang agung. Bagi yang membaca dengan sungguh-sungguh Maha Karuna Dharani ini, bila tidak terlahir di Negeri Buddha, maka Aku tidak mencapai penerangan yang agung. Bagi yang membaca dengan sungguh-sungguh Maha Karuna Dharani ini, jika tidak memperoleh daya kemampuan yang luar biasa dari samadhi, maka Aku tidak akan mencapai penerangan yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang membaca dengan sungguh-sungguh Maha Karuna Dharani ini, jika pada saat kelahiran sekarang apa yang diinginkan tidak tercapai, juga tidak memperoleh kekuatan dari Maha Karuna Dharani sebabnya hanya satu yaitu orang tersebut tidak melakukan perbuatan baik dan tidak membaca Dharani tersebut dengan kesungguhan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terdapat seorang perempuan tidak ingin terlahir lagi dalam bentuk seorang wanita, ingin terlahir sebagai laki-laki, dengan secara terus menerus membaca Maha Karuna Dharani, bila tidak terjadi perubahan dari seorang perempuan ke seorang laki-laki, Aku berjanji tidak akan mencapai kesempurnaan agung. Apabila masih terdapat sedikitpun keragu-raguan di dalam batinnya, pasti tidak akan memperoleh hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika 0terdapat para makhluk yang mengambil, merusak makanan dan barang-barang Vihara, meskipun pada ribuan kali kelahiran bertemu Buddha, ia tidak ada rasa menyesal dan bertobat, meskipun ia ada rasa menyesal dan bertobat, tidak akan dapat menghapus karma buruknya. Tetapi bila pada saat ini ia mau membaca Maha Karuna Dharani dengan penuh kesungguhan hati, maka kekuatan Dharani ini dapat menghancurkan karma buruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terdapat para makhluk yang mengambil, merusak, memakan makanan dan barang-barang di Vihara tanpa ijin, ia wajib memohon pengampunan dan terima kasih kepada sepuluh penjuru para guru, kalau pada saat sekarang ini ia dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani, sepuluh penjuru para guru datang dan menyaksikan sehingga semua dosa-dosanya hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh Sepuluh Perbuatan Jahat (Dasa Akusala Karma), Lima Garuka Karma, memfitnah orang, menghina Dharma, melanggar sila, mengambil makanan, merusak vihara, mencuri barang-barang Sangha, menghalangi orang yang melatih diri, dengan penuh kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani, seluruh perbuatan buruknya dan dosa yang berat akan hancur, akan habis. Kecuali satu hal, pada saat membaca Maha Karuna Dharani muncul keragu-raguan, sampai termasuk juga melakukan karma buruk yang ringan, hal ini sama sekali tidak bisa menghapus karma buruk yang dibuat. meskipun karma buruknya yang berat tidak bisa dihapuskan dengan membaca Maha Karuna Dharani ini, setidaknya akan menumbuhkan akar kebodhian dari orang tersebut. Beliau berkata lagi, “Sang Bhagava bila ada manusia dan dewa dengan sungguh-sungguh hati dan terus menerus membaca Maha Karuna Dharani, akan memperoleh 15 macam kelahiran baik, dan tidak menerima 15 macam kematian yang menakutkan/buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas macam kematian yang menakutkan/buruk.&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena kelaparan&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena dihukum cambuk&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena dibantai musuh&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena terbunuh di dalam peperangan&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena diterkam binatang buas&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena digigit ular, kalajengking dan binatang lain yang berbisa.&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena hanyut di dalam air atau mati terbakar&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena keracunan obat&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena keracunan bisa serangga&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena kehilangan ingatan&lt;br /&gt;•  Tidak mati karena terpelesat ke dalam jurang atau tertimpa pohon tumbang&lt;br /&gt;• Tidak mati karena dilukai orang jahat&lt;br /&gt;• Tidak mati karena Dewa atau setan yang jahat.&lt;br /&gt;• Tidak mati karena penyakit kronis yang berkepanjangan&lt;br /&gt;• Tidak mati karena perbuatan dosanya yang dilakukan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang dengan penuh kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani, akan terhindar dari 15 macam kematian yang.menakutkan/buruk dan akan memperoleh 15 macam kelahiran yang baik/keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Terlahir di suatu negara yang dipimpin oleh seorang Raja/pemimpin yang bijaksana&lt;br /&gt;•  Terlahir di suatu negara yang baik (aman, damai, sejahtera dan makmur)&lt;br /&gt;•  Terlahir selalu ketemu kondisi, waktu dan jodoh yang baik/cocok&lt;br /&gt;•  Terlahir selalu mempunyai teman yang baik&lt;br /&gt;•  Terlahir mempunyai anggota tubuh dan indra yang sempurna&lt;br /&gt;•  Terlahir memiliki mental, moral dan watak yang baik/ sifat baik&lt;br /&gt;•  Perbuatannya tidak pernah melanggar hukum/peraturan&lt;br /&gt;•  Kehidupan seluruh keluarganya akur dan penuh keharmonisan.&lt;br /&gt;•  Mempunyai makanan dan harta yang berlimpah&lt;br /&gt;•  Selalu mendapat kehormatan dan didukungan orang lain&lt;br /&gt;•  Harta kekayaannya tidak dirampok/ direbut orang lain&lt;br /&gt;• Kenginannya selalu tercapai&lt;br /&gt;• Selalu mendapat perlindungan dari Naga, Dewa Langit dan para Dewa baik lainnya.&lt;br /&gt;• Kelahiran selanjutnya bisa ketemu dengan Buddha dan dapat mendengarkan Dharma&lt;br /&gt;• Selalu bisa mendengarkan kebenaran Dharma dan mempunyai kesadaran yang dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah bagi mereka yang membaca dengan penuh kesungguhan hati Maha Karuna Dharani akan memperoleh 15 macam kelahiran yang baik/keberuntungan. Karena itu seluruh dewa dan manusia harus terus menerus membaca dan menjalankan tanpa kemalasan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Avalokitesvara mengucapkan kata-kata ini, berdiri dengan tangan beranjali di depan para makhluk yang hadir dalam persamuan ini membangkitkan batin yang penuh dengan welas asih, dengan muka tersenyum dan penuh ketenangan, Avalokitesvara mengsabdakan isi Maha Karuna Dharani Yang Maha Sempurna sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Aku bersujud ke hadapan Triratna&lt;br /&gt;•  Aku bersujud ke hadapan Yang Mahatahu&lt;br /&gt;•  Bodhisattva, Makhluk Agung, Yang Mahapengasih&lt;br /&gt;•  Om , Beliau yang serba-tak-kenal-gentar&lt;br /&gt;•  Aku bersujud dengan memasuki batin Yang Mahatahu&lt;br /&gt;•  Aku bersujud ke hadapan Beliau Yang Berleher-biru, Yang Memiliki Kebajikan Agung&lt;br /&gt;• Yang Memiliki Kemuliaan Tak-terkalahkan. Yang memberikan kebahagiaan kepada semua makhluk dari keluarga apa pun di seluruh alam&lt;br /&gt;•  Demikian: Om , Yang Mahatahu.Yang mengatasi dunia ketidak kekalan ini&lt;br /&gt;•  Oh, Hari Bodhisattva agung semua mustika&lt;br /&gt;•  Yang Berhati-agung, membuat kesuksesan, kesuksesan (bagi pembacanya&lt;br /&gt;•  Kemenangan yang gemilang, kemenangan yang agung&lt;br /&gt;• Seru-sekalian-alam, waspada, waspadalah&lt;br /&gt;• Guncang, guncanglah, bebaskan aku dari noda batin&lt;br /&gt;• Datang, datanglah, dengar,dengarlah kegembiraan yang muncul.&lt;br /&gt;• Terjadilah, terjadilah dari awal, awal yang baik&lt;br /&gt;• Esa, Esa, pergi, bencana, bencana, iri, iri, lenyap, lenyap&lt;br /&gt;• Cerah, cerahlah; bangun, bangunlah&lt;br /&gt;• Aku bersujud ke hadapan Beliau - Yang Penuh Welas-asih, Yang Berleher -biru, Yang Patut Dipandang&lt;br /&gt;• Yang Tak kenal gentar, svaha. Yang Gaib, svaha. Yang Maha-gaib, svaha (demikian adanya)&lt;br /&gt;•  Beliau, Pertapa Yogi Gaib Yang Selalu mendengar, svaha. Yang Berleher-biru, svaha&lt;br /&gt;• Beliau Yang Laksana-banteng, svaha. Yang berwajah-singa, svaha&lt;br /&gt;•  Beliau yang memiliki kemampuan gaib agung, svaha. Beliau yang memiliki kegaiban cakra, svaha.&lt;br /&gt;•  Pemegang Bunga-teratai, svaha. Pencipta Berleher-biru, svaha&lt;br /&gt;•  Maha mulia nan agung yang penuh kasih sayang, pemurah, svaha&lt;br /&gt;•  Aku bersujud ke hadapan Triratna&lt;br /&gt;•  Aku bersujud ke hadapan Yang Mahatahu, svaha&lt;br /&gt;•  Om , semoga jalan mantra ini menghasilkan kegaiban, svaha.&lt;/div&gt;   &lt;!-- / message --&gt;&lt;!-- controls --&gt; Setelah Avalokitesvara membaca Dharani ini, seluruh bumi terjadi 6 getaran, bunga-bunga bertaburan dari langit, sepuluh penjuru Para Buddha turut bergembira, Dewa Marah dan makhluk-makhluk yang berada di jalan sesat penuh ketakutan. Seluruh makhluk yang ada di dalam persamuan memperoleh buah karma kesadaran, ada yang memperoleh kesadaran Srotapana, kesadaran Sakradagamin, atau kesadaran Anagamin, atau memperoleh tingkat kesadaran Arahat, atau memperoleh tingkat kesadaran Dasa Bhumika Bodhisattva kesatu, kedua, ketiga, keempat, kelima sampai kesepuluh, semua makhluk tanpa batas membangkitkan benih-benih kebodhian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Maha Raja Langit berdiri dari tempat dudukNya, merapikan jubahNya, beranjali memberikan hormat kepada Avalokitesvara Bodhisattva dan berkata, “Maha Bodhisattva, sejak dahulu Aku selalu mengikuti Pertemuan Dharma yang tidak terhitung banyaknya, mendengar bermacam-macam Dharma, bermacam-macam Dharani tetapi Aku belum pernah mendengar, melihat kata-kata yang gaib yang terdapat dalam Maha Karuna Dharani. Mohon kesediaan Maha Bodhisattva menjelaskan kepada kami bentuk dan makna sebenarnya yang terkandung di dalam Dharani ini. Aku dan para makhluk akan senang mendengarkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avalokitesvara Bodhisattva memberitahukan kepada Raja Langit,”Engkau bertanya sangat baik untuk memudahkan semua makhluk. Sekarang dengarkan, Aku akan menjelaskannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avalokitesvara Bodhisattva berkata: “Jiwa yang penuh dengan Maha Maitri Karuna, jiwa yang mempunyai keseimbangan batin, jiwa yang tanpa pamrih, jiwa yang tidak kotor, jiwa yang tidak memandang sesuatu tanpa inti, jiwa yang penuh hormat, jiwa yang rendah hati, jiwa yang penuh konsentrasi, jiwa yang tidak ada keserakahan, jiwa yang mempunyai Bodhicitta yang tanpa batas, jiwa yang demikianlah yang sebenarnya yang merupakan bentuk dari Maha Karuna Dharani. Karena itu kalian harus mengikuti dan membina diri seperti ini.” Raja Langit berkata, ”Aku bersama-sama para makhluk pada saat sekarang ini sudah mengerti bentuk dari ajaran Maha Karuna Dharani. Mulai hari ini terus menerus mengingat, menjalankannya dan tidak berani melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avalokitesvara Bodhisattva berkata, “Jika terdapat para Laki-laki dan Wanita dengan sungguh-sungguh hati membaca Maha Karuna Dharani ini, bertekad membangkitkan Bodhicitta yang besar, berjanji untuk menolong semua makhluk, menjalankan sila, memandang semua makhluk dengan membangkitkan keseimbangan batin, membaca Dharani ini terus menerus tidak pernah putus, sebelum membaca membersihkan badan, berpakaian bersih, di dalam ruangan yang bersih, melakukan puja dengan mempersembahkan lampu pelita, dupa, bunga, berbagai macam rasa makanan, dengan satu hati memuja, tidak terpencar konsentrasinya, maka pada saat membaca Dharani tersebut akan datang Re Kuang Phu Sa (Bodhisattva Matahari ) dan Ye Kuang Phu Sa ( Bodhisattva Bulan ) juga tidak terhitung banyaknya orang suci datang untuk memberikan kesaksian sehingga mantra ini berguna dan mempunyai kegaiban. Pada saat itu Aku datang dengan seribu mataKu melihat dan seribu tanganKu melindungi. Sejak saat itu Dharani ini harus sebagai pegangan sebagai Kitab Suci di dalam kehidupan dunia ini, karena Dharani ini mempunyai kekuatan dapat mengatasi seluruh perbuatan jahat dari aliran sesat. Dengan bantuan Wie Tho bisa berhasil, bisa tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang membaca dengan penuh kesunggukan hati Maha Karuna Dharani, walaupun di dunia ini terdapat delapan juta empat ribu macam penyakit, dapat diatasinya, dengan tidak ada perbedaan, termasuk Dewa Marah dan pengikut aliran sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di dalam hutan yang lebat ada orang yang membaca Sutra dan duduk bermeditasi, diganggu oleh binatang-binatang, dewa, dan setan yang jahat datang mengganggunya dan mengacaukannya sehingga ia tidak mendapatkan konsentrasi dan ketenangan. Bila saja ia mau membaca dengan penuh kesungguhan hati satu kali saja Maha Karuna Dharani, maka setan, dan dewa jahat tersebut bagaikan terkurung tidak bisa mengganggunya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tedapat orang-orang sesuai ajaran Dharma, membaca dengan penuh kesungguhan hati Dharani ini, membangkitkan Maitri Karuna, Aku akan memimpin seluruh Dewa yang baik, Raja Naga dengan senjata vajranya selalu melindungi, dengan bentuk yang tidak kelihatan oleh mata manusia biasa, selalu mengikuti tidak jauh dari badannya sendiri. Selanjutnya Beliau bersabda sebagai berikut:”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Aku memimpin Vajra Bodhisattva bersam-sama dengan U Suo Chin Thu Yang Ci Si, delapan bentuk para makhluk (dewa, naga, yaksa, gandarwa, asura, garuda, kinnara, dan mohoraga). Kekuatan Bodhisattva Sang Cia Lo akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Aku memimpin Mo Shi Na Lo Yen, Cing Phi Lo Tho Cia Phi Lo yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Po Sa Sa Lou Lo, Man San Che Po Cen To Lo yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Sa Ce Mo Ho Lo, Ciu Lan Tan Cha Pan Ce Lo yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Phi Po Cieh Lo Wang, Ing Te Pi To Sa Ho Lo yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Fan Mo San Pho Lo, U Pu Cing Ci Yen Mo Lo yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Tiga Puluh Tiga Raja Dewa, Ta Pien Kung Te Pho Tan Na yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Thi Thou Lay Ca Wang, Sen Mu Ni Ten Ta Li Cung yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Pi Luo Le Cha Wang, Pi Lou Fu Cha Pi Sa Men yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Cing Se Khung Chie Wang, El She Pa Phu Ta Sien Cung yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Mo Ni Pa Tho Lo, San Ce Ta Ciang Fu Lo Pho yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Nan Tho Pa Nan Tho, Pho Cien Lo Lung I Pho Lo yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;• Aku memimpin Siu Lo Cien Ta Pho, Cia Lou Cing Na Mo Ho Lo yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;&lt;!-- / message --&gt;&lt;!-- controls --&gt;•  Aku memimpin Suei Huo Luei Tien Sen, Ciu Phan Thu Wang Pi Se Ce yang akan selalu melindungi orang-orang yang penuh dengan kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;Dari beberapa Dewa yang baik sampai dengan Raja Dewa Naga, Dewa Dewi dan lain lainnya yang masing-masingnya mempunyai 500 keluarga dengan kekuatan Yaksa akan melindungi terus menerus orang yang membaca Maha Karuna Dharani ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terdapat orang yang berada di gunung atau hutan, tidur sendiri, Para Dewa yang baik akan menjaganya agar terbebas dari maha bahaya. Jika terkurung di dalam hutan, tersesat kehilangan arah jalan keluar, dengan membaca Maha Karuna Dharani ini dengan kesungguhan hati Dewa dan Raja Naga yang baik akan menjelma menjadi orang yang budiman menunjukkan jalan keluar. Bila berada di hutan yang lebat tidak ada air dan api; Raja Naga akan melindungi dengan mengeluarkan air dan api”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avalokitesvara Bodhisattva bersabda lagi, “ Bagi orang yang membaca dengan penih dengan kesungguhan hati Maha Karuna Dharani ini dapat melenyapkan dan menghilangkan mara bahaya denga syair/gatha sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bila sedang berada di tengah-tengah hutan bertemu dengan harimau atau binatang buas, ular, kalajengking, setan-setan yang jahat, mendengar orang membaca Maha Karuna Dharani , binatang binatang ini tidak akan dapat mencelakakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bila sedang berlayar di lautan lepas, ular berbisa, binatang buas lainnya, yaksa, raksasa, binatang sejenis penyu lainnya, mendengar orang membaca Maha Karuna Dharani dengan sendirinya tidak berani menampakkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bila berada di dalam peperangan dikelilingi oleh para pencuri atau dirampok hartanya oleh orang jahat, dengan penuh ketulusan hati membaca Maha Karuna Dharani semuanya akan terbangkit jiwa yang penuh welas asih dan kembali ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bila tertangkap dan diborgol oleh Pejabat, dipenjara, dengan penuh ketulusan hati membaca Maha Karuna Dharani, pejabat tersebut akan memberikan pengampunan dan melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bila masuk ke rumah orang jahat, makanan yang sudah ada diberi racun, dengan penuh ketulusan membaca Maha Karuna Dharani, racun tersebut berubah menjadi bagaikan air yang sangat menyejukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bila terdapat orang yang sedang mengalami kesulitan dalam melahirkan, setan-setan yang jahat sudah tidak sabar lagi, dengan penuh kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani, setan-setan tersebut akan mundur,kelahiran akan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bila terserang penyakit menular, penyakit ini membawa ke ambang kematian dan dengan penuh kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani, sembuhlah penyakitnya dan memperoleh usia panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Keracunan yang menjalar yang menjadikan badannya bengkak, didalamnya berdarah dan bernana, sakitnya tidak bisa ditahan, dengan penuh kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani, tiga kali meludah, keracunan dan bengkaknya akan hilang/lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Makhluk-makhluk yang mempunyai sifat jahat dan tidak pernah berbuat baik, membenci dan memberikan guna guna kepada musuhnya, dengan penuh kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani, maka guna guna itu akan kembali kepada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kondisi kehidupan yang penuh kejahatan dan kekacauan, terbakar nafsu perzinahan yang menyesatkan, suami-istri melakukan perselingkuhan, siang malam tiada hentinya selalu muncul pikiran yang sesat, dengan penuh kesungguhan hati membaca Maha Karuna Dharani, batin yang sesat, nafsu perzinahan akan lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyebar luaskan jasa pahala dan kekuatan dari Maha Karuna Dharani ini, semua pujian keluar tanpa batas;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda bertanya kepada Buddha, Sang Bhagava, apa nama Dharani ini ? mengapa harus secara terus menerus membacanya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha menjelaskan kepada Nanda, demikian Dharani ini mempunyai bermacam macam nama; bernama Dharani Maha Sempurna ; bernama Dharani Maha Karuna tanpa batas ;bernama Dharani menolong penderitaan ;bernama Dharani dapat menambah umur; bernama Dharani pelenyap niat buruk ; bernama Dharani Penghapus Karma Buruk ;bernama Dharani Penyempurnaan Tekad ; bernama Dharani Batin Tanpa Keterikatan ; bernama Dharani Mempercepat Pencapaian Kesucian tertinggi, demikian harus terus menerus membacanya ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda bertanya kepada Buddha, Sang Bhagava, Bodhisattva Mahasattva ini bernama apa yang menyampaikan Dharani ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha bersabda, Bodhisattva ini bernama Avalokitesvara Bodhisattva, juga bernama Nian Su, juga bernama Mata Seribu bersinar ; Orang yang budiman, Avalokitesvara Bodhisattva ini mempunyai kekuatan kegaiban yang tidak terjangkau dengan pikiran, telah melewati kalpa tengah tanpa batas, telah menjadi seorang Buddha dengan gelar Saddharma Virya Tathagata, maha maitri dengan kekuatan tekadnya, mempunyai kemauan/tekad membangkitkan semua Bodhisattva, memberikan ketenangan dan membahagiakan semua makhluk dengan terlebih dahulu menjadi seorang Bodhisattva;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian semua para makhluk, semua Bodhisattva Mahasattva, Dewa Brahma, Naga dan para Dewa, semua harus menghormatinya, tidak boleh ragu-ragu, seluruh Dewa dan Manusia harus selalu memberikan puja, dengan sepenuh hati memuji namanya akan memperoleh rejeki yang tidak ada batasnya, melenyapkan semua karma buruk tanpa batas, pada saat meninggal dunia terlahir di Negri Buddha AMITABHA .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3373062771363800051-7737721303573863481?l=mantar-bodhicita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/feeds/7737721303573863481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3373062771363800051&amp;postID=7737721303573863481' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default/7737721303573863481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default/7737721303573863481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/2008/08/sedikit-info-tentang-mantram-maha.html' title='SEDIKIT INFO TENTANG MANTRAM MAHA KARUNA DHARANI'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3373062771363800051.post-8281413163909353436</id><published>2008-08-17T11:56:00.002-07:00</published><updated>2008-08-17T12:05:29.476-07:00</updated><title type='text'>Maha Karuna Dharani oleh Yang Mulia Tripitaka Acarya Hsuan Hua</title><content type='html'>ulasan mengenai Maha&lt;br /&gt;Karuna Dharani oleh Yang Mulia Tripitaka Acarya Hsuan Hua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum NA MWO HE LA DA NWO DWO LA YE YE berarti "berlindung&lt;br /&gt;kepada Tiga Permata yang tak terbatas di seluruh penjuru". Inilah&lt;br /&gt;tubuh sejati Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia. Meskipun&lt;br /&gt;merupakan tubuh sejati dari Sang Bodhisattva, kalimat ini juga&lt;br /&gt;mengandung makna, pergi berlindung kepada semua Buddha di seluruh&lt;br /&gt;penjuru di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Dengan&lt;br /&gt;mengucapkan baris mantra ini, tidak hanya kita yang menyatakan&lt;br /&gt;berlindung kepada Tiga Permata dari sepuluh penjuru yang tak&lt;br /&gt;terbatas, yang kekal; semua makhluk yang mendengar bahasa rahasia&lt;br /&gt;ini juga akan mempersembahkan hidup mereka dan tunduk dengan hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Tiga Permata tentu telah dimengerti. Permata Buddha, Permata&lt;br /&gt;Dharma, Permata Sangha. Semestinya diketahui bahwa Permata Buddha&lt;br /&gt;adalah benda paling agung dan mulia yang ada. Demikian juga, Permata&lt;br /&gt;Dharma dan Permata Sangha adalah yang paling agung dan paling&lt;br /&gt;terhormat. Tidak hanya di dunia, tapi bahkan di atas dunia; pada&lt;br /&gt;semua jalan ke surga dengan pencerapan maupun surga tanpa&lt;br /&gt;pencerapan, tidak ada yang lebih agung ataupun lebih terhormat&lt;br /&gt;dibandingkan dengan Tiga Permata Buddhadharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam Dharma dari para Buddha adalah yang tertinggi dari sepuluh alam&lt;br /&gt;Dharma. Oleh karena itu kita harus pergi berlindung dengan sepenuh&lt;br /&gt;hati kepada Tiga Permata yang paling mulia. Dan dengan keyakinan&lt;br /&gt;yang dalam dan luas, menerima-Nya dengan penuh bakti, tanpa setitik&lt;br /&gt;pun debu keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mungkin bertanya, „Apa untungnya berlindung kepada Sang&lt;br /&gt;Buddha?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling sedikit, paling sedikit, jika seseorang berlindung kepada&lt;br /&gt;Buddha, ia tidak akan jatuh ke neraka; jika berlindung kepada&lt;br /&gt;Dharma, ia tidak akan menjadi hantu kelaparan, dan jika berlindung&lt;br /&gt;kepada Sangha, ia tidak akan menjadi binatang. Namun ini tentunya&lt;br /&gt;dengan catatan: semua itu diikuti dengan menjalankan semua perbuatan&lt;br /&gt;bajik sesuai dengan ajaran. Jika ia tetap membunuh, mencuri,&lt;br /&gt;menjalankan perilaku seks yang salah, berbohong, atau meminum&lt;br /&gt;minuman keras, membakar rumah, melakukan apapun yang disenangi,&lt;br /&gt;seperti sebelumnya, ia tidak akan dapat melarikan diri dari tiga&lt;br /&gt;nasib jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Buddhadharma, tidak ada itu yang namanya basa-basi. Orang&lt;br /&gt;tidak bisa berkata, „Saya telah berlindung kepada Buddha, Dharma,&lt;br /&gt;dan Sangha, dan karenanya saya tidak akan jatuh ke neraka, tidak&lt;br /&gt;akan menjadi hantu kelaparan, ataupun binatang. Karenanya, saya&lt;br /&gt;boleh berbuat apapun yang saya sukai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Kebiasaan buruk harus diubah. Perbuatan bajik harus&lt;br /&gt;dilaksanakan. Jangan lagi melakukan perbuatan jahat. Orang pasti&lt;br /&gt;akan masuk ke neraka jika terus menanam karma buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Buddha bukan seperti agama eksternal yang menyatakan, „Semua&lt;br /&gt;yang perlu kamu lakukan adalah percaya. Jika kamu percaya, meskipun&lt;br /&gt;kamu berbuat jahat, kamu akan diberi tempat di surga. Sebaliknya,&lt;br /&gt;jika kamu tidak percaya, walau berlimpah dengan kebajikan dan buah-&lt;br /&gt;buah jasa baik, kamu harus ke neraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ada orang percaya kepada Buddha, tetapi ia tetap berbuat&lt;br /&gt;kejahatan, tak ada pilihan lain, ia akan singgah di neraka. Juga&lt;br /&gt;seandainya, ada orang yang tidak mempercayai adanya Buddha, jika&lt;br /&gt;berlimpah kebajikan dan buah-buah jasa baik, ia tetap akan&lt;br /&gt;mendapatkan surga. Doktrin di dalam agama Buddha tidak&lt;br /&gt;membingungkan, tidak ada kata-kata, „Jika kamu percaya kepada&lt;br /&gt;Buddha, semuanya akan beres." Meskipun telah percaya kepada Buddha,&lt;br /&gt;orang tetap harus tidak berbuat jahat, karena jika berbuat jahat, ia&lt;br /&gt;akan ke neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Baiklah kalau begitu," barangkali ada yang nyeletuk, „lalu, untuk&lt;br /&gt;apa kita berlindung kepada Tiga Permata kalau toh nantinya juga&lt;br /&gt;harus masuk neraka?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berlindung, kita mengubah perbuatan jahat, dan beralih kepada&lt;br /&gt;kebajikan. Perbaikilah kesalahan yang telah dilakukan, jadilah orang&lt;br /&gt;yang baru sama sekali. Sejak menyatakan berlindung, teruslah berbuat&lt;br /&gt;kebajikan dan tidak lagi berbuat jahat. Maka manfaat yang tak&lt;br /&gt;terukur akan datang menghampiri. Oleh karena itu, NA MWO HE LA DA&lt;br /&gt;NWO DWO LA YE YE artinya tidak lain tidak bukan, "Berlindung kepada&lt;br /&gt;Tiga Permata yang tidak terbatas, tidak terbatas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengucapkan baris pertama dari mantra ini, segala macam&lt;br /&gt;bencana akan terkikis. Pada saat-saat kritis, jika orang terus-&lt;br /&gt;menerus mengucapkan NA MWO HE LA DA NWO DWO LA YE YE, segala macam&lt;br /&gt;bencana akan menyingkir. Bencana besar akan menjadi kecil, dan&lt;br /&gt;bencana kecil akan sama sekali hilang. Inilah yang disebut „Dharma&lt;br /&gt;Untuk Mengikis Bencana", satu di antara Lima Dharma Esoterik*.&lt;br /&gt;*Kelima Dharma itu adalah:&lt;br /&gt;a.      Mengikis Bencana&lt;br /&gt;b.      Menambah Manfaat&lt;br /&gt;c.      Pencapaian&lt;br /&gt;d.      Membuat Takluk&lt;br /&gt;e.      Mengumpulkan dan Menangkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, pengulangan bacaan ini juga merupakan „Dharma Untuk&lt;br /&gt;Menambah Manfaat". Jika orang yang telah memiliki akar yang baik&lt;br /&gt;mengucapkan mantra ini, akar baiknya akan bertambah dan berkah yang&lt;br /&gt;diterimanya akan semakin berlimpah-limpah. Inilah „Dharma Untuk&lt;br /&gt;Menambah Manfaat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Mantra Welas Asih Agung dapat dilafalkan, meskipun cuma baris&lt;br /&gt;yang pertama, itu disebut „Dharma Pencapaian". Apapun yang diidamkan&lt;br /&gt;di dalam hati, apapun yang didambakan, akan tercapai; semua harapan&lt;br /&gt;akan terkabul. Orang yang mengucapkan mantra ini dengan sepenuh dan&lt;br /&gt;setulus hati akan berhasil dalam apapun yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, jika ada orang yang tidak memiliki putra dan&lt;br /&gt;berharap mendapatkannya, ia cuma perlu mengucapkan NA MWO HE LA DA&lt;br /&gt;NWO DWO LA YE YE, dan ia akan memperoleh seorang putra. Namun mantra&lt;br /&gt;ini harus dinyatakan dengan hati yang tulus, dan tidak cuma untuk&lt;br /&gt;satu atau dua hari. Paling sedikit mantra ini harus diucapkan selama&lt;br /&gt;tiga tahun. Jika orang tak memiliki teman, dan berharap mendapatkan&lt;br /&gt;seorang sahabat sejati, ucapkan saja NA MWO HE LA DA NWO DWO LA YE&lt;br /&gt;YE, dan seorang sahabat sejati akan datang padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seluruh mantra ini dapat dinyatakan, baik sekali. Jika tidak,&lt;br /&gt;nyatakan saja kalimat pertama, dan itu pun akan mendatangkan&lt;br /&gt;keberhasilan yang tak terukur, pencapaian kebajikan dan buah-buah&lt;br /&gt;jasa baik yang tak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat mantra ini juga adalah „Dharma Untuk Membuat Takluk". Ia&lt;br /&gt;menyebabkan makhluk-makhluk surga dan mereka yang berasal dari agama&lt;br /&gt;lain takluk ketika mendengarnya. Kalimat ini, bagaimanapun juga&lt;br /&gt;bukanlah suatu „Dharma Untuk mengumpulkan dan Menangkap". Jika suatu&lt;br /&gt;mantra „Dharma Untuk Mengumpulkan dan Menangkap" diucapkan, semua&lt;br /&gt;makhluk aneh dan semua setan akan dikumpulkan dan diikat menjadi&lt;br /&gt;satu. Sehingga, kekuatan dari satu kalimat ini saja, NA MWO HE LA DA&lt;br /&gt;NWO DWO LA YE YE, sungguh tak terperikan. Jika harus diuraikan&lt;br /&gt;dengan rinci, akan tak ada habis-habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO berarti „mengembalikan hidup dan tunduk dengan sepenuh hati".&lt;br /&gt;HE LA DA NWO artinya „permata". DWO LA YE adalah „tiga". YE&lt;br /&gt;itu „penghormatan". Bersama-sama, kata-kata ini mengandung arti kita&lt;br /&gt;harus mempersembahkan tubuh, hati, hakikat, dan hidup kita kepada&lt;br /&gt;Tiga Permata yang tidak terbatas, tidak terbatas, di seluruh penjuru&lt;br /&gt;dari ketiga jaman, dan berlindung kepada Mereka. Kita harus bersujud&lt;br /&gt;dengan khidmat kepada Tiga Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha-Buddha di masa lalu tidak terbatas, Buddha-Buddha di masa&lt;br /&gt;sekarang juga tidak terbatas, dan Buddha-Buddha di masa yang akan&lt;br /&gt;datang tidak terbatas. Sehingga Tiga Permata itu tidak terbatas,&lt;br /&gt;tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Na Mwo E Li Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO, seperti yang telah dijelaskan, bermakna „mempersembahkan&lt;br /&gt;hidup dan tunduk dengan hormat", atau dengan kata lain, belajar&lt;br /&gt;dengan penghormatan tertinggi di bawah kaki para Buddha dan&lt;br /&gt;Bodhisattva. E LI artinya „yang bijaksana", juga dapat&lt;br /&gt;berarti, „jauh dari semua kejahatan dan semua Dharma yang tidak&lt;br /&gt;baik". Orang mesti menjauhkan diri dari semua Dharma yang tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pwo Lu Jye Di Shau Bwo La Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PWO LU JYE DI mempunyai arti "merenungkan". Yang lain&lt;br /&gt;menerjemahkannya sebagai `terang', seperti di dalam kata&lt;br /&gt;Vairocana, "cahaya terang yang menyinari semesta alam". Kata-kata&lt;br /&gt;ini juga diterjemahkan sebagai "yang direnungkan dan diselidiki",&lt;br /&gt;yang dimaksud di sini adalah alam-alam yang diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHAU BWO LA YE artinya "kebahagiaan". Keseluruhan kalimat ini dengan&lt;br /&gt;demikian bisa diartikan sebagai „kebahagiaan kontemplatif" tiada&lt;br /&gt;lain tiada bukan, Bodhisattva Avalokitesvara, Bodhisattva Yang&lt;br /&gt;Mendengarkan Suara Dunia.&lt;br /&gt;4. Pu Ti Sa Two Pe Ye&lt;br /&gt;Setiap orang tahu bahwa PU TI adalah Bodhi, "pencerahan". SA TWO&lt;br /&gt;berarti "menyeberangkan", seperti di dalam anak&lt;br /&gt;kalimat `menyeberangkan makhluk hidup'. PU TI SA TWO PE YE&lt;br /&gt;menyatakan bahwa para Bodhisattva mencerahkan dan menyeberangkan&lt;br /&gt;diri mereka. Mereka membangunkan diri mereka dan menyeberangkan&lt;br /&gt;hakikat diri mereka. PE YE masih tetap berarti „bersujud memberi&lt;br /&gt;hormat". YE itu adalah „meletakkan kepala di atas tanah untuk&lt;br /&gt;menghormat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang dihormati? Orang memberi hormat kepada Bodhisattva yang&lt;br /&gt;telah mencerahkan dirinya sendiri dan membawa dirinya menyeberang.&lt;br /&gt;Di dalam penjelasan mantra ini, dikatakan bahwa kalimat ini menunjuk&lt;br /&gt;kepada Bodhisattva Tali Tidak Kosong yang memimpin pasukan makhluk&lt;br /&gt;halus. Ketika baris mantra ini diucapkan, Bodhisattva Tali Tidak&lt;br /&gt;Kosong mengutus pasukan surga dan panglima surga melindungi orang&lt;br /&gt;yang mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mwo He Sa Two Pe Ye&lt;br /&gt;MWO HE memiliki tiga arti: "agung", "banyak", dan "jaya". MWO HE:&lt;br /&gt;Mereka yang telah memunculkan hati Bodhi agung. MWO HE: Banyak orang&lt;br /&gt;yang telah memunculkan hati Bodhi agung. MWO HE: Orang banyak yang&lt;br /&gt;telah memunculkan hati Bodhi agung itu semuanya telah mendapatkan&lt;br /&gt;pencapaian; semuanya telah jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SA TWO di sini mempunyai arti yang berbeda dari arti sebelumnya.&lt;br /&gt;Dalam baris sebelumnya kata ini berarti „menyeberangkan", namun di&lt;br /&gt;sini SA TWO mengandung arti „ia yang pahlawan", yakni ia yang gagah&lt;br /&gt;berani, dan tanpa takut. SA TWO juga berarti „ia yang penuh&lt;br /&gt;semangat", dan menunjukkan mereka yang berlatih dengan gigih dan&lt;br /&gt;maju dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE YE sekali lagi berarti „menghormat". Bersama-sama, kalimat ini&lt;br /&gt;menjadi: „Saya bersujud menghormat kepada Bodhisattva agung yang&lt;br /&gt;tanpa takut dan penuh semangat, dan yang telah memunculkan hati&lt;br /&gt;Bodhi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Bodhisattva mencerahkan diri mereka dan membawa diri mereka&lt;br /&gt;menyeberang; mereka juga mencerahkan orang lain dan membawa mereka&lt;br /&gt;menyeberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mwo He Jya Lu Ni Jya Ye&lt;br /&gt;MWO HE sekali lagi berarti "agung, banyak, dan jaya". JYA LU&lt;br /&gt;artinya „welas asih". NI JYA adalah "hati". Bersama-sama kalimat ini&lt;br /&gt;berarti, "hati welas asih agung". YE mempunyai makna „menghormat".&lt;br /&gt;Artinya, kita harus bersujud menghormat kepada Mantra Semangat&lt;br /&gt;Dharani Hati Welas Asih Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Nan&lt;br /&gt;NAN Bermakna „bunda asal". Bunda asal juga bisa berarti „bunda&lt;br /&gt;mantra", dan „bunda Buddha". Bunda Buddha adalah ibu dari hati semua&lt;br /&gt;makhluk hidup, karena hati dari semua makhluk hidup mengandung semua&lt;br /&gt;kebijaksanaan dari bunda asal. Melalui kekuatan mantra ini, sepuluh&lt;br /&gt;macam pintu Dharma terbuka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah „kata-kata". Yang kedua adalah „anak kalimat".&lt;br /&gt;Yang ketiga adalah „merenungkan", yakni orang yang menggunakan&lt;br /&gt;kontemplasi dan pengamatan untuk berlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang keempat adalah „kebijaksanaan". Dengan menggunakan pedang&lt;br /&gt;kebijaksanaan orang mengikis habis semua penderitaan. Kebijaksanaan&lt;br /&gt;menunjuk kepada pintu Prajna Paramita, penyempurnaan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;Kontemplasi atau perenungan menunjuk kepada pintu Dhyana Paramita,&lt;br /&gt;penyempurnaan meditasi Dhyana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kelima adalah „latihan". Orang berkembang dan berlatih sesuai&lt;br /&gt;dengan Dharma. Yang keenam adalah „sumpah". Orang harus bersumpah&lt;br /&gt;untuk mengembangkan pintu Dharma ini. Yang ketujuh adalah „ajaran".&lt;br /&gt;Orang harus bersumpah untuk berlatih sesuai dengan ajaran Sang&lt;br /&gt;Buddha. Jika tidak berlatih selaras dengannya, maka meskipun telah&lt;br /&gt;berlatih selama masa ribuan tahun sebanyak pasir di Sungai Gangga,&lt;br /&gt;ia tetap tidak akan berhasil. Seumpama memasak pasir dan berharap&lt;br /&gt;pasir itu menjadi nasi; hal seperti itu tak akan pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk bisa berlatih selaras dengan ajaran Sang Buddha, orang&lt;br /&gt;pertama-tama harus memahami „doktrin". Sehingga yang kedelapan&lt;br /&gt;adalah „doktrin", yaitu prinsip Jalan. Jika menyatu dengan doktrin&lt;br /&gt;Buddhadharma yang menakjubkan, ia akan mendapatkan pengertian. Jika&lt;br /&gt;tidak, ia akan berlatih secara membuta, dan berlatih di dalam gelap.&lt;br /&gt;Biar selama apapun ia berlatih, tak akan ada hasil yang dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kesembilan adalah „sebab". Orang harus menanam suatu sebab yang&lt;br /&gt;baik, suatu benih yang terbaik, suatu sebab yang luhur. Maka di masa&lt;br /&gt;yang akan datang ia bisa memetik buah yang masak, buah yang ajaib,&lt;br /&gt;dan buah yang terbaik, buah dari pencerahan tertinggi. Sehingga&lt;br /&gt;dengan demikian, yang kesepuluh adalah „buah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kata NAN melahirkan sepuluh pintu kepada Dharma yang&lt;br /&gt;menakjubkan. Pada saat Mantra Welas Asih Agung dinyatakan dan NAN&lt;br /&gt;disebutkan, semua hantu dan makhluk halus akan mengatupkan kedua&lt;br /&gt;belah telapak tangan mereka. Mereka sungguh merasa hormat dan tidak&lt;br /&gt;berani mengendur atau menjadi malas tatkala mendengar ada orang yang&lt;br /&gt;mengucapkan Mantra Welas Asih Agung. Kata NAN ini sedemikian kuatnya&lt;br /&gt;sehingga, baik hantu, makhluk halus, setan, semuanya harus mengikuti&lt;br /&gt;aturan. NAN menyebabkan semua hantu dan makhluk halus dengan khidmat&lt;br /&gt;mendengarkan pengucapan mantra, dengan kedua telapak tangan terkatup.&lt;br /&gt;8. Sa Pan La Fa Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SA PAN LA artinya „ahli". Pada saat kalimat ini disebutkan, Empat&lt;br /&gt;Raja Surga datang sebagai pelindung Dharma bagi orang yang&lt;br /&gt;mengucapkannya. FA YE berarti "dihormati dunia" atau "dihormati&lt;br /&gt;orang suci". Kata ini menyatakan Ia Yang Ahli Yang Dihormati Dunia,&lt;br /&gt;Ia Yang Ahli Yang Dihormati Orang Suci: Buddha yang ahli. Kalimat&lt;br /&gt;ini menunjuk kepada Permata Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Swo Da Nwo Da Sye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang membaca kata pertama baris ini sebagai „shu", tapi&lt;br /&gt;ia harus dibaca „swo". SWO DA NWO berarti "Dharma". Dharma apa? Ini&lt;br /&gt;adalah „tempat dengan kemenangan ajaib", „Dharma kemenangan ajaib".&lt;br /&gt;SWO DA NWO juga berarti „mulia, teragung, dan muncul dari&lt;br /&gt;kemenangan". Tidak ada yang lebih mulia daripada Dharma ini, dan&lt;br /&gt;tidak ada yang lebih agung, ia berasal dari kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interpretasi lain adalah „tubuh jaya, yang muncul dengan ajaib".&lt;br /&gt;Pemunculan seperti ini halus dan ajaib; tubuhnya membawa kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah satu cara untuk menerjemahkan SWO DA NWO. Diterjemahkan&lt;br /&gt;dengan cara lain, SWO DA NWO dapat menjadi „tingkat kendaraan paling&lt;br /&gt;agung", menunjuk kepada alam di mana orang telah mencapai tingkat&lt;br /&gt;kesepuluh Kebodhisattvaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DA SYE menyatakan Permata Sangha. SA PAN LA FA YE mewakili Permata&lt;br /&gt;Buddha. SWO DA NWO menyatakan Permata Dharma. Dengan demikian,&lt;br /&gt;keseluruhan kalimat menunjuk kepada Tiga Permata. Ini artinya kita&lt;br /&gt;harus meminta perlindungan Tiga Permata. Dengan mengucapkan mantra&lt;br /&gt;ini, kita meminta pertolongan Tiga Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DA SYE artinya menggunakan doktrin ajaran untuk mengendalikan semua&lt;br /&gt;hantu dan makhluk halus, dan menggunakan mantra untuk mengumpulkan&lt;br /&gt;mereka, atau dengan kata lain, "membabarkan ajaran dan mengumpulkan&lt;br /&gt;dengan mantra".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Na Mwo Syi Ji Li Two Yi Meng E Li Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO, NA MWO lagi dan lagi. Kelihatannya kita selalu mengucapkan&lt;br /&gt;NA MWO kepada orang lain dan tidak pernah untuk diri sendiri. Mereka&lt;br /&gt;yang mengembangkan Jalan harus mengatakan NA MWO kepada diri mereka&lt;br /&gt;sendiri dan tidak hanya berlindung kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO berarti bahwa saya, saya sendiri, berlindung kepada Tiga&lt;br /&gt;Permata dari seluruh penjuru yang tidak terbatas, tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI JI LI berarti "seluruhnya, sepenuh hati", "dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;menghormat". TWO YI MENG artinya „saya", „saya dari yang tanpa&lt;br /&gt;saya". Jadi orang memberi hormat kepada diri sendiri, tetapi kepada&lt;br /&gt;diri yang "tanpa diri". Bagaimana mungkin bisa tanpa diri? Jika ada&lt;br /&gt;orang yang memukul, kita tidak merasa sakit; jika mereka memaki,&lt;br /&gt;kita tidak merasa marah. Jika mereka menghina, seolah-olah tidak&lt;br /&gt;terjadi apa-apa. Kita bahkan tidak perlu berusaha sabar, karena jika&lt;br /&gt;berusaha mempraktekkan kesabaran, kita telah jatuh ke posisi kedua.&lt;br /&gt;Di sini, tidak diperlukan kesabaran, karena pada dasarnya tidak&lt;br /&gt;terdapat kesabaran untuk digunakan, dan tidak ada orang untuk&lt;br /&gt;menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E LI YE bermakna, „yang bijaksana". Jadi orang dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;bersujud menghormati „saya", yang bijaksana. Semua Bodhisattva,&lt;br /&gt;Mahasattva, semua dewa dan naga, dan semua Delapan Ruas Bagian&lt;br /&gt;makhluk gaib harus menghormat kepada yang bijaksana, „saya"&lt;br /&gt;dari „yang tanpa saya". Banyak sekali yang bijaksana ini. Siapakah&lt;br /&gt;mereka? Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Pe Lu Ji Di Shr Fwo La Leng Two Pe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE LU JI DI mempunyai makna „merenungkan". SHR FWO LA&lt;br /&gt;berarti "bahagia", atau "suara dunia". Ini persis adalah Bodhisattva&lt;br /&gt;Yang Memperhatikan Suara Dunia. Namun tidak mesti hanya Bodhisattva&lt;br /&gt;Yang Memperhatikan Suara Dunia yang bahagia di dalam perenungan, dan&lt;br /&gt;yang merenungkan suara-suara dunia. Jika orang dapat membahagiakan,&lt;br /&gt;jika ia dapat menjadi ahli dan menyelamatkan makhluk hidup, maka ia&lt;br /&gt;adalah Bodhisattva. Bukan merupakan keharusan, bahwa hanya&lt;br /&gt;Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia yang merupakan seorang&lt;br /&gt;Bodhisattva. Jika ada orang yang dapat menguasai Dharma, maka ia&lt;br /&gt;pun, ia sendiri, merupakan penjelmaan dari Bodhisattva tersebut;&lt;br /&gt;jika saya menguasainya, saya merupakan penjelmaan dari Sang&lt;br /&gt;Bodhisattva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LENG TWO PE berarti "sebuah pulau di atas laut". Ini menunjukkan&lt;br /&gt;Gunung Potala di mana Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia&lt;br /&gt;tinggal, gunung P'u T'o di Tiongkok. Potala mempunyai arti "bunga-&lt;br /&gt;bunga putih kecil" karena ia ditutupi oleh kembang-kembang putih&lt;br /&gt;kecil. Terdapat sebuah istana di sana yang terbuat dari batu. Istana&lt;br /&gt;ini disebuat "Istana Kasih Welas Asih". Di sinilah Bodhisattva&lt;br /&gt;tinggal. Tempat ini seindah istana surga dan dibuat dari tujuh&lt;br /&gt;permata: emas, perak, batu lazuli, kristal, indung mutiara, mutiara&lt;br /&gt;merah, dan karnelian. Namun tidaklah mudah untuk bisa menginjakkan&lt;br /&gt;kaki di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE LU JYE DI SHR FWO LA adalah ia yang welas asih. LENG TWO PE&lt;br /&gt;adalah istana welas asih tempat Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara&lt;br /&gt;Dunia tinggal.&lt;br /&gt;8. Sa Pan La Fa Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SA PAN LA artinya „ahli". Pada saat kalimat ini disebutkan, Empat&lt;br /&gt;Raja Surga datang sebagai pelindung Dharma bagi orang yang&lt;br /&gt;mengucapkannya. FA YE berarti "dihormati dunia" atau "dihormati&lt;br /&gt;orang suci". Kata ini menyatakan Ia Yang Ahli Yang Dihormati Dunia,&lt;br /&gt;Ia Yang Ahli Yang Dihormati Orang Suci: Buddha yang ahli. Kalimat&lt;br /&gt;ini menunjuk kepada Permata Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Swo Da Nwo Da Sye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang membaca kata pertama baris ini sebagai „shu", tapi&lt;br /&gt;ia harus dibaca „swo". SWO DA NWO berarti "Dharma". Dharma apa? Ini&lt;br /&gt;adalah „tempat dengan kemenangan ajaib", „Dharma kemenangan ajaib".&lt;br /&gt;SWO DA NWO juga berarti „mulia, teragung, dan muncul dari&lt;br /&gt;kemenangan". Tidak ada yang lebih mulia daripada Dharma ini, dan&lt;br /&gt;tidak ada yang lebih agung, ia berasal dari kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interpretasi lain adalah „tubuh jaya, yang muncul dengan ajaib".&lt;br /&gt;Pemunculan seperti ini halus dan ajaib; tubuhnya membawa kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah satu cara untuk menerjemahkan SWO DA NWO. Diterjemahkan&lt;br /&gt;dengan cara lain, SWO DA NWO dapat menjadi „tingkat kendaraan paling&lt;br /&gt;agung", menunjuk kepada alam di mana orang telah mencapai tingkat&lt;br /&gt;kesepuluh Kebodhisattvaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DA SYE menyatakan Permata Sangha. SA PAN LA FA YE mewakili Permata&lt;br /&gt;Buddha. SWO DA NWO menyatakan Permata Dharma. Dengan demikian,&lt;br /&gt;keseluruhan kalimat menunjuk kepada Tiga Permata. Ini artinya kita&lt;br /&gt;harus meminta perlindungan Tiga Permata. Dengan mengucapkan mantra&lt;br /&gt;ini, kita meminta pertolongan Tiga Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DA SYE artinya menggunakan doktrin ajaran untuk mengendalikan semua&lt;br /&gt;hantu dan makhluk halus, dan menggunakan mantra untuk mengumpulkan&lt;br /&gt;mereka, atau dengan kata lain, "membabarkan ajaran dan mengumpulkan&lt;br /&gt;dengan mantra".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Na Mwo Syi Ji Li Two Yi Meng E Li Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO, NA MWO lagi dan lagi. Kelihatannya kita selalu mengucapkan&lt;br /&gt;NA MWO kepada orang lain dan tidak pernah untuk diri sendiri. Mereka&lt;br /&gt;yang mengembangkan Jalan harus mengatakan NA MWO kepada diri mereka&lt;br /&gt;sendiri dan tidak hanya berlindung kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO berarti bahwa saya, saya sendiri, berlindung kepada Tiga&lt;br /&gt;Permata dari seluruh penjuru yang tidak terbatas, tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI JI LI berarti "seluruhnya, sepenuh hati", "dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;menghormat". TWO YI MENG artinya „saya", „saya dari yang tanpa&lt;br /&gt;saya". Jadi orang memberi hormat kepada diri sendiri, tetapi kepada&lt;br /&gt;diri yang "tanpa diri". Bagaimana mungkin bisa tanpa diri? Jika ada&lt;br /&gt;orang yang memukul, kita tidak merasa sakit; jika mereka memaki,&lt;br /&gt;kita tidak merasa marah. Jika mereka menghina, seolah-olah tidak&lt;br /&gt;terjadi apa-apa. Kita bahkan tidak perlu berusaha sabar, karena jika&lt;br /&gt;berusaha mempraktekkan kesabaran, kita telah jatuh ke posisi kedua.&lt;br /&gt;Di sini, tidak diperlukan kesabaran, karena pada dasarnya tidak&lt;br /&gt;terdapat kesabaran untuk digunakan, dan tidak ada orang untuk&lt;br /&gt;menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E LI YE bermakna, „yang bijaksana". Jadi orang dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;bersujud menghormati „saya", yang bijaksana. Semua Bodhisattva,&lt;br /&gt;Mahasattva, semua dewa dan naga, dan semua Delapan Ruas Bagian&lt;br /&gt;makhluk gaib harus menghormat kepada yang bijaksana, „saya"&lt;br /&gt;dari „yang tanpa saya". Banyak sekali yang bijaksana ini. Siapakah&lt;br /&gt;mereka? Saya akan menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Pe Lu Ji Di Shr Fwo La Leng Two Pe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE LU JI DI mempunyai makna „merenungkan". SHR FWO LA&lt;br /&gt;berarti "bahagia", atau "suara dunia". Ini persis adalah Bodhisattva&lt;br /&gt;Yang Memperhatikan Suara Dunia. Namun tidak mesti hanya Bodhisattva&lt;br /&gt;Yang Memperhatikan Suara Dunia yang bahagia di dalam perenungan, dan&lt;br /&gt;yang merenungkan suara-suara dunia. Jika orang dapat membahagiakan,&lt;br /&gt;jika ia dapat menjadi ahli dan menyelamatkan makhluk hidup, maka ia&lt;br /&gt;adalah Bodhisattva. Bukan merupakan keharusan, bahwa hanya&lt;br /&gt;Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia yang merupakan seorang&lt;br /&gt;Bodhisattva. Jika ada orang yang dapat menguasai Dharma, maka ia&lt;br /&gt;pun, ia sendiri, merupakan penjelmaan dari Bodhisattva tersebut;&lt;br /&gt;jika saya menguasainya, saya merupakan penjelmaan dari Sang&lt;br /&gt;Bodhisattva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LENG TWO PE berarti "sebuah pulau di atas laut". Ini menunjukkan&lt;br /&gt;Gunung Potala di mana Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia&lt;br /&gt;tinggal, gunung P'u T'o di Tiongkok. Potala mempunyai arti "bunga-&lt;br /&gt;bunga putih kecil" karena ia ditutupi oleh kembang-kembang putih&lt;br /&gt;kecil. Terdapat sebuah istana di sana yang terbuat dari batu. Istana&lt;br /&gt;ini disebuat "Istana Kasih Welas Asih". Di sinilah Bodhisattva&lt;br /&gt;tinggal. Tempat ini seindah istana surga dan dibuat dari tujuh&lt;br /&gt;permata: emas, perak, batu lazuli, kristal, indung mutiara, mutiara&lt;br /&gt;merah, dan karnelian. Namun tidaklah mudah untuk bisa menginjakkan&lt;br /&gt;kaki di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE LU JYE DI SHR FWO LA adalah ia yang welas asih. LENG TWO PE&lt;br /&gt;adalah istana welas asih tempat Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara&lt;br /&gt;Dunia tinggal.&lt;br /&gt;12. Na Mwo Nwo La Jin Chr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam baris ini NA MWO masih bermakna "berlindung"&lt;br /&gt;dan "mempersembahkan hidup dan tunduk dengan hormat". NWO LA&lt;br /&gt;mempunyai arti „yang mulia", dan JIN CHR berarti „kasih", yakni&lt;br /&gt;kasih dalam arti perlindungan kasih sayang yang penuh welas asih.&lt;br /&gt;Sebelumnya saya telah menjelaskan sepuluh hati dari Sutra yang&lt;br /&gt;merupakan wajah dari mantra ini: kita harus mengandalkan sepuluh&lt;br /&gt;hati ini di dalam berlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NWO LA JIN CHR „perlindungan yang baik dari ia yang penuh kasih&lt;br /&gt;sayang dan mulia", menunjuk kepada yang pertama, keenam, dan yang&lt;br /&gt;terakhir dari sepuluh hati, yaitu, Hati Welas Asih Agung, Hati Yang&lt;br /&gt;Menghormati, dan Hati Bodhi Yang Tak Tertandingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Syi Li Mwo He Pan Dwo Sa Mye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI LI berarti "hati". Hati yang mana ini? Ini adalah hati yang&lt;br /&gt;keempat dari sepuluh hati, Hati Yang Tak Ternoda dan Tak Melekat,&lt;br /&gt;yang mengajarkan kepada kita untuk mempertahankan hati yang murni,&lt;br /&gt;luhur, dan tak ternoda. Hati kita dicemari oleh pikiran-pikiran&lt;br /&gt;keserakahan, kebencian, kebodohan, keangkuhan, dan keraguan. Tanpa-&lt;br /&gt;pikiran-pikiran seperti itu, hati kita tidak ternoda. MWO HE tetap&lt;br /&gt;bermakna „agung". PAN DWO SA MYE, apa artinya ini? PAN DWO SA MYE&lt;br /&gt;mempunyai arti "cahaya terang agung". MWO HE juga bisa&lt;br /&gt;berarti "panjang". PAN DWO SA MYE dengan demikian berarti "terang&lt;br /&gt;yang bersinar lama", terang yang terus menerus memancarkan cahaya&lt;br /&gt;terang benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukar sekali adanya kesempatan untuk bertemu dengan orang yang dapat&lt;br /&gt;menjelaskan Mantra Welas Asih Agung. Sebenarnya, untuk bersikap&lt;br /&gt;benar-benar jujur, tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana&lt;br /&gt;menjelaskannya; tidak ada seorang pun yang tahu, pada akhirnya, apa&lt;br /&gt;itu Mantra Welas Asih Agung, atau bagaimana cara menerjemahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian mungkin bertanya, „Kalau demikian halnya, bagaimana engkau&lt;br /&gt;bisa tahu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanya bagaimana saya tahu. Saya tidak bertanya pada kalian,&lt;br /&gt;jadi kalian juga jangan bertanya pada saya. Bagaimana saya&lt;br /&gt;mengetahuinya? Tentu saja, saya tahu. Jika saya tidak tahu, saya&lt;br /&gt;mana bisa menjelaskannya pada kalian. Jadi jangan tanya bagaimana&lt;br /&gt;saya tahu. Daripada bertanya pada saya bagaimana saya tahu, tanyalah&lt;br /&gt;pada diri kalian sendiri, bagaimana kalian bisa tidak tahu. Jika&lt;br /&gt;kalian tahu mengapa kalian tidak tahu, maka kalian akan tahu&lt;br /&gt;bagaimana saya bisa tahu. Sebaliknya, jika kalian tidak tahu mengapa&lt;br /&gt;kalian tidak tahu, kalian tidak akan bisa tahu bagaimana saya bisa&lt;br /&gt;tahu. Inilah yang membuatnya indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ada orang bertanya pada saya, "Mengapa engkau meninggalkan&lt;br /&gt;kehidupan berumahtangga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menjawab pertanyaannya. Sebaliknya saya bertanya&lt;br /&gt;kembali, "Mengapa engkau tidak meninggalkan kehidupan berumahtangga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalian tahu mengapa kalian tidak meninggalkan kehidupan&lt;br /&gt;berumahtangga, kalian akan tahu mengapa saya meninggalkannya. Inilah&lt;br /&gt;prinsipnya. Daripada bertanya pada saya bagaimana saya bisa&lt;br /&gt;mengerti, tanyalah pada diri kalian mengapa kalian tidak mengerti.&lt;br /&gt;Pada waktu kalian tahu mengapa kalian tidak mengerti, pada waktu itu&lt;br /&gt;juga kalian akan tahu mengapa saya mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dari kalian yang berkesempatan mendengarkan penjelasan Mantra&lt;br /&gt;Welas Asih Agung memiliki akar yang baik. Namun kalian harus&lt;br /&gt;melindungi akar baik itu dan merawatnya dengan hati-hati.&lt;br /&gt;Manfaatkanlah akar baik ini, yang harus kembali ke masa yang sangat&lt;br /&gt;panjang, untuk mempelajari Buddhadharma, dan jangan membiarkan satu&lt;br /&gt;saat pun terbuang percuma. Jangan lupa bahwa waktu tidak menunggu&lt;br /&gt;manusia. Begitu hari ini berlalu, kalian tidak dapat meraihnya&lt;br /&gt;kembali. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya untuk mempelajari&lt;br /&gt;Buddhadharma Yang Tak Tertandingi; jika kalian membiarkan waktu&lt;br /&gt;berlalu, kalian tidak akan pernah bisa memahami Buddhadharma, kalian&lt;br /&gt;cuma akan menghabiskan waktu dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAN DWO SA MYE, „cahaya agung terang" atau „terang yang bersinar&lt;br /&gt;lama", berkaitan dengan hati yang kelima, Perenungan Hati Kosong.&lt;br /&gt;Melalui Perenungan pada Kesunyaan, orang memperoleh kebijaksanaan.&lt;br /&gt;Dengan kebijaksanaan, orang mendapatkan cahaya terang, dan dengan&lt;br /&gt;cahaya terang ia memperoleh terang yang bersinar lama, dan menjadi&lt;br /&gt;tidak memiliki „yang tidak terang", atau „ketidaktahuan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kalian tidak tahu? Karena kalian tidak mempunyai terang yang&lt;br /&gt;bersinar lama. Kalian tidak mempunyai terang yang bersinar lama&lt;br /&gt;karena kalian tidak memiliki cahaya terang. Jika kalian memiliki&lt;br /&gt;cahaya terang, kalian bisa mendapatkan terang yang bersinar lama,&lt;br /&gt;dan dengan itu kalian bisa menghancurkan ketidaktahuan.&lt;br /&gt;14. Sa Pe E Two Dou Shu Peng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat dari mantra ini dibagi tiga dan jika diucapkan memiliki tiga&lt;br /&gt;makna yang berlainan. SA PE mempunyai arti „semua", dan juga&lt;br /&gt;mengandung makna „keutuhan". Karenanya SA PE menghadirkan hati yang&lt;br /&gt;ketiga, Hati Keutuhan, atau Hati Keseimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E TWO DOU berarti „kemakmuran, kebahagiaan, tanpa kemiskinan". Orang&lt;br /&gt;hidup berkecukupan dan gembira karena tidak miskin. Baris ini juga&lt;br /&gt;bisa diartikan „seperti kehendakmu, tidak habis". „Seperti&lt;br /&gt;kehendakmu" mempunyai makna, keadaan apapun yang timbul, pasti&lt;br /&gt;sesuai dengan apa yang kita inginkan. Nilai „seperti kehendakmu" ini&lt;br /&gt;tidak habis-habis. Di antara sepuluh hati, baris ini menunjuk kepada&lt;br /&gt;yang ketiga, Hati Yang Tak Terkondisi, yakni hati yang „makmur,&lt;br /&gt;bahagia, dan tidak miskin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHU PENG berarti „mulia dan luhur, tanpa rasa cemas". Karena mulia&lt;br /&gt;dan kokoh, SHU PENG bersih dan luhur, dan karenanya, tanpa rasa&lt;br /&gt;cemas. Baris itu mewakili hati kesembilan dari kesepuluh hati, Hati&lt;br /&gt;Tanpa Pandangan, atau Kemelekatan. Pandangan dan kemelekatan bersama-&lt;br /&gt;sama merupakan satu dari Lima Pelayan Cepat. Jika melihat sesuatu,&lt;br /&gt;hati akan menggenggamnya dan menjadi melekat padanya. Namun dengan&lt;br /&gt;hati kesembilan, pandangan dan kemelekatan tidak muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. E Shr Yun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E SHR YUN, seperti sebelumnya, adalah bahasa dari Surga Besar&lt;br /&gt;Brahma. Ia berarti „Dharma yang tiada bandingannya". Tidak ada&lt;br /&gt;Dharma yang bisa dibandingkan dengan yang satu ini. E SHR YUN juga&lt;br /&gt;dapat berarti „ajaran yang tiada bandingannya", karena tidak ada&lt;br /&gt;agama lain yang bisa dibandingkan dengannya. Baris ini menghadirkan&lt;br /&gt;hati ketujuh, Hati Yang Rendah Hati, hati yang luar biasa hormat dan&lt;br /&gt;akur dengan siapapun yang ditemui. Baris ini juga mewakili hati yang&lt;br /&gt;kedelapan, Hati Yang Tidak Kacau. Ini adalah Dharma Hati-Prajna yang&lt;br /&gt;luhur dan tidak bernoda dari Sang Bodhisattva Yang Mendengarkan&lt;br /&gt;Suara Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh hati merupakan perujudan Dharani, dan kita harus&lt;br /&gt;meletakkan prinsip-prinsipnya di dalam praktek, tanpa melupakannya.&lt;br /&gt;Kita harus berlatih sesuai dengan Dharani Sutra, mengandalkannya&lt;br /&gt;untuk menempuh Jalan dan memastikan buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Sa Pe Sa Dwo Na Mwo Pe Sa Two Na Mwo Pe Chye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SA PE SA DWO berasal dari bahasa Sansekerta dan&lt;br /&gt;bermakna "Bodhisattva tubuh dan hati agung".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO PE SA DWO, juga berasal dari bahasa Sansekerta, artinya "masa&lt;br /&gt;muda perawan, ksatria awal", yang melambangkan seorang Pangeran&lt;br /&gt;Dharma – seorang Bodhisattva. Ungkapan "masa muda perawan",&lt;br /&gt;menggambarkan hakikat asal. "Ksatria awal" adalah istilah yang&lt;br /&gt;diberikan khusus kepada Bodhisattva. Mereka juga disebut ksatria&lt;br /&gt;agung. Dalam perjalanan menuju Kebuddhaan, Bodhisattva disebut&lt;br /&gt;Pangeran Dharma hingga ke Landasan Kesepuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO PE CHYE mempunyai arti "tak tersaingi". Makna yang sama&lt;br /&gt;terdapat di dalam Sutra Hati, "Karenanya, kenalilah Prajna Paramita,&lt;br /&gt;mantra agung ini, mantra agung benderang ini, mantra tertinggi ini,&lt;br /&gt;mantra yang tak tertandingi ini…."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang tak tersaingi?" barangkali ada yang tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya: PE CHYE. PE CHYE artinya "Yang Dihormati Dunia", para&lt;br /&gt;Buddha dari sepuluh penjuru.&lt;br /&gt;17. Mwo Fa Te Dou&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO FA TE DOU menyatakan „kerabat surgawi, sahabat duniawi". Ini&lt;br /&gt;maknanya, „Semua Bodhisattva, tolonglah saya; jadilah kerabat&lt;br /&gt;surgawi dan sahabat duniawi saya, agar semua Dharma yang baik dapat&lt;br /&gt;dicapai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di dalam mantra ini merupakan permohonan untuk meminta&lt;br /&gt;bantuan kepada semua Buddha dan Bodhisattva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Da Jr Two&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutra Hati juga menyatakan, "Karena alasan itu, mantra Prajna&lt;br /&gt;Paramita diucapkan; mantra itu berlangsung seperti ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DA JR TWO artinya „mantra itu berlangsung seperti ini". DA JR TWO&lt;br /&gt;dengan demikian berarti „yaitu untuk mengatakan". Bodhisattva Yang&lt;br /&gt;Mendengarkan Suara Dunia menggunakan Hati Welas Asih Agung untuk&lt;br /&gt;mengucapkan Kata-kata Sejati – berbagai suku kata dalam bahasa&lt;br /&gt;Sansekerta. DA JR TWO juga adalah „simbol tangan (mudra)". Orang&lt;br /&gt;membuat simbol dengan tangan. Ia juga mempunyai arti "mata&lt;br /&gt;kebijaksanaan", dan yang dimaksud di sini adalah mata kebijaksanaan&lt;br /&gt;dari makhluk hidup. DA JR TWO, dengan demikian, menyatakan berbagai&lt;br /&gt;pintu Dharma dan mata kebijaksanaan, sehingga dapat diterjemahkan&lt;br /&gt;sebagai "yang dibabarkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Nan E Pu Lu Syi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata NAN telah dijelaskan sebelumnya. Pada saat NAN diucapkan, semua&lt;br /&gt;hantu dan makhluk halus mengatupkan telapak tangan mereka, dan&lt;br /&gt;dengan penuh hormat mendengarkan perintah orang yang mengucapkannya.&lt;br /&gt;NAN juga menghasilkan pintu-pintu Dharma yang mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E PU LU SYI adalah Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara&lt;br /&gt;Dunia „Avaloki". Ini artinya „memperhatikan", menggunakan&lt;br /&gt;kebijaksanaan untuk mendengarkan suara dunia. Di dalam dunia banyak&lt;br /&gt;terdapat berbagai suara. Bodhisattva merenungkan suara-suara&lt;br /&gt;penderitaan, suara-suara iba yang berasal dari orang-orang yang&lt;br /&gt;mengalami kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Lu Jya Di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LU JYA DI artinya „kebahagiaan duniawi", atau „dihormati dunia".&lt;br /&gt;Kalimat 19 dan 20, Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara dari Dunia&lt;br /&gt;dengan penuh Kebahagiaan, adalah nama dari Sang Bodhisattva&lt;br /&gt;Avalokitesvara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Jya La Di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JYA LA DI bermakna „yang simpatik", ia yang penuh kasih sayang&lt;br /&gt;agung, yang menyelamatkan makhluk hidup – semua makhluk hidup – dari&lt;br /&gt;penderitaan dan tekanan. Ia yang menyembuhkan makhluk hidup dari&lt;br /&gt;penderitaan adalah „seorang yang agung simpatinya". JYA LA DI juga&lt;br /&gt;berarti „pelaku", ia yang membuat karma di dalam Jalan, yang membuat&lt;br /&gt;semua makhluk hidup mengembangkan hati Bodhi, yang melaksanakan&lt;br /&gt;pekerjaan agung Bodhisattva, dan menyelesaikan karma di dalam Jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Yi Syi Li&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YI SYI LI maksudnya „selaras dengan ajaran". Pada waktu orang&lt;br /&gt;mengucapkan baris ini, sesungguhnya ia berkata, „Saya pasti akan&lt;br /&gt;melaksanakan ajaran Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia, serta&lt;br /&gt;akan menuntun dan mengadakan peralihan bagi makhluk hidup. Saya akan&lt;br /&gt;mempersembahkan semua perbuatan saya agar selaras dengan ajaran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YI SYI LI artinya „mempersembahkan perbuatan selaras dengan ajaran",&lt;br /&gt;berpaling kepada ajaran Bodhisattva dan dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;mempraktekkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Mwo He Pu Ti Sa Two&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO HE mempunyai arti "agung". PU TI artinya "cerah di dalam Jalan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SA TWO bermakna "ia yang luar biasa beraninya". Dalam kalimat ini,&lt;br /&gt;Bodhisattva yang cerah agung, dan maha berani, mengembangkan hati&lt;br /&gt;Bodhi dan menumbuhkan perilaku agung Bodhi. Mengembangkan hati Bodhi&lt;br /&gt;artinya menanam benih pencerahan. Menumbuhkan perilaku agung Bodhi&lt;br /&gt;berarti merawat dan memupuk tunas Bodhi sehingga nantinya dapat&lt;br /&gt;memanen buah Bodhi, dan mencapai Jalan Bodhi agung. Inilah yang&lt;br /&gt;dimaksud dengan MWO HE PU TI SA TWO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian dari mantra ini menghadirkan kesempurnaan Bodhisattva di&lt;br /&gt;dalam samadhi maupun kebijaksanaan, dan menghiasi tubuhnya dengan&lt;br /&gt;bermilyar kebajikan. Ketika samadhi disempurnakan, kebijaksanaan&lt;br /&gt;disempurnakan; ketika kebijaksanaan disempurnakan, samadhi&lt;br /&gt;disempurnakan. Karena Sang Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia&lt;br /&gt;memiliki samadhi, ia mengembangkan kebijaksanaan; karena ia memiliki&lt;br /&gt;kebijaksanaan, ia dapat menumbuhkan samadhi. Tanpa samadhi tidak ada&lt;br /&gt;kebijaksanaan. Dan tanpa kebijaksanaan tidak dapat muncul samadhi.&lt;br /&gt;Mereka tidak bersifat mendua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermilyar kebajikan menghiasi tubuh Bodhisattva, karena tidak ada&lt;br /&gt;satu Dharma pun yang ia abaikan. Perbuatan baik, kecil ataupun&lt;br /&gt;besar, Sang Bodhisattva melakukannya. Dan karenanya dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ia tidak mengabaikan perbuatan bajik yang paling kecil sekalipun.&lt;br /&gt;Tidak juga ia berbuat jahat yang paling kecil sekalipun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak melakukan perbuatan jahat, dan melakukan semua&lt;br /&gt;perbuatan bajik, Bodhisattva melahirkan hati Bodhi dan memetik buah&lt;br /&gt;Bodhi. Ia menghiasi tubuh Dharmanya sendiri dengan bermilyar&lt;br /&gt;kebajikan. Dengan melahirkan hati yang penuh welas asih agung, ia&lt;br /&gt;mempraktekkan Dharma yang tidak berkondisi, dan menjadi selaras&lt;br /&gt;dengan batin semua makhluk hidup; ia menjalankan pekerjaan Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Bodhisattva sendiri, dalam hakikat asalnya dan dalam inti&lt;br /&gt;aslinya, tidak memiliki ciri makhluk hidup. Bodhisattva&lt;br /&gt;memperlakukan dirinya sendiri dan semua makhluk hidup sebagai satu&lt;br /&gt;keutuhan, tanpa pembedaan dan tanpa sikap memihak. Tidak berharap&lt;br /&gt;untuk menyakiti dirinya sendiri, ia berharap untuk memusnahkan&lt;br /&gt;penderitaan semua makhluk hidup. Meskipun ia menyelamatkan mereka&lt;br /&gt;dari penderitaan, ia tidak mengingat telah menyelamatkan mereka. Ia&lt;br /&gt;tidak pernah mengatakan, „Karena saya telah menyelamatkan kalian,&lt;br /&gt;kalian seharusnya berterima kasih padaku. Saya telah mengangkat&lt;br /&gt;kalian dari kesulitan. Kalian benar-benar harus berterima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak memiliki pikiran seperti itu, Bodhisattva mampu&lt;br /&gt;mengujudkan tiga puluh dua tubuh untuk memenuhi kebutuhan makhluk&lt;br /&gt;hidup. Misalnya, jika tubuh seorang Buddha diperlukan untuk&lt;br /&gt;menyelamatkan makhluk hidup, Bodhisattva muncul di dalam tubuh&lt;br /&gt;seorang Buddha untuk membabarkan Dharma pada makhluk hidup tersebut.&lt;br /&gt;Jika tubuh seorang Pratyeka Buddha yang dibutuhkan, ia muncul&lt;br /&gt;sebagai seorang Pratyeka Buddha untuk membabarkan Dharma. Demikian&lt;br /&gt;juga, untuk mereka yang perlu diajar oleh seorang Arhat, atau raja,&lt;br /&gt;dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelamatkan makhluk hidup, Bodhisattva memiliki kemampuan&lt;br /&gt;untuk mengujud dalam ketiga puluh dua tubuh fisik. Ia juga memiliki&lt;br /&gt;empat belas macam ketidaktakutan dan empat kemuliaan yang tak&lt;br /&gt;tertandingi – yaitu, empat macam penembusan spiritual dan kemampuan&lt;br /&gt;ajaib yang tak tertandingi. Ia telah meraih perpaduan sempurna, dan&lt;br /&gt;telah mencapai buah Bodhi agung. Itulah semua pencapaian Bodhisattva&lt;br /&gt;Yang Mendengarkan Suara Dunia.&lt;br /&gt;24. Sa Pe Sa Pe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat SA PE SA PE mengiringi „Mata dan Tangan Simbol Mulia", dan&lt;br /&gt;bermakna „manfaat dan kebahagiaan untuk semua". Dengan mengembangkan&lt;br /&gt;Mata dan Tangan ini, orang dapat membawa manfaat dan kebahagiaan&lt;br /&gt;bagi semua makhluk. Para dewa, panglima-panglima Raja Yama di dalam&lt;br /&gt;neraka, dan raja-raja hantu, semuanya akan patuh. Orang yang&lt;br /&gt;menguasai Tangan dan Mata ini dapat berkata, "Bebaskan pendosa itu,"&lt;br /&gt;dan mereka akan membebaskannya. Mengapa? Karena ia memiliki Simbol&lt;br /&gt;Mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol Mulia laksana cap kebesaran kaisar. Jika sebuah surat bercap&lt;br /&gt;kerajaan, semua orang menghormatinya, dan mengikuti perintahnya&lt;br /&gt;dengan patuh. Tidak ada yang berani menentangnya. Jika Simbol Mulia&lt;br /&gt;dimiliki, seseorang mampu membawa manfaat dan kegembiraan bagi semua&lt;br /&gt;orang. Ia dapat menunjukkan kepada mereka perbuatan bajik apa yang&lt;br /&gt;harus dilakukan, dan mereka akan mendapatkan manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ada di antara kalian yang telah berusaha keras dan ulet&lt;br /&gt;hingga berhasil mencapai pengembangan Simbol Mulia. Misalnya juga,&lt;br /&gt;ada orang yang sekarat di ujung kehidupan. Maka orang yang menguasai&lt;br /&gt;Simbol Mulia itu dapat membubuhkan simbol mulianya pada sehelai&lt;br /&gt;kertas, dan menulis beberapa baris kalimat kepada Raja&lt;br /&gt;Yama, „Biarkan ia lewat. Biarkan ia kembali. Engkau jangan&lt;br /&gt;membiarkannya mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Raja Yama sekalipun tidak akan berani menentang. Keajaiban&lt;br /&gt;kemampuan Simbol Mulia adalah ia mampu menghidupkan kembali yang&lt;br /&gt;mati. Namun untuk dapat menggunakannya, pertama-tama orang harus&lt;br /&gt;berhasil mengembangkannya terlebih dahulu. Sebelum berhasil&lt;br /&gt;dikembangkan, manfaat simbol mulia tidak akan sebesar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan berhasil mengembangkannya? Ini seperti&lt;br /&gt;berangkat ke sekolah. Pertama, seorang siswa duduk di tingkat dasar.&lt;br /&gt;Kemudian ia meneruskan ke tingkat lanjutan, dan terus ke perguruan&lt;br /&gt;tinggi. Akhirnya ia dapat memperoleh gelar Ph.D. Mengembangkan&lt;br /&gt;Simbol Mulia hingga berhasil, dapat diumpamakan dengan usaha meraih&lt;br /&gt;gelar Ph.D., kecuali bahwa kemuliaannya jauh lebih tinggi&lt;br /&gt;dibandingkan dengan Ph.D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol Mulia membawa manfaat, menyelamatkan semua makhluk hidup, dan&lt;br /&gt;menjadikan mereka bahagia. Tidakkah ini amat ajaib? Untuk bisa&lt;br /&gt;mendapatkan manfaat darinya, atau untuk bisa menggunakannya kepada&lt;br /&gt;orang lain, Empat Puluh Dua Tangan dan Mata harus dikembangkan. Dan&lt;br /&gt;SA PE SA PE adalah satu di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar saya berbicara seperti ini, ada orang berpikir, "Saya akan&lt;br /&gt;segera mengembangkan Simbol Mulia ini. Lalu setiap kali ada orang&lt;br /&gt;yang akan mati, aku akan memberinya simbol ini. Aku tidak akan&lt;br /&gt;membolehkan Raja Yama membiarkannya mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukanlah, ia mampu mencegah orang mati jika ia mau, namun bila&lt;br /&gt;nanti saatnya tiba untuk dia mati, tak akan ada orang yang akan&lt;br /&gt;memberinya simbol itu agar ia tak jadi mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah menggunakan Simbol Mulia dua kali, satu kali di Manchuria&lt;br /&gt;dan sekali lagi di Hong Kong. Di Manchuria, waktu itu terjadinya&lt;br /&gt;mendadak; orang itu pasti mati jika saya tidak memberinya simbol&lt;br /&gt;mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore yang hujan, pada hari kedelapan belas di bulan keempat,&lt;br /&gt;seorang anak muda yang bernama Kao Te Fu datang ke Vihara Tiga&lt;br /&gt;Keadaan, tempat saya tinggal waktu itu. Ia berlutut di depan&lt;br /&gt;Buddharupang, membuka pisau jagal yang dibungkusnya dengan surat&lt;br /&gt;kabar, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, bersiap-siap untuk memotong&lt;br /&gt;tangannya dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian berpikir bagaimana? Apakah ia pintar dan bijaksana? Tentu&lt;br /&gt;saja, ia sangat bodoh, sangat bodoh. Namun, kebodohannya adalah dari&lt;br /&gt;jenis „kebodohan yang didasari oleh rasa bakti kepada orang tua".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya sedang sakit parah, dan sudah sekarat. Ia seorang pecandu&lt;br /&gt;opium, bahkan kecanduannya telah sampai di tingkat di mana untuk&lt;br /&gt;menghisap opium pun, ia sudah terlalu lemah. Ia terbaring dalam&lt;br /&gt;keadaan koma, tidak makan tidak minum. Lidahnya menjadi hitam, dan&lt;br /&gt;bibir pecah terbuka. Dokter Barat maupun tabib Tiongkok telah angkat&lt;br /&gt;tangan. Tapi putranya itu berpikir lain, „Bodhisattvalah yang paling&lt;br /&gt;mujarab. Saya akan pergi ke Vihara Tiga Keadaan dan memotong tangan&lt;br /&gt;sendiri untuk dipersembahkan kepada para Buddha. Dengan hati yang&lt;br /&gt;tulus saya akan berdoa agar ibu saya disembuhkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada saat anak laki-laki itu akan memotong tangannya untuk&lt;br /&gt;dipersembahkan kepada Buddha, seseorang merangkulnya dari&lt;br /&gt;belakang. "Apa yang engkau lakukan? Engkau tidak boleh bunuh diri di&lt;br /&gt;sini!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Saya akan memotong tangan saya sebagai persembahan kepada Buddha,"&lt;br /&gt;kata anak laki-laki itu, „agar penyakit ibuku bisa sembuh. Engkau&lt;br /&gt;tidak boleh menghalangiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu meronta melepaskan diri, tapi orang itu tidak mau&lt;br /&gt;melepaskannya. Ia kemudian segera melaporkan kejadian itu kepada&lt;br /&gt;kepala vihara. Kepala vihara berkata bahwa tidak ada yang dapat ia&lt;br /&gt;lakukan, ia mengirim pelindung Dharmanya yang paling berpengaruh, Li&lt;br /&gt;Ching-hua, untuk menjemput saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kala itu masih seorang samanera, seorang pemula, saya telah&lt;br /&gt;menjadi pengawas di Vihara Tiga Keadaan, suatu jabatan yang hanya di&lt;br /&gt;bawah kepala vihara. Bagaimanapun juga, sebagai seorang pemula, saya&lt;br /&gt;bukanlah dari kelompok "tukang makan, tidur, dan minum". Saya bangun&lt;br /&gt;sebelum yang lain bangun, bukan sesudahnya. Saya melakukan pekerjaan&lt;br /&gt;yang tidak seorang pun mau mengerjakannya, dan hanya makan sekali&lt;br /&gt;sehari di siang hari. Saya tidak menyimpan makanan kecil. Hanya&lt;br /&gt;dengan berlatih, kita dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan kita.&lt;br /&gt;Tidak berhasrat memperbaiki kesalahan menunjukkan kurangnya&lt;br /&gt;kemampuan untuk berlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kepala vihara memanggilku dan saya berkata kepadanya, "Ada&lt;br /&gt;orang datang meminta pertolonganmu, tetapi engkau mengoperkannya&lt;br /&gt;kepadaku. Engkau tidak mau peduli dengan urusan seperti ini, malah&lt;br /&gt;mengalihkan masalah padaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Welas asihlah," kata kepala vihara, „tolonglah ia." Kepala vihara&lt;br /&gt;mengucapkan beberapa kata manis padaku dan saya terbujuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Baiklah," saya bilang, „saya akan pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya berkata kepada anak kecil itu, „Naiklah sepedamu pulang,&lt;br /&gt;saya akan mengikuti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tapi, apakah Guru tahu jalan ke sana?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan pedulikan saya, pulang sajalah," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu sekitar jam lima sore ketika dia berangkat pulang, dan&lt;br /&gt;matahari mulai terbenam. Ia mengambil jalan utama dan saya mengambil&lt;br /&gt;jalan yang lebih kecil. Rumahnya sekitar enam mil dari sana, dan&lt;br /&gt;ketika ia sampai, ia terkejut melihat saya sudah duduk di sana&lt;br /&gt;menunggunya. „Orang tua bijak, bagaimana engkau bisa sampai duluan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau mungkin bermain-main di tengah jalan, atau barangkali engkau&lt;br /&gt;berhenti dulu menonton atau bermain bola."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak," kata anak itu, „saya langsung pulang secepat-cepatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kalau begitu, sepedamu tidak secepat sepedaku karena saya tiba&lt;br /&gt;duluan."&lt;br /&gt;Tatkala melihat ibunya, seketika itu juga saya merasa tidak ada cara&lt;br /&gt;untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi saya memutuskan untuk mencoba dan&lt;br /&gt;menuliskan sebuah simbol seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak ini sangat berbakti, ia berusaha memotong tangannya untuk&lt;br /&gt;menyelamatkan hidup ibunya. Karena saya telah mencegah ia berbuat&lt;br /&gt;seperti itu, perempuan ini harus hidup, apapun yang terjadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya membuat suatu simbol untuknya, dan mengirimkan simbol itu&lt;br /&gt;pada saat itu juga. Pagi berikutnya, perempuan itu, yang telah koma&lt;br /&gt;seolah-olah sudah mati selama tujuh atau delapan hari, bangkit duduk&lt;br /&gt;dan memanggil putra tertuanya dengan menyebut nama kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Chu-tzu, Chu-tzu," katanya, "Saya lapar. Bawakan saya nasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu, yang sudah lebih seminggu tidak pernah lagi&lt;br /&gt;mendengar ibunya memanggil namanya, sangat gembira sekali. Ia&lt;br /&gt;berlari ke sampingnya. "Ibu! Engkau sakit selama seminggu lebih,&lt;br /&gt;tidak berkata apapun. Ibu sudah sembuh sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu bilang, „Ibu tidak tahu telah berapa lama berlari-lari&lt;br /&gt;di gua hitam tanpa cahaya matahari, bulan, ataupun lampu. Ibu lari&lt;br /&gt;dan lari, hari demi hari, mencari rumah. Ibu memanggil-manggil tapi&lt;br /&gt;tidak ada yang datang. Lalu semalam, Ibu bertemu dengan seorang&lt;br /&gt;bhiksu miskin dengan jubah compang-camping yang menuntunku pulang.&lt;br /&gt;Sekarang Ibu ingin makan nasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bagaimana rupa bhiksu itu?" putranya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia sangat tinggi," katanya, "Saya pasti mengenalnya kalau bertemu&lt;br /&gt;lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah dia?" kata anak itu lagi, menunjuk ke arah saya. Saya sudah&lt;br /&gt;tertidur di dipan waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya!" teriaknya, "dialah orang yang membawaku pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seluruh keluarga mereka, lebih dari sepuluh orang, tua dan&lt;br /&gt;muda, berlutut di depan saya dan berkata bahwa saya telah&lt;br /&gt;menyelamatkan nyawa ibu mereka, lalu mereka menyatakan berlindung&lt;br /&gt;padaku. "Apapun yang engkau bilang harus kami lakukan, kami akan&lt;br /&gt;patuh," mereka berkata seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian, seluruh desa datang menyatakan&lt;br /&gt;berlindung, dan memohon saya menyembuhkan penyakit mereka. Saya&lt;br /&gt;bilang, „Saya akan menyembuhkan kalian dengan pukulan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya memukul mereka tiga kali dengan kebutan. Setelah memukul&lt;br /&gt;mereka, saya bertanya, „Apakah kalian sudah merasa baik sekarang?"&lt;br /&gt;dan, diiringi rasa kaget, mereka semua telah sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pekerjaan yang mengganggu di Manchuria. Kali kedua saya&lt;br /&gt;menggunakan simbol terjadi di Hong Kong. Pada waktu ayah Magdalena&lt;br /&gt;Lew, yang umurnya sudah lebih dari tujuh puluh tahun, sakit, tukang&lt;br /&gt;ramal dan tabib semua mengatakan bahwa ia pasti mati pada tahun itu&lt;br /&gt;juga. Ia datang dan meminta perlindungan untuk menyelamatkan&lt;br /&gt;hidupnya. „Guru," katanya, „bisakah Guru menunda kematianku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Jadi engkau tidak mau mati?" kataku, „Saya akan memberimu umur dua&lt;br /&gt;belas tahun lagi, bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Baik sekali," katanya. Lalu saya melakukan suatu perbuatan kecil&lt;br /&gt;untuknya, dan ia hidup dua belas tahun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, janganlah kalian menggunakan Dharma ini untuk mencegah orang&lt;br /&gt;mati atau membawa mereka kembali dari kematian. Dengan berbuat&lt;br /&gt;seperti itu, kalian akan menjadi saingan Raja Yama, dan Raja Yama&lt;br /&gt;akan berkata, „Baiklah, karena engkau mencegah kematiannya, saya&lt;br /&gt;akan mengambil hidupmu sebagai gantinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika telah tiba waktunya untuk kalian mati, tak ada yang akan&lt;br /&gt;memberi kalian simbol itu. Jika berpikir dapat melindungi diri&lt;br /&gt;sendiri, kalian salah. Keahlian Dharma kalian itu seperti pisau yang&lt;br /&gt;tidak dapat memotong pegangannya sendiri, dan ketika berhadapan&lt;br /&gt;dengan kesulitan, keadaan kalian akan sama dengan Bodhisattva tanah&lt;br /&gt;liat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Bodhisattva tanah liat menyeberang lautan&lt;br /&gt;Ia berjuang mati-matian melindungi tubuhnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, meskipun telah menguasai Dharma ini, orang masih harus&lt;br /&gt;berlatih. Karena alasan ini, saya tidak lagi mempedulikan urusan&lt;br /&gt;orang lain. Siapapun yang mati, matilah, dan saya tidak mempedulikan&lt;br /&gt;mereka. Saya tidak terlibat dengan urusan seperti itu lagi.&lt;br /&gt;25. Mwo La Mwo La&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat dari mantra ini mempunyai arti "bertambah dan tumbuh".&lt;br /&gt;MWO LA MWO LA juga berarti „seperti yang engkau kehendaki"&lt;br /&gt;dan „sesuai dengan keinginanmu". Mereka mengiringi Mata dan Tangan&lt;br /&gt;Permata Seperti Kehendakmu, yang menambahkan berkah, mendorong&lt;br /&gt;pertumbuhan kebijaksanaan, dan membuat segalanya menjadi&lt;br /&gt;mulia, „seperti kehendakmu", selaras dengan hatimu. Lihat betapa&lt;br /&gt;agung manfaatnya! Inilah sebabnya mengapa Tangan dan Mata ini&lt;br /&gt;merupakan yang pertama dari Keempat Puluh Dua Tangan dan Mata.&lt;br /&gt;Permata Seperti Kehendakmu, yang mulia ini sungguh ajaib mengatasi&lt;br /&gt;kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin kaya, kembangkanlah. Tangan dan Mata ini, karena begitu&lt;br /&gt;orang menyempurnakannya, ia akan memiliki semua yang dikehendaki,&lt;br /&gt;dan ia tidak perlu cemas lagi bakal jatuh miskin. Ia akan selalu&lt;br /&gt;kaya dan memiliki berkah yang tak terhingga dan tak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Mwo Syi Mwo Syi Li Two Yun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO SYI MWO SYI artinya "tanpa kata, batin tertinggi". Tanpa kata&lt;br /&gt;berarti, "Jangan bicara!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin tertinggi adalah „pikiran terluhur". Dan apakah itu? Itu&lt;br /&gt;adalah sesuatu yang ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO SYI MWO SYI juga dapat diterjemahkan sebagai "bahagia". Menjadi&lt;br /&gt;sebahagia Raja Surga Brahma Agung: tiada kesedihan, tiada kecemasan,&lt;br /&gt;tiada kesengsaraan, bahagia dan terkendali sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Tangan dan Mata Awan Lima Warna. Dengan membawa awan lima&lt;br /&gt;warna yang mulia di atas telapak tangan, kita benar-benar&lt;br /&gt;sangat "bahagia". Manfaatnya tak terbatas dan tak terhitung, dan&lt;br /&gt;kegunaannya yang membahagiakan dan ajaib adalah abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LI TWO YUN merupakan Tangan dan Mata Teratai Biru. Ini mempunyai&lt;br /&gt;arti "hati bunga teratai". Tatkala kita telah mengembangkan tangan&lt;br /&gt;dan mata ini hingga sempurna, wangi dari teratai biru ini akan&lt;br /&gt;menyebar ke mana-mana, dan kita akan dipuji oleh para Buddha dari&lt;br /&gt;sepuluh penjuru. Dharma ini sungguh sangat halus dan ajaib, dan tak&lt;br /&gt;tertandingi, Dharma yang sangat tinggi dan dalam, yang sulit&lt;br /&gt;ditemukan bahkan dalam masa seribu kali masa yang sangat panjang,&lt;br /&gt;sangat panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Jyu Lu Jyu Lu Jye Meng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JYU LU JU LU berasal dari bahasa Sansekerta dan mempunyai&lt;br /&gt;arti „melakukan Dharma", atau „hiasan berguna", atau „tiuplah kulit&lt;br /&gt;keong dan lepaskan batasan". Ini adalah Tangan dan Mata Keong&lt;br /&gt;Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang karena kita telah memasuki era akhir Dharma, orang-orang&lt;br /&gt;berpikir bahwa hanya mengucapkan Mantra Welas Asih Agung telah&lt;br /&gt;merupakan suatu pencapaian Buddhadharma, namun kenyataannya tidaklah&lt;br /&gt;demikian. Mantra Welas Asih Agung diucapkan demi Empat Puluh Dua&lt;br /&gt;Tangan dan Mata, dan manfaat ajaib dari Mantra Welas Asih Agung&lt;br /&gt;adalah Empat Puluh Dua Tangan dan Mata; Empat Puluh Dua Tangan dan&lt;br /&gt;Mata ini merupakan unsur lengkap dari Mantra Welas Asih Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang cuma mampu mengucapkan Mantra Welas Asih Agung, tapi&lt;br /&gt;tidak tahu bagaimana mengembangkan Empat Puluh Dua Tangan, ia&lt;br /&gt;seperti orang yang memiliki tangan tapi tidak berkaki, karenanya&lt;br /&gt;tidak dapat ia berjalan. Sebaliknya, jika orang mengembangkan Empat&lt;br /&gt;Puluh Dua Tangan tapi tidak mengembangkan Mantra Welas Asih Agung,&lt;br /&gt;ia adalah orang yang mempunyai kaki namun tidak bertangan, sehingga&lt;br /&gt;tidak dapat mengambil barang; tetap saja tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, untuk bisa mengerti dengan jelas Mantra Welas Asih Agung,&lt;br /&gt;pertama-tama Empat Puluh Dua Tangan harus dipahami, dan mantra&lt;br /&gt;tersebut dibaca dan dijunjung tinggi. Maka ia dapat mengerti dengan&lt;br /&gt;jelas Dharma Sang Buddha yang ajaib ini. Ini bukan hanya soal&lt;br /&gt;mendengarkan Guru Dharma menjelaskan mantra, kemudian berpikir, „Ah!&lt;br /&gt;Saya paham apa makna setiap kalimat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ini juga tidak ada gunanya, sama saja dengan orang yang&lt;br /&gt;memiliki tubuh tapi tidak memiliki tangan dan kaki. Kita harus&lt;br /&gt;memiliki tubuh, tangan, dan kaki. Baru kemudian kita dapat membuat&lt;br /&gt;mereka bekerja bersama menuntaskan kebajikan dan jasa-jasa baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan dan Mata Keong Permata gunanya untuk mempraktekkan Dharma.&lt;br /&gt;Pada waktu melaksanakan suatu Dharma, orang harus meniup kulit keong&lt;br /&gt;itu. Ketika ditiup, suara Keong Permata terdengar hingga ke surga,&lt;br /&gt;terdengar di neraka, dan terdengar oleh manusia; terdengar di mana-&lt;br /&gt;mana, dan batasan-batasan pun dibuka. Semua tempat yang dapat&lt;br /&gt;dicapai oleh suara itu menjadi wilayah kita. Setan-setan aneh dan&lt;br /&gt;hantu-hantu tidak diperkenankan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Hiasan yang berguna" artinya dengan Tangan dan Mata Keong Permata&lt;br /&gt;kita mengembangkan keong itu. Tatkala Keong Permata ditiup, bumi&lt;br /&gt;berubah menjadi emas, dihiasi dengan tujuh permata mulia. Sungguh&lt;br /&gt;halus dan ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian yang mempelajari Buddhadharma harus mengetahui bahwa dalam&lt;br /&gt;tiga ratus tahun terakhir belum ada orang yang berhasil menemukan&lt;br /&gt;Empat Puluh Dua Tangan dan Mata ini, dan tak seorang pun yang&lt;br /&gt;memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang karena kita telah memiliki suatu pengertian mengenai Mantra&lt;br /&gt;Welas Asih Agung, kita harus dengan sepenuh hati dan bertekad kokoh&lt;br /&gt;mengembangkan Empat Puluh Dua Tangan. Kemudian pada gilirannya,&lt;br /&gt;Empat Puluh Dua Tangan dan Mata ini akan membawa berkah yang tiada&lt;br /&gt;bandingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JYE MENG berasal dari bahasa Sansekerta, namun bukan berasal dari&lt;br /&gt;India. Kata ini berasal dari Surga Brahma Agung. Bahasa Sansekerta&lt;br /&gt;di India juga berasal dari Surga Brahma Agung. JYE MENG&lt;br /&gt;artinya „memperhatikan urusan", atau „kebajikan dan jasa-jasa baik",&lt;br /&gt;yaitu memperhatikan urusan yang bermanfaat dan membawa jasa-jasa&lt;br /&gt;baik bagi orang lain. Bermanfaat bagi orang lain sama juga dengan&lt;br /&gt;bermanfaat bagi diri sendiri. Seorang Bodhisattva melakukan&lt;br /&gt;perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bermanfaat bagi&lt;br /&gt;orang lain; ia mencerahkan dirinya sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini menunjuk kepada latihan Enam Kesempurnaan dan Sepuluh&lt;br /&gt;Ribu Perilaku. Ia adalah Tangan dan Mata Teratai Putih. Lihat: Kita&lt;br /&gt;menggenggam sekuntum teratai putih di dalam tangan kita, seperti&lt;br /&gt;ini; memegang teratai putih dan mengucapkan mantra, „JYE MENG, JYE&lt;br /&gt;MENG...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan hanya mengucapkan mantra, Kata-kata Sejati juga harus&lt;br /&gt;dinyatakan! Tatkala dua kemuliaan ini bersama-sama diucapkan, semua&lt;br /&gt;kegiatan yang bermanfaat akan dapat dilaksanakan. Pada waktu Mantra&lt;br /&gt;Welas Asih diucapkan dan Empat Puluh Dua Tangan juga berhasil&lt;br /&gt;dikembangkan, maka Enam Kesempurnaan dan Sepuluh Ribu Perilaku pun&lt;br /&gt;menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedahnya yang ajaib tidak terlukiskan; orang tidak akan pernah&lt;br /&gt;selesai menyebutkannya satu per satu. Jika orang bisa selesai&lt;br /&gt;menyebutkannya satu per satu, itu tidak ajaib lagi namanya, mereka&lt;br /&gt;terbatas. Apa yang ajaib tidak memiliki awal dan akhir. Dengan JYE&lt;br /&gt;MENG, semua perbuatan bajik dapat dituntaskan, dan di masa yang akan&lt;br /&gt;datang, dalam setiap kehidupan, keharuman bunga teratai putih akan&lt;br /&gt;dapat dinikmati dan selalu melindungi. Tidak ada cara yang bisa&lt;br /&gt;habis untuk memuji Mantra Welas Asih Agung.&lt;br /&gt;28. Du Lu Du Lu Fa She Ye Di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DU LU DU LU adalah kata-kata Sansekerta yang artinya „menyeberangi&lt;br /&gt;samudra", samudra pahit kelahiran dan kematian. Ia juga&lt;br /&gt;berarti „terang dan luhur". Setelah menyeberangi samudra kelahiran&lt;br /&gt;dan kematian, orang mendapatkan cahaya kebijaksanaan dan meraih&lt;br /&gt;unsur dasar yang bersih dan luhur, dan mendarat di pantai seberang,&lt;br /&gt;yaitu Nirvana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam cahaya terang, kita memiliki kebijaksanaan, kita memahami&lt;br /&gt;semua pintu Dharma, dan kita pasti mengakhiri kelahiran dan&lt;br /&gt;kematian. Dengan samadhi, orang menjadi luhur. Kekuatan samadhi akan&lt;br /&gt;membuatnya mampu dilahirkan di dalam Tanah suci, Tanah bersih, di&lt;br /&gt;dalam Kebahagiaan Tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan dan Mata apa ini? Ini adalah Tangan Sari Bulan, dan merupakan&lt;br /&gt;Dharani yang diucapkan oleh Bodhisattva Bulan Terang. Dharani ini&lt;br /&gt;menyebabkan semua orang memperoleh kejernihan dan kesejukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FA SHE YE DI adalah Mata dan Tangan Perisai. FA SHE YE DI merupakan&lt;br /&gt;kata-kata Sansekerta yang artinya "luas dan indah". Kata-kata ini&lt;br /&gt;juga berarti "luas dan agung", dan "menyeberangi kelahiran dan&lt;br /&gt;kematian". Jika Mata dan Tangan Perisai dikembangkan, samudra&lt;br /&gt;kelahiran dan kematian akan dapat diseberangi. Tanpa mengembangkan&lt;br /&gt;Tangan dan Mata ini, kita tidak dapat menyeberangi samudra itu.&lt;br /&gt;Dengan Tangan dan Mata Perisai, kita dapat menyeberangi samudra&lt;br /&gt;pahit kelahiran dan kematian, melewati aliran penderitaan yang terus-&lt;br /&gt;menerus, dan tiba di pantai seberang – Nirvana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Mwo He Fa She Ye Di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baris ini mengandung arti "Jalan Dharma yang paling jaya dan luas".&lt;br /&gt;Dharma itu agung dan paling tinggi. Jalannya juga agung dan paling&lt;br /&gt;tinggi, dan paling luas. Ini adalah Tangan dan Mata Permata&lt;br /&gt;(Halberd), yang menaklukkan setan-setan surga dan menundukkan agama-&lt;br /&gt;agama eksternal. Tangan dan Mata ini juga mempunyai banyak manfaat&lt;br /&gt;yang lain; misalnya, melindungi negara dari musuh. Jika negara kita&lt;br /&gt;akan diserang, dengan mengembangkan Dharma ini, kita dapat, tanpa&lt;br /&gt;perujudan luar apapun, membuat musuh mundur teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Two La Two La&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Sansekerta ini sukar dimengerti. Bahkan mereka yang telah&lt;br /&gt;mempelajari bahasa Sansekerta tidak mampu memahami mantra dan&lt;br /&gt;menjelaskan maksudnya. Namun, biar bagaimanapun juga, saya memahami&lt;br /&gt;sedikit arti dari Mantra Welas Asih Agung. Ini adalah Tangan dan&lt;br /&gt;Mata Botol Suci, tempat Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia&lt;br /&gt;menyimpan embun manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodhisattva meletakkan ranting pohon sejenis bambu di dalam botol&lt;br /&gt;itu, dan menggunakannya untuk memercikkan embun manis kepada makhluk&lt;br /&gt;hidup. Masalah apapun yang dihadapi, atau penyakit apapun yang&lt;br /&gt;sedang diderita, dengan setetes embun manis Bodhisattva ini,&lt;br /&gt;semuanya akan punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TWO LA TWO LA bermakna „mampu bersatu, menguatkan, dan memegang"&lt;br /&gt;semua hati makhluk hidup. Ini cuma untuk mengatakan bahwa&lt;br /&gt;Bodhisattva menggunakan Tangan dan Mata Embun Manis, Tangan dan Mata&lt;br /&gt;Botol Suci, dan Tangan dan Mata Ranting Bambu – semuanya tiga –&lt;br /&gt;untuk memercikkan embun manis kepada makhluk hidup, menyelamatkan&lt;br /&gt;mereka, dan membawa mereka menyeberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Di Li Ni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI LI NI berasal dari bahasa Sansekerta juga, dan memiliki banyak&lt;br /&gt;arti. Yang pertama adalah "sangat berani", yaitu, sangat bersemangat&lt;br /&gt;tinggi. DI LI NI juga berarti „tetap padam, bersih, dan luhur".&lt;br /&gt;Tetap padam adalah ciri samadhi dan sangat berani adalah tanda&lt;br /&gt;pergerakan. Di samping itu DI LI NI juga mempunyai arti „melingkupi,&lt;br /&gt;memegang, dan memutuskan", yaitu menekan semua Dharma yang tidak&lt;br /&gt;baik, mempertahankan semua Dharma yang baik, dan memutuskan semua&lt;br /&gt;rintangan karma dan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Tangan dan Mata Kait Besi, yang dapat memanfaatkan hantu&lt;br /&gt;dan makhluk-makhluk halus, mengumpulkan mereka, dan menjadikan&lt;br /&gt;mereka sebagai pengawal. Dengan mempraktekkan Dharma ini, kita dapat&lt;br /&gt;memerintahkan naga-naga surga untuk mendatangkan hujan, dan hujan&lt;br /&gt;akan turun. Kita dapat memerintahkan mereka membuat angin bertiup,&lt;br /&gt;dan angin akan bertiup. Angin dan hujan juga dapat dibuat berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aku tidak percaya," ada yang bilang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah? Itulah sebabnya mengapa saya menjelaskan hal ini. Agar&lt;br /&gt;kalian tidak percaya! Mengapa saya ingin kalian tidak percaya? Cuma&lt;br /&gt;demi ketidakpercayaan kalian, itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau, bolehlah kalian bertanya pada orang-orang yang baru&lt;br /&gt;kembali dari Taiwan hari ini. Tanyalah curah hujan di Taiwan saat&lt;br /&gt;ini. Pada waktu saya berhubungan dengan mereka lewat telepon, mereka&lt;br /&gt;bilang di sana sedang hujan lebat, dan udara sangat dingin. "Apakah&lt;br /&gt;kalian ingin cuaca menjadi hangat?" saya tanya. "Baik, jika kalian&lt;br /&gt;ingin hujan berhenti, mudah saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana mungkin engkau menghentikan hujan?" mereka bertanya&lt;br /&gt;dengan heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tunggu dan lihat saja apakah hujan berhenti atau tidak," saya&lt;br /&gt;berkata seperti itu pada mereka. Dan segera setelah saya menutup&lt;br /&gt;telepon, hujan berhenti. Mereka menganggap kejadian ini aneh&lt;br /&gt;sekali.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, itu bukan apa-apa kecuali kekuatan dari Tangan dan&lt;br /&gt;Mata Kait Besi! Kalian cuma perlu menunjuk ke langit, dan&lt;br /&gt;berkata, „Naga! Tidak boleh hujan," dan tidak akan ada hujan. Naga-&lt;br /&gt;naga akan mendengarkan perintah kalian, namun hanya kalau kalian&lt;br /&gt;telah menguasai Dharma ini, dan telah memahami Tangan Kait Besi.&lt;br /&gt;Dengan ini, kalian mampu mengait naga-naga hujan, sehingga mereka&lt;br /&gt;tidak akan berani membiarkan hujan turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang berpikir saya sedang bercanda. Tidak apa-apa. Jika&lt;br /&gt;kalian percaya hal ini benar, juga tidak apa-apa. Namun saya&lt;br /&gt;menjelaskan Sutra ini untuk kalian, dan saya menyatakan Kata-kata&lt;br /&gt;Sejati, bukan lelucon.&lt;br /&gt;** Sebagai orang yang pergi ke Taiwan di tahun 1969 untuk mengambil&lt;br /&gt;sila, saya bisa menjadi saksi kejadian di atas. Waktu itu hujan di&lt;br /&gt;Keelung, Taiwan, paling sedikit empat puluh delapan hari dari lima&lt;br /&gt;puluh tiga hari keberadaan kami di sana untuk diordinasi. Vihara&lt;br /&gt;sangat dingin, dan jika sesuatu basah, tidak ada cara untuk&lt;br /&gt;mengeringkannya. Namun, pada hari yang disebutkan di atas, adalah&lt;br /&gt;fakta bahwa begitu telepon ditutup, matahari keluar, langit menjadi&lt;br /&gt;bersih, dan udara menjadi hangat – penerjemah bahasa Mandarin ke&lt;br /&gt;Inggris.&lt;br /&gt;32. Shr Fwo La Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHR FWO LA YE berasal dari bahasa Sansekerta. Ucapkan satu kali, dan&lt;br /&gt;suatu kilatan listrik akan menembus seluruh semesta alam.&lt;br /&gt;Ucapkan, „SHR FWO LA YE", dan akan ada kilatan cahaya. Kata-kata ini&lt;br /&gt;juga berarti "kebahagiaan", yakni, "isvara", seperti di&lt;br /&gt;dalam "Avalokitesvara". Di sini artinya adalah bahwa kita&lt;br /&gt;harus "memperhatikan", sebelum kita dapat mencapai "kebahagiaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak memperhatikan atau tidak merenungkan, kita tidak akan&lt;br /&gt;mencapai kebahagiaan. Perenungan ini dilakukan di sebelah dalam,&lt;br /&gt;bukan di sebelah luar. Renungkan, dan tanyalah pada diri kalian&lt;br /&gt;sendiri, „Apakah saya di sini atau tidak?" Apakah „guru" hadir di&lt;br /&gt;dalam diri kalian? Apakah kalian terkendali? Apakah guru-hakikat-&lt;br /&gt;diri hadir? Apakah hati sejati yang berdiam di sebelah dalam, unsur&lt;br /&gt;terang dari hakikat luhur, ada atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada, kalian telah berhasil mendapatkan penguasaan,&lt;br /&gt;kebijaksanaan. Jika tidak ada, kalian tidak mendapatkan kebahagiaan&lt;br /&gt;apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memancarkan cahaya juga berarti kebahagiaan. Jika mendapatkan&lt;br /&gt;kebahagiaan, kita akan memancarkan cahaya. Jika tidak, kita tidak&lt;br /&gt;akan memancarkan cahaya. SHR FWO LA YE juga dapat diterjemahkan&lt;br /&gt;sebagai "cahaya api yang menyala". Namun ini bukanlah api dari sifat&lt;br /&gt;pemarah, atau api penderitaan, yang bisa membuat orang&lt;br /&gt;berkata, "Saya terlalu pemarah." Ia bukanlah amarah yang menyala,&lt;br /&gt;melainkan kebijaksanaan. SHR FWO LA YE persis seperti air&lt;br /&gt;kebijaksanaan yang memadamkan api ketidaktahuan; kebijaksanaan-&lt;br /&gt;sejati-asal datang dari api ketidaktahuan – "cahaya api menyala".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat mengucapkan SHR FWO LA YE, orang memancarkan cahaya, tapi&lt;br /&gt;pertama-tama ia harus mendapatkan kebahagiaan. Tanpa kebahagiaan,&lt;br /&gt;kita tidak akan memancarkan cahaya. Ingatlah hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHR FWO LA YE adalah Tangan dan Mata Sari Matahari, dan digunakan&lt;br /&gt;untuk menyembuhkan penyakit mata. Jika mata kabur dan tidak dapat&lt;br /&gt;melihat, gunakan Tangan dan Mata ini untuk menyembuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. Je La Je La&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JE LA JE LA artinya „menjalankan", yaitu gerakan yang laksana&lt;br /&gt;pasukan digerakkan sesuai dengan perintah. Pergerakan ini dilakukan&lt;br /&gt;untuk mengambil tindakan, dan jika tidak mematuhi aturan, orang itu&lt;br /&gt;disebut membangkang terhadap perintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Tangan dan Mata Lonceng Permata. Jika dibunyikan, bunyi&lt;br /&gt;lonceng ini bergetar, dan terdengar di seluruh ruang kosong, juga di&lt;br /&gt;surga; seluruh tiga alam bergetar. Jika sesuatu ingin dikerjakan,&lt;br /&gt;bunyikan saja lonceng ini, dan semua dewa, manusia, hantu, maupun&lt;br /&gt;makhluk halus, juga setan-setan aneh dan makhluk-makhluk jahat, akan&lt;br /&gt;mematuhi perintah yang diberikan dan mengikuti aturan. Misalnya saja&lt;br /&gt;untuk gempa bumi: kita cuma perlu membunyikan lonceng ini, dan&lt;br /&gt;mengeluarkan perintah: tidak boleh ada gempa bumi di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Lonceng Mutiara sangat bermanfaat. Misalnya saja, kalau ada&lt;br /&gt;di antara kita yang ingin bernyanyi dengan suara merdu,&lt;br /&gt;kembangkanlah Tangan dan Mata Lonceng Permata, maka suara yang&lt;br /&gt;keluar dari mulut dia akan sejernih dan semerdu lonceng – seperti&lt;br /&gt;lonceng yang dibunyikan di dalam ruangan. Inilah Tangan dan Mata&lt;br /&gt;Lonceng Permata.&lt;br /&gt;34. Mwo Mwo Fa Mwo La&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO MWO artinya "saya, yang menerima dan memegang". Kata ini&lt;br /&gt;merupakan semacam perintah, panggilan untuk bertindak. Ia mempunyai&lt;br /&gt;arti, "Apapun yang saya lakukan harus pasti berhasil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO MWO adalah Tangan dan Mata Kebutan Putih. Di Tiongkok, pendeta&lt;br /&gt;Tao dan bhiksu Buddha umumnya membawa kebutan. Sesepuh-sesepuh&lt;br /&gt;Buddhis biasanya membawa kebutan tatkala duduk di Kursi Tinggi&lt;br /&gt;membabarkan Dharma. Tangan dan Mata Kebutan Putih digunakan untuk&lt;br /&gt;membersihkan semua rintangan dari tubuh, semua gangguan karma dan&lt;br /&gt;penyakit-penyakit yang menyakitkan. Beberapa kibasan kebutan itu&lt;br /&gt;akan menyembuhkan segala macam rintangan karma dan penyakit-penyakit&lt;br /&gt;yang diakibatkan oleh rintangan setan. Tangan dan Mata Kebutan Putih&lt;br /&gt;banyak gunanya, namun orang yang tahu memakainya sangat sedikit;&lt;br /&gt;setahu saya, saat ini hanya sedikit sekali orang yang mampu&lt;br /&gt;menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Barat pertama yang menerima Sila Sepenuhnya akan kembali&lt;br /&gt;dari Taiwan sebagai bhiksu dan bhiksuni asli. Mereka akan tiba di&lt;br /&gt;lapangan udara sore ini pukul 4.30 dengan China Airlines, nomor&lt;br /&gt;penerbangan 910. Kita sekarang punya sangat banyak mobil, sehingga&lt;br /&gt;semua pelindung Dharma dari Aula Ceramah Buddhis boleh pergi&lt;br /&gt;menjemput, juga semua umat Buddha di San Fransisco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya saya tidak pergi ke pelabuhan udara, tapi terdapat beberapa&lt;br /&gt;tokoh Buddhis yang datang bersama penerbangan itu, dan saya pergi ke&lt;br /&gt;pelabuhan udara untuk menyambut mereka, bukan menyambut murid-murid&lt;br /&gt;saya. Murid-muridku tidak perlu saya sambut, mereka juga tidak perlu&lt;br /&gt;saya antar. Pada waktu akan berangkat, saya bilang pada&lt;br /&gt;mereka, "Ketika masih ternoda, Guru kalian yang akan menyeberangkan&lt;br /&gt;kalian; ketika sudah cerah, kalian harus menyeberangkan diri&lt;br /&gt;sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mereka telah menyeberangkan diri mereka sendiri; mereka&lt;br /&gt;sudah pergi dan kembali, dan pasti mereka tahu jalan pulang. Mereka&lt;br /&gt;tidak memerlukan saya sebagai petunjuk jalan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling menggelikan adalah ketika mereka menyurati saya dan&lt;br /&gt;mengatakan bahwa sekotak Sutra Buddhis telah hilang. Saya&lt;br /&gt;bilang, "Kehilangan sekotak Sutra Buddhis bukan sesuatu yang&lt;br /&gt;penting. Yang penting adalah tidak satu pun di antara kalian yang&lt;br /&gt;hilang. Tidak satu pun di antara mereka yang boleh gagal untuk&lt;br /&gt;kembali. Jika seorang belum kembali, Bodhisattva akan mengulurkan&lt;br /&gt;tangan. Jadi saya cukup yakin bahwa semua dari mereka akan kembali&lt;br /&gt;bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini harus diingat benar-benar: mereka yang kembali hari ini adalah&lt;br /&gt;Patriak Pelopor Buddhis Amerika. Jangan terlalu meremehkan mereka.&lt;br /&gt;Ini nyata dan benar. Mereka bukanlah orang-orang yang menyebut diri&lt;br /&gt;mereka Buddhis untuk selanjutnya tinggal di rumah sebagai&lt;br /&gt;Patriak „yang tinggal di rumah". Beberapa hari yang lalu,&lt;br /&gt;sesungguhnya, seorang di antara Patriak bikinan itu datang ke sini&lt;br /&gt;dan ingin menyanyikan sebuah lagu. „Saya benci mendengarmu&lt;br /&gt;bernyanyi!" saya menggodanya, dan ia kaget lalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FA MWO LA adalah pelindung Vajra Dharma Agung Yang Menaklukkan&lt;br /&gt;Setan, ia memegang sebuah roda emas. Ia bisa merobah tubuhnya&lt;br /&gt;menjadi sebesar Gunung Semeru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FA MWO LA mempunyai arti, „paling jaya, jauh dari noda". Ia&lt;br /&gt;merupakan yang paling tinggi dan juga terpisah dari semua debu yang&lt;br /&gt;kotor. FA MWO LA juga dapat diartikan sebagai „tiada bandingannya,&lt;br /&gt;seperti kehendakmu", karena tidak ada apapun yang dapat dibandingkan&lt;br /&gt;dengannya, dan sesuai dengan pikiranmu, ia seperti kehendakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Tangan dan Mata Istana Peralihan. Untuk apa ia digunakan?&lt;br /&gt;Jika kita mengembangkan Dharma ini, dalam setiap kehidupan kita&lt;br /&gt;dapat hidup di istana yang sama dengan Buddha dan tidak lahir dari&lt;br /&gt;kandungan, telur, atau uap. Kembangkanlah Tangan dan Mata ini agar&lt;br /&gt;selalu bersama Buddha dalam setiap kehidupan; inilah gunanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. Mu Di Li&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MU DI LI adalah Tangan dan Mata Ranting Bambu Buddha. Ini adalah&lt;br /&gt;ranting yang dipegang oleh Bodhisattva Yang mendengarkan Suara Dunia&lt;br /&gt;di satu tangan, sementara tangan yang satunya lagi membawa Botol Air&lt;br /&gt;Suci. Ranting Pohon Bambu dicelupkan ke dalam Botol Air Suci, dan&lt;br /&gt;kemudian dipercikkan kepada semua makhluk hidup. Air suci itu&lt;br /&gt;bukanlah air biasa, melainkan embun manis. Makhluk hidup yang&lt;br /&gt;terperciki olehnya akan mendapatkan berkah yang luar biasa. Embun&lt;br /&gt;manis akan menghilangkan rasa lapar dan haus, dan membuat mereka&lt;br /&gt;menjadi bersih dan sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MU DI LI artinya „pembebasan", pembebasan dari semua penderitaan dan&lt;br /&gt;kesukaran, dari semua penyakit dan keadaan-keadaan yang tidak&lt;br /&gt;menguntungkan. Bodhisattva menggunakan ranting bambu ini untuk&lt;br /&gt;membebaskan semua makhluk hidup dari segala penyakit, kesukaran, dan&lt;br /&gt;keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar, tangan dan mata ini mungkin tampaknya tidak terlalu&lt;br /&gt;penting, namun jika telah menyempurnakannya, kita tidak hanya mampu&lt;br /&gt;membebaskan makhluk hidup dari penderitaan, kesulitan dan penyakit,&lt;br /&gt;juga dari keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan, tetapi juga&lt;br /&gt;dapat menaklukkan setan-setan langit dan agama-agama eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika makhluk-makhluk langit dan pemeluk agama eksternal diperciki&lt;br /&gt;dengan embun manis, mereka akan dengan sendirinya mengubah pikiran&lt;br /&gt;mereka ke arah yang baik, dan mempersembahkan perilaku mereka sesuai&lt;br /&gt;dengan ajaran. Karenanya, Tangan dan Mata ini abadi, tidak habis-&lt;br /&gt;habis, dan tak tertandingi manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embun manis dari Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia tidak&lt;br /&gt;hanya dapat membuyarkan semua kesukaran, menyembuhkan semua&lt;br /&gt;penyakit, dan membebaskan diri kita dari semua keadaan yang tidak&lt;br /&gt;menguntungkan, ia bahkan dapat membuat kita tetap hidup meskipun&lt;br /&gt;waktunya telah tiba untuk kita mati. Tanaman mati diperciki dengan&lt;br /&gt;embun manis akan hidup kembali. Pohon dan tanaman yang telah mati,&lt;br /&gt;jika diperciki dengan embun manis, akan tumbuh lagi; cabang-cabang&lt;br /&gt;dan daun-daun baru yang akan tumbuh lagi, mekar, dan berbuah.&lt;br /&gt;Makhluk hidup yang mendapatkan embun manis bahkan akan mendapatkan&lt;br /&gt;manfaat yang lebih ajaib lagi, lebih tidak habis-habis. Itulah&lt;br /&gt;Tangan Ranting Bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Yi Syi Yi Syi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YI SYI YI SYI adalah Tangan dan Mata Tongkat Tulang Tengkorak. YI&lt;br /&gt;SYI YI SYI artinya "patuh pada ajaran", dengan kata lain, pada waktu&lt;br /&gt;kita menyuruh orang berbuat sesuatu, ia melakukannya; jika kita&lt;br /&gt;mengajarinya sesuatu, ia berbuat sesuai dengan ajaran itu. Ini juga&lt;br /&gt;berarti "hati tiba", yaitu, apapun yang diidamkan di dalam hati,&lt;br /&gt;akan terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat mantra ini membuat Raja Surga Mahesvara, raja iblis yang&lt;br /&gt;menganggap dirinya yang paling besar, mengatupkan telapak tangannya&lt;br /&gt;dan mempersembahkan perilakunya sesuai dengan ajaran. Tidak ada cara&lt;br /&gt;baginya untuk menghindar dari berbuat seperti itu. Jadi tatkala YI&lt;br /&gt;SYI YI SYI diucapkan, ia datang, dan apapun yang kita inginkan, kita&lt;br /&gt;tinggal memberitahunya, dan ia akan melaksanakan perintah itu dengan&lt;br /&gt;segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulang Tengkorak adalah tengkorak manusia. Bodhisattva menggunakan&lt;br /&gt;kalimat dari mantra dan tulang tengkorak ini untuk berlatih dan&lt;br /&gt;menyempurnakan keahliannya. Ketika telah disempurnakan, ia disebut&lt;br /&gt;Tongkat Tulang Tengkorak. Kalau ada orang yang membawa Tongkat&lt;br /&gt;Tulang Tengkorak, semua hantu dan makhluk halus harus mematuhi&lt;br /&gt;perintahnya atau dihukum. Kekuatan kalimat dari mantra ini tak&lt;br /&gt;terbayangkan.&lt;br /&gt;37. Shr Nwo Shr Nwo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini mempunyai arti „kebijaksanaan agung". Ia juga&lt;br /&gt;berarti „sumpah luas". Ini adalah Tangan dan Mata Cermin Permata.&lt;br /&gt;Cermin Permata adalah lambang dari Kebijaksanaan Cermin Sempurna&lt;br /&gt;Agung Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu kebijaksanaan agung? Kebijaksanaan agung artinya keadaan&lt;br /&gt;tanpa pikiran salah, pikiran yang dipunyai makhluk hidup. Dengan&lt;br /&gt;kebijaksanaan agung, semua pikiran adalah perujudan dari&lt;br /&gt;kebijaksanaan Prajna sejati, kebijaksanaan cahaya terang agung. Jika&lt;br /&gt;mempunyai kebijaksanaan sejati, kita akan memiliki cahaya terang,&lt;br /&gt;tapi jika tidak, kita bodoh dan berada di dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya terang adalah cahaya yang, sementara kegelapan adalah energi&lt;br /&gt;yin. Mengapa orang bodoh? Karena energi yin-nya terlalu tinggi.&lt;br /&gt;Mengapa orang bijaksana? Karena cahaya yang-nya lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang memiliki kebijaksanaan agung tidak berpikir seperti&lt;br /&gt;orang biasa. Mereka dapat dengan jelas membedakan yang benar dari&lt;br /&gt;yang salah. Mereka tidak perlu bertanya pada orang lain; mereka&lt;br /&gt;telah mengetahui sendiri. Mereka tidak mengambil jalan yang salah;&lt;br /&gt;mereka menempuh jalan yang benar dan berkembang. Di dalam&lt;br /&gt;pengembangan, pertama-tama yang harus dimiliki adalah kebijaksanaan&lt;br /&gt;agung. Dengan memiliki kebijaksanaan agung, mana yang benar dan mana&lt;br /&gt;yang salah akan diketahui dengan jelas, sehingga jalan yang benar&lt;br /&gt;dapat ditempuh dan jalan yang salah dijauhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kebanyakan orang tidak mengetahui dengan jelas suatu perbuatan&lt;br /&gt;itu salah; mereka tetap ngotot melakukannya. Mereka tidak tahu&lt;br /&gt;dengan jelas apakah perbuatan itu melanggar sila, namun tetap mereka&lt;br /&gt;lakukan. Untuk sekedar mencobanya, kata mereka. Cuma untuk melihat&lt;br /&gt;apakah perbuatan itu benar-benar merupakan pelanggaran. Sikap&lt;br /&gt;seperti ini adalah suatu kedunguan, dan menunjukkan sama sekali&lt;br /&gt;tiadanya kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bukan begitu," di antara kalian mungkin ada yang menyangkal, „saya&lt;br /&gt;memiliki kebijaksanaan. Saya cuma berbuat salah pada saat itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat salah sekali saja pun telah menunjukkan bahwa seseorang itu&lt;br /&gt;bodoh dan tidak memiliki kebijaksanaan. Orang yang memiliki&lt;br /&gt;kebijaksanaan agung tidak memiliki pikiran yang ternoda. Sehingga&lt;br /&gt;Yang Arya Ananda berkata, "Musnahkanlah pikiran kotorku yang sudah&lt;br /&gt;berjuta ribu tahun lamanya; agar aku tidak perlu melalui tak&lt;br /&gt;terhitungnya banyaknya tahun untuk mencapai tubuh Dharma."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejuta ribu tahun, bukan cuma satu, dua, tiga, empat, lima, atau&lt;br /&gt;seratus ribu tahun, itulah pikiran kotor yang berumur tak terhitung&lt;br /&gt;tahunnya, yang hendak beliau musnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mengapa hati kita begitu sesak dengan pikiran kotor? Pada&lt;br /&gt;saat pikiran kotor yang salah telah berlalu, pikiran salah yang lain&lt;br /&gt;menggantikan tempatnya, dan jika yang itu juga berlalu, yang lain&lt;br /&gt;datang lagi menggantikannya. Sama seperti gelombang samudra. Orang&lt;br /&gt;mungkin mengira bahwa samudra itu benda mati, namun sesungguhnya ia&lt;br /&gt;tidak berada di sebelah luar hati kita. Ia berada di dalam hati&lt;br /&gt;makhluk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang lautan tidak pernah berhenti naik dan turun, dan dengan&lt;br /&gt;cara yang sama, pikiran salah kita tidak pernah berhenti. Ia&lt;br /&gt;berlanjut terus, satu pikiran salah setelah pikiran salah yang lain,&lt;br /&gt;berputar dan berputar, terus dan terus, dalam arus yang tidak pernah&lt;br /&gt;berhenti. Dan tidak satu pun di antara mereka yang mau tertinggal di&lt;br /&gt;belakang; mereka semua berpacu ke depan. Mengapa orang menjadi&lt;br /&gt;bingung oleh pikiran salah seperti itu? Karena ia tidak memiliki&lt;br /&gt;kebijaksanaan. Jika ia bijaksana, tidak akan ada gelombang di dalam&lt;br /&gt;air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin boleh bertiup, tapi sia-sia ia berhembus. Karena tiada riak di&lt;br /&gt;dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kekuatan samadhi tercapai di dalam latihan, ia laksana&lt;br /&gt;samudra tanpa gelombang. Tatkala konsentrasi muncul, air&lt;br /&gt;kebijaksanaan terwujud tanpa satu gelombang pun, tanpa satu pikiran&lt;br /&gt;salah sekalipun. Itulah saat bagi kesucian dan kejernihan sejati.&lt;br /&gt;Sesungguhnyalah, orang tidak dikotori oleh setitik debu pun, dan&lt;br /&gt;bermilyar-milyar tanah itu sebenarnya kosong. Inilah perujudan dari&lt;br /&gt;kebijaksanaan agung. Orang dengan kebijaksanaan agung selalu&lt;br /&gt;berhasil dalam apapun yang ia kerjakan. Sementara orang tanpa&lt;br /&gt;kebijaksanaan gung, selalu gagal dalam semua yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;Sehingga, kebijaksanaan adalah yang paling penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu kebodohan? Ketidaktahuan adalah kebodohan; kebodohan adalah&lt;br /&gt;persis sama dengan ketidaktahuan. Ketika ketidaktahuan muncul, orang&lt;br /&gt;menjadi tidak jelas. Cobalah bertanya pada orang yang baru berbuat&lt;br /&gt;salah, "Mengapa engkau melakukannya?" dan mungkin ia akan&lt;br /&gt;menjawab, "Saya tidak tahu…."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kebodohan, tiadanya kebijaksanaan dan pengertian. Namun,&lt;br /&gt;meskipun telah bertindak salah sebagai akibat dari ketidaktahuan,&lt;br /&gt;mereka tidak akan mengakui kebodohan mereka itu. "Saya tahu," ngotot&lt;br /&gt;mereka, "saya tahu itu salah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali bukan? Sebenarnya, orang-orang bodoh cuma tidak memiliki&lt;br /&gt;Kebijaksanaan Cermin Sempurna, dan mereka belum mengembangkan Tangan&lt;br /&gt;dan Mata Cermin Permata. Jika mereka telah memilikinya, mereka tidak&lt;br /&gt;akan bodoh, apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setan datang, sembelih setan;&lt;br /&gt;jika Buddha datang, sembelih Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seperti memegang pisau yang sedemikian tajam, sehingga ia&lt;br /&gt;memotong segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Kebijaksanaan&lt;br /&gt;agung seperti pisau; ia juga seperti pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pedang kebijaksaan sangat berat," barangkali ada yang bilang&lt;br /&gt;begitu. „Tidaklah mudah mengangkatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu cuma karena ia belum mengangkatnya. Jika sudah mengangkatnya, ia&lt;br /&gt;pasti akan tahu bahwa tidak perlu tenaga untuk mengangkatnya.&lt;br /&gt;Sebelum diangkat, pedang itu pasti berat. Jika telah diangkat,&lt;br /&gt;pedang itu menjadi ringan. Jika kita tidak mengangkatnya, apa yang&lt;br /&gt;ringan menjadi berat. Jika telah benar-benar diangkat, apa yang&lt;br /&gt;berat menjadi ringan. Mengapa? Karena kita mengangkatnya.&lt;br /&gt;Jika ada yang bilang, „Saya tahu bahwa pedang kebijaksanaan sangat&lt;br /&gt;penting, tapi pedang itu terlalu berat. Saya tidak mampu&lt;br /&gt;mengangkatnya," dan karenanya ia tidak mengangkatnya, lalu pedang&lt;br /&gt;itu menjadi benar-benar berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika ia mengulurkan tangan, menggenggamnya, dan&lt;br /&gt;mengangkatnya, maka semua keadaan akan dimengerti. Semua akan&lt;br /&gt;dimengerti seketika semua itu bersentuhan dengan pedang, tanpa&lt;br /&gt;kesulitan apapun. Sehingga saya sering mengatakan pada kalian&lt;br /&gt;bahwa, „Segala sesuatu itu OK!" Itulah prinsipnya. Jika segala&lt;br /&gt;sesuatu tidak OK, itu karena kalian tidak memiliki pedang&lt;br /&gt;kebijaksanaan, tidak akan ada masalah apapun. Masalah apa yang bisa&lt;br /&gt;muncul di sana? Tidak ada sama sekali. Yang ajaib itu benar di titik&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung-gunung, sungai-sungai, tanah, bangunan, Dunia Jasa Yang&lt;br /&gt;Bergantungan juga Dunia Jasa Benar – semua tidak berada di luar&lt;br /&gt;pikiran kita. Semuanya ada di dalam hati masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu Dunia Jasa Yang Bergantungan? Gunung-gunung, sungai-sungai,&lt;br /&gt;bumi, dan semua bangunan disebut Dunia Jasa Yang Bergantungan. Dunia&lt;br /&gt;Jasa Benar adalah tubuh kita, yang mengalami balas jasa yang tepat.&lt;br /&gt;Jika kita bisa memahami balas jasa atau hukum karma ini dengan tepat&lt;br /&gt;pada saat mengalaminya, tidak akan ada lagi yang tidak diketahui.&lt;br /&gt;Tiadanya ketidaktahuan adalah kebijaksanaan. Dan ini dapat&lt;br /&gt;diumpamakan dengan cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu obyek lewat, ia memantulkannya.&lt;br /&gt;Obyek pergi, cermin jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin tidak melekat. Orang yang memiliki kebijaksanaan akan&lt;br /&gt;memperhatikan segala sesuatu, kemudian membiarkannya berlalu;&lt;br /&gt;hatinya tidak melekat pada obyek-obyek itu. Meskipun ia tidak&lt;br /&gt;menyimpannya, obyek-obyek itu selalu terujud. Dan meskipun obyek-&lt;br /&gt;obyek itu terus-menerus terujud, ia tidak menyimpannya. Kita orang&lt;br /&gt;awam yang tidak memiliki kebijaksanaan harus mengadakan usaha khusus&lt;br /&gt;untuk mengingat sesuatu, atau barangkali harus menghafalnya berkali-&lt;br /&gt;kali: "Yi syi, yi syi, shr nwo, shr nwo…."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengucapkannya sekali kemudian lupa, mengucapkannya dua kali,&lt;br /&gt;tiga kali, beberapa ratus kali, dan tetap saja tidak mampu&lt;br /&gt;mengingatnya. Ini adalah pemaksaan. Bukan merupakan pemaksaan jika&lt;br /&gt;engkau mampu melihatnya sekali dan tidak melupakannya, tatkala ia&lt;br /&gt;lewat di depan matamu dan tidak terlupakan, karena kebijaksanaanmu&lt;br /&gt;seperti cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarilah, bahwa segala sesuatu itu terkandung di dalam hati. Dengan&lt;br /&gt;menyadari hal ini, orang tidak akan menjadi serakah, benci, bodoh,&lt;br /&gt;angkuh, atau penuh keraguan. Mengapa? Karena segala sesuatu itu&lt;br /&gt;muncul dari hati; ini adalah segala sesuatu yang pada mulanya&lt;br /&gt;dimiliki hati kita. Baik atau buruk, tidak merupakan masalah. Tidak&lt;br /&gt;ada apapun yang menimbulkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun gampang sekali membicarakan keadaan seperti itu, untuk&lt;br /&gt;meraihnya memerlukan sedikit keahlian. Perlu keahlian untuk meraih&lt;br /&gt;tingkatan itu. Mereka yang tidak memiliki keahlian, yang&lt;br /&gt;berkata, „Tidak ada apapun yang merupakan masalah bagiku," mungkin&lt;br /&gt;di luar tampak tidak memiliki masalah, tapi masalah muncul di&lt;br /&gt;sebelah dalam, dan mereka bertempur dengan diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Mereka yang memiliki kebijaksanaan sejati sungguh langka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus juga diketahui bahwa ada orang dengan kebijaksanaan duniawi&lt;br /&gt;dan ada yang memiliki kebijaksanaan transeden. Mereka yang memiliki&lt;br /&gt;kecerdasan duniawi yang hebat, bisa menghasilkan suatu cara pada&lt;br /&gt;saat kebutuhan mereka muncul. Di mana tidak ada prinsip atau cara,&lt;br /&gt;mereka bisa menciptakannya; satu prinsip yang terdengar sangat masuk&lt;br /&gt;akal. Kalau orang mendengarnya, mereka pikir, „Ia tidak jelek. Apa&lt;br /&gt;yang dikatakannya masuk akal sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kalau orang mempunyai kebijaksanaan sejati, ia tidak&lt;br /&gt;akan ditarik oleh orang yang memiliki kecerdasan duniawi hanyut di&lt;br /&gt;dalam kebodohan. Doktrin bodoh yang dikemukakannya tidak akan&lt;br /&gt;membuat orang bijaksana ikut-ikutan bodoh. Dikatakan bahwa, „Di&lt;br /&gt;dalam yang ada yin." Di dalam kebijaksanaan ada kebodohan –&lt;br /&gt;kebijaksanaan yang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, „Di dalam yin ada yang." Di dalam kebodohan terdapat&lt;br /&gt;kebijaksanaan. Misalnya saja, barangkali kalian pernah melihat orang&lt;br /&gt;yang tidak banyak bicara dan kelihatannya sangat biasa, namun segala&lt;br /&gt;sesuatu dilakukannya dengan benar. Ia mungkin terlihat bodoh dan&lt;br /&gt;lamban, tapi ia selalu berbuat selaras dengan kaidah. Banyak&lt;br /&gt;terdapat orang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengamati orang lain, kita akan melihat apakah kita, diri kita&lt;br /&gt;sendiri, memiliki kebijaksanaan atau tidak. Jika memiliki&lt;br /&gt;kebijaksanaan sejati, kita tidak akan dikendalikan oleh orang lain&lt;br /&gt;menuju kebodohan; jika tidak memiliki kebijaksanaan, kita akan&lt;br /&gt;dibawa ke jurang kebodohan. Demikian juga dengan kebijaksanaan dan&lt;br /&gt;hal-hal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijaksanaan dan kebodohan memiliki hubungan langsung. Tiadanya&lt;br /&gt;kebodohan adalah kebijaksanaan, dan tiadanya kebijaksanaan adalah&lt;br /&gt;kebodohan. Kebodohan sendiri adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan&lt;br /&gt;adalah kebodohan. Mengapa bisa begitu? Kebijaksanaan dan kebodohan&lt;br /&gt;adalah satu. Jika kita mampu memanfaatkannya, itu adalah&lt;br /&gt;kebijaksanaan; jika tidak, itu adalah kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, jika kita memungut pedang kebijaksanaan, itulah&lt;br /&gt;kebijaksanaan; jika melepaskannya jatuh, itu adalah kebodohan.&lt;br /&gt;Mereka bukanlah dua hal; hanya ada satu. Jadi jangan bilang bahwa&lt;br /&gt;kalian akan mencari kebijaksanaan dan membuang kebodohan. Bukan&lt;br /&gt;demikian cara kerjanya. Ini cuma masalah „membalik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah telapak tangan adalah kebijaksanaan dan punggung tangan&lt;br /&gt;adalah kebodohan. Jika orang mencoba menggenggam sesuatu dengan&lt;br /&gt;punggung tangannya, ia tak akan berhasil. Namun, dengan menggunakan&lt;br /&gt;telapak tangannya, ia akan berhasil. Tidak mampu memungut adalah&lt;br /&gt;kebodohan, dan mampu memungut adalah kebijaksanaan. Ini adalah&lt;br /&gt;sesuatu dengan dua sisi, dan terserah kepada diri masing-masing,&lt;br /&gt;sisi mana yang ingin digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang, „Saya sekarang telah memahami Buddhadharma!&lt;br /&gt;Kebijaksanaan dan kebodohan adalah tanganku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah lagi! Tangan adalah perumpamaan. Jangan berpikir bahwa&lt;br /&gt;kebijaksanaan dan kebodohan adalah tangan. Ini mirip dengan&lt;br /&gt;perumpamaan jari dengan bulan. Jika ada orang yang menunjuk kepada&lt;br /&gt;bulan, jangan menganggap jari sebagai bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHR NWO SHR NWO mempunyai arti „kebijaksanaan agung" dan "sumpah&lt;br /&gt;luas". Sumpah dibuat untuk menyelesaikan sesuatu. Misalnya, sebelum&lt;br /&gt;Buddha Amitabha menyadari Kebuddhaan, tatkala ia masih berlatih&lt;br /&gt;sebagai seorang bhiksu, ia membuat Empat Puluh Delapan Sumpah Agung.&lt;br /&gt;Bodhisattva Samantabhadra juga membuat Sepuluh Sumpah Raja.&lt;br /&gt;Bodhisattva Yang Memperhatikan Suara Dunia juga membuat banyak&lt;br /&gt;sumpah, demikian juga halnya dengan para Sesepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bercerita tentang sumpah, tapi apakah semua akan bersumpah atau&lt;br /&gt;tidak itu terserah pada diri masing-masing. Saya memunculkan&lt;br /&gt;persoalan ini karena saya tahu banyak yang tidak paham. Namun bukan&lt;br /&gt;merupakan wewenang saya untuk memaksa orang bersumpah. Sekarang&lt;br /&gt;karena kita sedang belajar Buddhadharma, tiap orang harus membuat&lt;br /&gt;sumpahnya sendiri-sendiri, lebih agung lebih baik. Semakin besar&lt;br /&gt;kekuatan sumpah yang dinyatakan, semakin besar pencapaian yang&lt;br /&gt;diperoleh nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sekarang sedang belajar Buddhadharma di dalam dunia ini, dan&lt;br /&gt;belum menyadari Kebuddhaan; kita semestinya membuat sumpah kita juga&lt;br /&gt;sesuai dengan keadaan kita. Setiap orang harus menulisnya dengan&lt;br /&gt;rinci. Jangan cengeng atau ikut-ikutan, atau sekedar&lt;br /&gt;bersumpah, "Saya bersumpah untuk menyelamatkan makhluk hidup!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh? Bagaimana caranya kalian akan menyelamatkan makhluk hidup?&lt;br /&gt;Semua yang kalian pikirkan setiap hari adalah mengenakan pakaian&lt;br /&gt;bagus, makan enak, dan tinggal di tempat yang nyaman; menyelamatkan&lt;br /&gt;makhluk hidup di dalam mulut, di dalam perut, dan di atas tubuh,&lt;br /&gt;barangkali. Itu tidak dibolehkan. Kita harus membuat sumpah yang&lt;br /&gt;jelas, rinci, apa akibatnya di masa sekarang dan masa yang akan&lt;br /&gt;datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masa lalu, lupakan saja, apakah kita telah berusaha atau&lt;br /&gt;berlatih. Apa yang akan kita lakukan di masa yang akan datang?&lt;br /&gt;Setiap dan masing-masing dari kia harus membuat sumpah. Semakin&lt;br /&gt;agung sumpah yang dinyatakan sekarang, dalam keadaan ini, semakin&lt;br /&gt;besar manfaatnya di masa yang akan datang. Jika kekuatan sumpah&lt;br /&gt;dipusatkan di dalam pori-pori rambut, sumpah itu juga dapat&lt;br /&gt;dinyatakan di dalam pori-pori rambut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah adalah janji yang khidmat, dan semua yang mempelajari ajaran&lt;br /&gt;Sang Buddha harus membuatnya. Sumpah itu penting, karena tanpanya&lt;br /&gt;kita akan kehilangan arah. Sama seperti berjalan tanpa tahu akan ke&lt;br /&gt;mana, atau apakah jalan yang ditempuh telah benar. Jika kita&lt;br /&gt;bersumpah, kita memiliki pemandu jalan yang akan menunjukkan arah&lt;br /&gt;perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa semua Buddha dan Bodhisattva membuat sumpah saat sedang&lt;br /&gt;mengembangkan Jalan? Itu karena, sekali orang membuat sumpah, ia&lt;br /&gt;bisa menyesuaikan dirinya dengan sumpah itu. Misalnya saja,&lt;br /&gt;Bodhisattva Penyanggah Bumi membuat beberapa sumpah. Ia bilang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika neraka belum kosong,&lt;br /&gt;aku bersumpah tidak akan menjadi Buddha;&lt;br /&gt;Jika semua makhluk telah diselamatkan,&lt;br /&gt;hanya pada saat itu akan kupastikan pencapaian Bodhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan sumpahnya sungguh luar biasa! Kita juga harus membuat&lt;br /&gt;sumpah. Setiap dari kita harus membuat sumpah sesuai dengan apa yang&lt;br /&gt;akan kita lakukan.&lt;br /&gt;38. E La Shen Fwo La She Li&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E LA SHEN mempunyai arti „Raja Pemutar Roda Dharma". Ini adalah Raja&lt;br /&gt;Dharma yang memutar Roda Dharma, terus-menerus membabarkan Dharma&lt;br /&gt;Wadah Agung yang ajaib. Doktrin yang dijelaskan tatkala kita sedang&lt;br /&gt;membabarkan Dharma ini adalah sangat dalam, halus, dan ajaib. Yang&lt;br /&gt;lain tidak dapat menyatakan Dharma yang sehalus dan sedalam itu,&lt;br /&gt;namun kita dapat menjelaskannya dengan rinci. Itulah yang dimaksud&lt;br /&gt;oleh kalimat dari mantra ini. Ini adalah Tangan dan Mata Buddha&lt;br /&gt;Peralihan. Dharma ini harus dikembangkan, karena dengan&lt;br /&gt;mengembangkannya, dalam setiap kehidupan kita akan dilahirkan di&lt;br /&gt;dekat para Buddha dan dapat mengikuti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat juga orang lain yang menjelaskan Mantra Welas Asih Agung&lt;br /&gt;ini. Misalnya saja, terdapat seorang Guru Dharma yang telah&lt;br /&gt;mengambil setiap Tangan dan Mata dan menjelaskannya sebagai suatu&lt;br /&gt;Bodhisattva. Misalnya, ia mengatakan bahwa Tangan dan Mata Buddha&lt;br /&gt;Peralihan di atas Tahta adalah Tangan dan Mata Bodhisattva Buddha&lt;br /&gt;Peralihan di atas Tahta. Perbedaan dua istilah ini cuma setipis&lt;br /&gt;sehelai rambut tapi hasilnya bisa terpisah ribuan mil. Mengapa?&lt;br /&gt;Karena tidak ada Bodhisattva seperti itu. Bacalah seluruh Tripitaka&lt;br /&gt;kalau mau, dari awal hingga akhir, dan tidak akan ditemukan&lt;br /&gt;Bodhisattva bernama "Buddha Peralihan di atas Tahta".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang boleh mengatakannya sebagai Tangan dan Mata Buddha Peralihan&lt;br /&gt;di atas Tahta yang dikembangkan oleh Bodhisattva, tetapi jangan&lt;br /&gt;menyebutnya sebagai Bodhisattva Tangan dan Mata Buddha Peralihan di&lt;br /&gt;atas Tahta. Menyebutnya seperti itu, akan merupakan suatu kesalahan&lt;br /&gt;besar. Kita tidak bisa bilang, "Ini adalah Tangan dan Mata&lt;br /&gt;Bodhisattva Mangkok Permata", kita hanya dapat mengatakan, "Ini&lt;br /&gt;adalah Tangan dan Mata Mangkok Permata yang dikembangkan oleh&lt;br /&gt;Bodhisattva".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangkok permata, dengan kata lain, bukanlah nama Bodhisattva. Di&lt;br /&gt;dalam komentar mengenai Mantra Welas Asih Agung yang akhir-akhir ini&lt;br /&gt;datang dari Hong Kong, Empat Puluh Dua Tangan ditulis sebagai nama&lt;br /&gt;dari Empat Puluh Dua Bodhisattva. Itu salah. Empat Puluh Dua Tangan&lt;br /&gt;semuanya dikembangkan oleh Bodhisattva. Siswa-siswa Buddhadharma&lt;br /&gt;harus mengingat hal ini, dan tidak membuat pernyataan yang tidak&lt;br /&gt;didasarkan pada kenyataan sebenarnya. Dalam menjelaskan&lt;br /&gt;Buddhadharma, kita harus memiliki landasan yang kokoh berkenaan&lt;br /&gt;dengan apa yang dikatakan, atau kalau tidak, apa yang kita katakan&lt;br /&gt;hanya akan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E LA SHEN adalah Tangan dan Mata Buddha Peralihan yang dikembangkan&lt;br /&gt;Bodhisattva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bodhisattva yang mana?" mungkin ada yang bertanya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bukan Bodhisattva tertentu. Siapapun yang mengembangkan Empat&lt;br /&gt;Puluh Dua Tangan dan Mata adalah Bodhisattva itu. Siapapun yang&lt;br /&gt;tidak mengembangkannya bukan Bodhisattva itu. Jika ada di antara&lt;br /&gt;kalian yang mengembangkan Empat Puluh Dua Tangan dan Mata dan&lt;br /&gt;berhasil, maka ia dapat memastikan pencapaian tingkatan Bodhisattva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FWO LA SHE LI bermakna, "benih cerah jasmani". Ini adalah Tangan dan&lt;br /&gt;Mata Tasbih Pengucapan yang dikembangkan oleh Bodhisattva. Pada saat&lt;br /&gt;Bodhisattva mengembangkan Tangan dan Mata ini, para Buddha di&lt;br /&gt;sepuluh arah akan segera datang untuk meramalkan keadaannya dan&lt;br /&gt;membawa dia ke sepuluh arah untuk menyadari Kebuddhaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. Fa Sha Fa Shen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FA SHA FA SHEN artinya "kata-kata yang menggembirakan, senyum yang&lt;br /&gt;menggembirakan". Ini tiada lain tiada bukan, gembira dalam berkata-&lt;br /&gt;kata, sangat gembira bahkan. Ia juga mempunyai arti „pahlawan agung"&lt;br /&gt;dan „ksatria tanpa tandingan". Inilah tiga arti yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FA SHA FA SHEN adalah Tangan dan Mata Busur Permata. Dengan&lt;br /&gt;mengembangkannya, untuk orang yang berumahtangga, ia akan&lt;br /&gt;mendapatkan jabatan tinggi; untuk orang yang telah meninggalkan&lt;br /&gt;rumah, ia boleh memastikan buah Kearhatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. Fwo La She Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, di dalam FWO LA SHE LI, SHE LI mempunyai arti "benih&lt;br /&gt;jasmani". Di dalam FWO LA SHE YE, SHE YE artinya "gajah". Pada saat&lt;br /&gt;hati kita telah cerah, kita adalah Pangeran Gajah, atau dengan kata&lt;br /&gt;lain Pangeran Dharma. Kita bisa menjadi Raja Dharma tertinggi dari&lt;br /&gt;pintu Dharma. Secara umum, kalimat ini berarti "pangeran gajah yang&lt;br /&gt;paling mulia dengan hati yang sudah cerah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat FWO LA SHE YE menyatakan tubuh sejati Buddha Amitabha.&lt;br /&gt;Buddha Amitabha adalah guru dari Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara&lt;br /&gt;Dunia. Karena Bodhisattva juga menghormati gurunya, ia memberi&lt;br /&gt;hormat padanya saat mengucapkan Mantra Welas Asih Agung. Dalam&lt;br /&gt;kalimat ini, Buddha Amitabha memancarkan cahaya untuk menerangi&lt;br /&gt;siapapun yang menjunjung mantra ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FWO LA SHE YE adalah Tangan dan Mata Teratai Ungu. Di dalam Empat&lt;br /&gt;Puluh Dua Tangan dan Mata terdapat Tangan dan Mata Teratai Putih,&lt;br /&gt;Tangan dan Mata Teratai Biru, Tangan dan Mata Teratai Ungu, dan&lt;br /&gt;Tangan dan Mata Teratai Merah. Jika orang mengembangkan Tangan dan&lt;br /&gt;Mata ini, ia bisa bertemu dengan para Buddha dari sepuluh penjuru.&lt;br /&gt;Untuk alasan ini, Tangan dan Mata Teratai Ungu penting sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41. Hu Lu Hu Lu Mwo La&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HU LU HU LU MWO LA berarti „melaksanakan Dharma seperti kehendakmu".&lt;br /&gt;Artinya juga „pelaksanaan Dharma tidak terpisah dari saya". Ini&lt;br /&gt;adalah Tangan dan Mata Jade. Pengembangan Empat Puluh Dua Tangan dan&lt;br /&gt;Mata disebut „pelaksanaan Dharma". „Seperti kehendakmu" mempunyai&lt;br /&gt;arti selaras dengan jalan yang kita inginkan dalam hati kita.&lt;br /&gt;Menyempurnakan pengembangan Tangan dan Mata, berarti „selaras dengan&lt;br /&gt;hati kita, sesuai dengan kehendak kita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Pelaksanaan Dharma tidak terpisah dari saya" artinya dalam berlatih&lt;br /&gt;adalah diri sendiri yang harus berlatih. Orang harus melakukannya&lt;br /&gt;sendiri. Jika saya mengembangkan Dharma, Dharma tidak terpisah dari&lt;br /&gt;saya dan saya tidak terpisah dari Dharma. Dharma dan saya adalah&lt;br /&gt;satu. Lalu, di sana tidak ada Dharma maupun saya, dan dia&lt;br /&gt;kemelekatan pada diri dan Dharma adalah kosong. Tidak terdapat&lt;br /&gt;kemelekatan pada diri dan tidak ada kemelekatan pada Dharma. Itulah&lt;br /&gt;yang dimaksud dengan „tidak terpisah dari saya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan dan Mata Jade, jika dikembangkan, dapat membuat semua makhluk&lt;br /&gt;hidup mematuhi perintah kita. Mereka akan berlatih sesuai dengan&lt;br /&gt;Dharma apapun yang kita nyatakan pada mereka untuk dikembangkan,&lt;br /&gt;dengan patuh sekali.&lt;br /&gt;42. Hu Lu Hu Lu Syi Li&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HU LU HU LU SYI LI berarti „melaksanakan Dharma tanpa&lt;br /&gt;pemikiran", dan juga „melaksanakan Dharma dengan&lt;br /&gt;bahagia". „Seperti kehendakmu" dalam HU LU HU LU MWO&lt;br /&gt;LA masih mempertahankan „kehendak" atau „pikiran".&lt;br /&gt;Dengan HU LU HU LU SYI LI, tidak secuil pemikiran pun&lt;br /&gt;yang muncul saat melaksanakan Dharma. Jika masih ada&lt;br /&gt;secuil pemikiran, maka itu adalah pikiran yang salah.&lt;br /&gt;Tanpa pemikiran, pikiran yang salah juga tidak ada.&lt;br /&gt;Dan karena tidak terdapat pikiran yang salah, kita&lt;br /&gt;dapat „melaksanakan Dharma dengan bahagia", dan&lt;br /&gt;menjadi ia yang „memperhatikan dengan penuh&lt;br /&gt;kebahagiaan", yaitu, Bodhisattva Yang Mendengarkan&lt;br /&gt;Suara Dunia dengan penuh Kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat dari mantra ini adalah Tangan Mangkok Permata,&lt;br /&gt;yang ketiga dari Empat Puluh Dua Tangan. Tangan dan&lt;br /&gt;Mata ini dapat menyembuhkan makhluk hidup dari&lt;br /&gt;penderitaan yang disebabkan oleh penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pernah mendengar orang yang telah pergi&lt;br /&gt;meninggalkan rumah, memantrai secangkir Air Welas Asih&lt;br /&gt;Agung dan memberikannya pada orang yang sakit untuk&lt;br /&gt;diminum. Setelah diminum, kadang-kadang penyakit orang&lt;br /&gt;itu sembuh, kadang-kadang tidak. Ini tergantung kepada&lt;br /&gt;sebab dan kondisi. Apabila kondisinya tepat, dengan&lt;br /&gt;meminum  Air Welas Asih Agung, orang itu kemungkinan&lt;br /&gt;besar akan sembuh, dan kemudian menjadi percaya pada&lt;br /&gt;Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia. Apabila&lt;br /&gt;tidak sembuh, ia mungkin tidak mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sebenarnya adalah – saya hendak mewariskan suatu&lt;br /&gt;Dharma pada semua – dalam memberikan kekuatan pada Air&lt;br /&gt;Welas Asih Agung, kita tidak perlu membaca habis&lt;br /&gt;seluruh Mantra Welas Asih Agung. Cukup dengan&lt;br /&gt;mengucapkan HU LU HU LU SYI LI. Ucapkanlah lima kali,&lt;br /&gt;kemudian hembuskan nafas tiga kali ke permukaan air.&lt;br /&gt;Berikan kepada orang yang sakit untuk diminum, dan&lt;br /&gt;penyakitnya akan segera sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya, orang sakit itu tidak sembuh, ada kalanya&lt;br /&gt;juga ia langsung sembuh. Semuanya tergantung kepada&lt;br /&gt;pertalian hubungan antara orang yang membaca mantra&lt;br /&gt;dengan orang yang sakit. Apabila terdapat suatu&lt;br /&gt;pertalian antara orang yang memantrai air suci dengan&lt;br /&gt;orang yang sakit, jika ia meminum Air Welas Asih Agung&lt;br /&gt;itu, ia akan sembuh. Jika tidak terdapat suatu&lt;br /&gt;pertalian hubungan seperti itu, ia boleh meminumnya,&lt;br /&gt;tapi ia tidak akan mempunyai keyakinan di dalamnya,&lt;br /&gt;dan karenanya tidak akan sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, terdapat berbagai kondisi yang membangun&lt;br /&gt;landasan hubungan Dharma. Jika orang tulus dan&lt;br /&gt;berlatih, ia boleh meminumnya lantas sembuh. Jika ia&lt;br /&gt;berlatih tetapi tidak tulus dengan Mantra Welas Asih&lt;br /&gt;Agung, walaupun meminumnya ia tidak akan sembuh. Jika&lt;br /&gt;orang itu tulus terhadap mantra dan tidak berlatih, ia&lt;br /&gt;boleh meminumnya dan tetap sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang memiliki rintangan karma berat boleh&lt;br /&gt;meminum air itu, tapi air itu tidak akan punya cukup&lt;br /&gt;potensi untuk menyembuhkan penyakit mereka. Mereka&lt;br /&gt;yang punya rintangan karma ringan boleh meminum Air&lt;br /&gt;Welas Asih Agung dan mendapatkan kekuatan luar biasa.&lt;br /&gt;Kekuatan apa? Kekuatan yang diperoleh dari pengucapan&lt;br /&gt;Mantra Welas Asih Agung yang tanpa henti, yang&lt;br /&gt;menciptakan suatu kekuatan dari Jalan – mau&lt;br /&gt;mendengarkan dan kemanjuran; ini akan menyembuhkan&lt;br /&gt;penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga apapun keadaannya, terdapat berbagai jenis&lt;br /&gt;sebab dan kondisi yang menentukan keberhasilan mantra&lt;br /&gt;ini. Jangan pikir, „Saya mengembangkan Tangan Mangkok&lt;br /&gt;Permata dan saya memantrai Air Welas Asih Agung, lalu&lt;br /&gt;mengapa tidak manjur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena Air Welas Asih Agung tidak manjur, itu&lt;br /&gt;semua cuma karena diri sendiri kurang memiliki&lt;br /&gt;keahlian yang diperlukan untuk mendapatkan&lt;br /&gt;kemanjurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pemeluk agama eksternal yang menggunakan Mantra&lt;br /&gt;Welas Asih Agung untuk menyembuhkan penyakit dengan&lt;br /&gt;sangat berhasil. Mengapa bisa begitu manjur? Ini&lt;br /&gt;karena setan-setan langit membantu pemeluk agama&lt;br /&gt;eksternal itu agar orang boleh menaruh kepercayaan&lt;br /&gt;pada mereka, dan dapat dengan mudah ditarik ke dalam&lt;br /&gt;tingkatan setan-setan langit. Meskipun Dharma yang&lt;br /&gt;dikembangkan sama, keadaan di sekeliling sangat&lt;br /&gt;berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyembuhkan penyakit dengan Air Welas Asih Agung&lt;br /&gt;adalah salah satu cara untuk mempraktekkan Jalan&lt;br /&gt;Bodhisattva. Namun jika untuk melaksanakan Jalan&lt;br /&gt;Bodhisattva, pertama-tama perilaku dan tindakan&lt;br /&gt;Bodhisattva itulah yang harus dikembangkan. Kita harus&lt;br /&gt;memiliki hati yang tidak mempunyai suatu „diri" atau&lt;br /&gt;„orang lain", dan tidak meninggalkan suatu tanda diri,&lt;br /&gt;tanda orang lain, tanda makhluk hidup, dan tanda&lt;br /&gt;lingkaran kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai mempunyai pikiran, „Saya dapat&lt;br /&gt;menyembuhkan penyakit orang lain, dan dengan&lt;br /&gt;mengucapkan Mantra Welas Asih Agung saya mendapatkan&lt;br /&gt;sambutan yang luar biasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pikiran seperti itu muncul, artinya terdapat&lt;br /&gt;kemelekatan. Dan dengan memiliki kemelekatan,&lt;br /&gt;rintangan setan akan menghadang di tengah jalan.&lt;br /&gt;Bahkan meskipun tanpa pikiran seperti itu, sangat&lt;br /&gt;mudah sekali berhadapan dengan rintangan setan tatkala&lt;br /&gt;kita sedang melaksanakan Dharma ini, karena pada&lt;br /&gt;umumnya penyakit diakibatkan oleh karma atau oleh&lt;br /&gt;setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sakit itu diakibatkan oleh karma, tidak ada&lt;br /&gt;masalah jika kita menyembuhkannya. Namun jika sakit&lt;br /&gt;itu disebabkan oleh suatu setan dan seseorang&lt;br /&gt;menyembuhkannya, setan itu bisa datang mencari,&lt;br /&gt;memeranginya. Jika kekuatan Jalan yang dimilikinya&lt;br /&gt;tidak cukup kuat – ia tidak memiliki apa-apa untuk&lt;br /&gt;diucapkan – ia kemungkinan besar akan ditarik ke alam&lt;br /&gt;setan. Jika orang itu memiliki kekuatan Jalan dan&lt;br /&gt;menciptakan pertalian dengan setan, maka setan itu&lt;br /&gt;akan terus berusaha mencari kesempatan untuk datang&lt;br /&gt;menaklukkannya dalam pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dulu suka menyembuhkan penyakit. Jika ada orang&lt;br /&gt;yang sakit saya pasti akan berusaha menyembuhkannya.&lt;br /&gt;Tetapi kemudian, saya berhadapan dengan rintangan&lt;br /&gt;setan yang cukup besar. Di Manchuria, setan laut yang&lt;br /&gt;aneh mencoba menghanyutkanku. Mereka tidak berhasil,&lt;br /&gt;tetapi lima puluh hingga enam puluh orang mati di&lt;br /&gt;dalam luapan air yang mereka ciptakan, dan hampir&lt;br /&gt;delapan ratus rumah hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika saya sedang dalam perjalanan dari&lt;br /&gt;Tien-sin ke Shanghai, monster laut itu mencoba&lt;br /&gt;membalikkan perahu, dan nyaris saja saya menjadi&lt;br /&gt;makanan ikan. Sejak kejadian itu, saya memilih&lt;br /&gt;mengambil jalan darat, juga saya menjadi jarang sekali&lt;br /&gt;menyembuhkan penyakit orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyembuhkan penyakit adalah suatu cara yang baik&lt;br /&gt;untuk menyambung persahabatan. Tapi juga mudah sekali&lt;br /&gt;mengakibatkan kebencian di antara setan-setan. Ia&lt;br /&gt;punya sisi baik dan buruk. Jika kita dapat menjadi&lt;br /&gt;tanpa suatu diri, orang lain, makhluk hidup, atau&lt;br /&gt;suatu lingkaran kehidupan – kosong dari tanda-tanda&lt;br /&gt;ini – maka kita dapat melakukannya. Namun jika kita&lt;br /&gt;tidak mampu mengosongkan diri dari empat tanda itu,&lt;br /&gt;mudah sekali kita tertangkap oleh rintangan setan.&lt;br /&gt;Membangun hubungan dengan cara menyembuhkan penyakit&lt;br /&gt;adalah persoalan yang tidak sederhana.&lt;br /&gt;43. Swo La Swo La&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian dengar tidak suaranya? SWO LA SWO LA! Sangat&lt;br /&gt;nyaring! Ia berarti "kekuatan yang kokoh". SWO LA SWO&lt;br /&gt;LA adalah kekuatan yang sedemikian kuat sehingga tidak&lt;br /&gt;ada yang dapat merusaknya. Kekuatan yang kokoh ini&lt;br /&gt;dapat menghancurkan dan menaklukkan semua setan-setan&lt;br /&gt;langit dan kaum eksternalis. Ini adalah Tangan dan&lt;br /&gt;Mata Alu Vajra yang digunakan untuk menaklukkan dan&lt;br /&gt;mengalahkan semua setan yang penuh kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44. Syi Li Syi Li&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI LI SYI LI mempunyai tiga makna. Yang pertama&lt;br /&gt;artinya "bertekad", seperti tekad di medan perang;&lt;br /&gt;jika orang bertekad ia akan menang dan tidak pernah&lt;br /&gt;kalah. Arti kedua adalah „luhur", sangat baik dan luar&lt;br /&gt;biasa karena, sekali lagi, hanya ada kemenangan, tak&lt;br /&gt;pernah ada kekalahan. Yang ketiga, artinya „mulia".&lt;br /&gt;Karena bertekad, orang jaya, dan karenanya semua&lt;br /&gt;menjadi mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah memberitahu muridku, bahwa ke mana pun&lt;br /&gt;mereka pergi mereka hanya dibolehkan untuk menang,&lt;br /&gt;tidak boleh sekali-kali kalah. Jika mereka kalah,&lt;br /&gt;mereka tidak boleh kembali dan berjumpa denganku lagi.&lt;br /&gt;Apa gunanya menjadi pecundang seperti itu? Memang&lt;br /&gt;tidak ada apa-apanya, melainkan, seperti yang&lt;br /&gt;dikatakan orang di Kanton, cuma "kulit air". Di&lt;br /&gt;Tiongkok Utara kami menyebutkan "kantong rumput",&lt;br /&gt;kantong yang digunakan untuk menyimpan padi yang&lt;br /&gt;lembut dan lemah dan tak ada gunanya. Jadi ingatlah&lt;br /&gt;ini: siapapun yang in menjadi muridku harus selalu&lt;br /&gt;menjadi pemenang dan memiliki kekuatan sekokoh Alu&lt;br /&gt;Vajra! Tidak diperbolehkan ada yang menjadi kulit air&lt;br /&gt;atau kantong rumput!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI LI SYI LI adalah Tangan Telapak Terpaut yang&lt;br /&gt;membuat orang menjadi baik dan penuh hormat kepada&lt;br /&gt;yang lain. Tapi kalian harus sungguh-sungguh menjadi&lt;br /&gt;pemenang, mulia, dan memiliki hati yang teguh. Tidak&lt;br /&gt;ada gunanya cuma membicarakannya; kalian harus&lt;br /&gt;melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45. Su Lu Su Lu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SU LU SU LU adalah „embun manis". Ini merupakan Tangan&lt;br /&gt;dan Mata Embun Manis. Embun manis mempunyai banyak&lt;br /&gt;sekali manfaat seperti yang telah dijelaskan&lt;br /&gt;sebelumnya. Ia dapat membuat semua hantu kelaparan&lt;br /&gt;menjadi kenyang dan membuat orang mencapai kualitas&lt;br /&gt;„seperti yang engkau kehendaki". Ia melenyapkan rasa&lt;br /&gt;lapar dan haus, mendatangkan kemuliaan, dan banyak&lt;br /&gt;sekali keuntungan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embun manis juga disebut obat kematian. Apabila&lt;br /&gt;meminumnya, orang yang sudah sekarat akan hidup&lt;br /&gt;kembali. Namun tidaklah mudah mendapatkan embun manis.&lt;br /&gt;Jika mendapatkan sedikit saja, dan meminumnya, maka&lt;br /&gt;meskipun tadinya orang sudah harus segera mati, ia&lt;br /&gt;tetap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46. Pu Ti Ye Pu Ti Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat dari mantra ini mengandung arti "Jalan&lt;br /&gt;cerah". Ia juga berarti „hati yang cerah". Jika hendak&lt;br /&gt;mendapatkan Jalan cerah, pertama-tama kita harus&lt;br /&gt;memiliki hati yang cerah. Tanpa hati yang cerah, orang&lt;br /&gt;tidak akan dapat mengembangkan Jalan cerah. Pengikut&lt;br /&gt;Jalan harus pertama-tama memiliki hati yang sadar&lt;br /&gt;sejati dan kemudian ia akan dapat mengembangkan dan&lt;br /&gt;menyadari Jalan cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat mantra ini adalah Tangan dan Mata Roda&lt;br /&gt;Emas Yang Tidak Mundur; ini adalah hati Bodhi yang&lt;br /&gt;tidak pernah mundur. Dari sejak sekarang, hingga ke&lt;br /&gt;masa kita mencapai Kebuddhaan, hati Bodhi yang telah&lt;br /&gt;kita tanam akan tumbuh semakin hebat setiap hari dan&lt;br /&gt;tidak pernah mundur atau berbalik arah. Karena hati&lt;br /&gt;Bodhi tidak mundur, kita akan segera menyadari buah&lt;br /&gt;Kebuddhaan. Jika hati Bodhi mundur, menyeleweng, maka&lt;br /&gt;kita akan mencapainya dengan lebih lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengikut Jalan harus lebih bersemangat setiap hari;&lt;br /&gt;setiap hari hati Bodhi kita harus menjadi lebih kuat.&lt;br /&gt;Jangan mundur atau salah menempatkannya. Sebagai&lt;br /&gt;contoh, ketika mendengarkan Sutra, orang harus&lt;br /&gt;menganggap sutra-sutra itu sulit sekali dijumpai.&lt;br /&gt;Perkumpulan Dharma adalah sangat langka. Meskipun yang&lt;br /&gt;satu ini tampak biasa saja, jika kita mau berhenti dan&lt;br /&gt;merenungkannya, sungguh menakjubkan sekali. Di mana&lt;br /&gt;lagi di dunia ini yang memiliki perkumpulan Dharma&lt;br /&gt;sesemangat ini setiap hari berkumpul mendengarkan&lt;br /&gt;Dharma? Di mana lagi Dharma mengalir seperti air,&lt;br /&gt;seperti sungai yang mengalir terus-menerus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menemukan Dharma, orang harus menentukan waktu&lt;br /&gt;untuk datang dan mendengarkan Dharma, sesibuk apapun&lt;br /&gt;ia, tanpa menghiraukan siapa yang sedang menyampaikan&lt;br /&gt;ceramah. Dan jangan membuat perbedaan antara pembicara&lt;br /&gt;yang „baik" dan yang „rendah" dengan hanya datang&lt;br /&gt;mendengarkan pembicara yang „baik". Jika terus&lt;br /&gt;mendengarkan, cepat atau lambat, siapapun yang&lt;br /&gt;memberikan ceramah, suatu kali orang akan mendengar&lt;br /&gt;prinsip sejati muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak peduli siapapun yang memberikan ceramah, kalian&lt;br /&gt;harus datang mendukung perkumpulan Dharma. Karena&lt;br /&gt;terdapat ceramah tujuh malam selama seminggu, kalian&lt;br /&gt;harus datang tujuh malam seminggu. Jangan malas! Pintu&lt;br /&gt;Dharma ini sukar ditemukan dalam bermilyar tahun.&lt;br /&gt;Setelah menemukannya, kita harus mencapai kemajuan&lt;br /&gt;yang luar biasa. Kemajuan yang hebat adalah „Hati&lt;br /&gt;Bodhi Yang Tidak Mundur".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat tiga tingkatan „tidak mundur". Yang pertama&lt;br /&gt;adalah Tidak Mundur dalam Tingkatan. Orang yang telah&lt;br /&gt;memastikan buah Kearhatan, tidak akan mundur ke&lt;br /&gt;keadaan orang biasa. Jika telah memastikan buah&lt;br /&gt;Bodhisattva, ia tidak akan mundur ke keadaan Arhat.&lt;br /&gt;Jika telah memastikan tingkatan buah Buddha, ia tidak&lt;br /&gt;akan mundur ke keadaan Bodhisattva – kecuali ia&lt;br /&gt;sendiri yang menghendakinya. Sebagai contoh, jika ia&lt;br /&gt;berkata, "Karena sekarang telah memastikan buah&lt;br /&gt;Buddha, saya akan muncul dalam bentuk seorang bhiksu&lt;br /&gt;untuk mengajar dan menyeberangkan makhluk hidup," itu&lt;br /&gt;boleh-boleh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah Tidak Mundur dalam Pikiran. Pengikut&lt;br /&gt;Jalan kadang-kadang bisa berpikir, "Belajar&lt;br /&gt;Buddhadharma itu membosankan! Saya tidak akan berlatih&lt;br /&gt;lagi, saya tidak akan pergi mendengarkan ceramah&lt;br /&gt;lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kemunduran dalam pemikiran. Jika kita&lt;br /&gt;mundur dalam pemikiran, rintangan setan muncul, karena&lt;br /&gt;hanya setan yang bergembira kalau kita mundur. Begitu&lt;br /&gt;mencapai tingkatan Tidak Mundur dalam Pikiran, semakin&lt;br /&gt;mendengarkan Buddhadharma, semakin kita menikmatinya.&lt;br /&gt;Semakin menikmatinya, semakin sering kita datang&lt;br /&gt;mendengarkan. Dengan Pikiran Yang Tidak Mundur, kita&lt;br /&gt;melangkah ke yang ketiga, Tidak Mundur dalam&lt;br /&gt;Perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan berarti latihan. Setiap hari kita harus&lt;br /&gt;semakin bersemangat dan berenergi. Dengan menghadirkan&lt;br /&gt;hati yang berani dan bersemangat mengembangkan Jalan,&lt;br /&gt;kita tidak mundur di dalam perbuatan. Apabila telah&lt;br /&gt;mengembangkan Tangan dan Mata Roda Emas Yang Tidak&lt;br /&gt;Mundur ini, sejak sekarang hingga saat mencapai&lt;br /&gt;Kebuddhaan, kalian tidak akan mengalami kemunduran.&lt;br /&gt;Tetapi kalian harus berhasil mengembangkannya!&lt;br /&gt;47. Pu Two Ye Pu Two Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini dan kalimat berikutnya adalah sama,&lt;br /&gt;kecuali untuk suku kata tengahnya. Kata Sansekerta PU&lt;br /&gt;TWO YE PU TWO YE mempunyai arti „yang mengetahui", dan&lt;br /&gt;„yang cerah". "Pengetahuan" sejati adalah&lt;br /&gt;kebijaksanaan. "Pencerahan" adalah bangun. Kalimat ini&lt;br /&gt;menunjuk kepada ia yang memiliki pengetahuan sejati&lt;br /&gt;dan telah bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Tangan dan Mata Buddha Peralihan di atas&lt;br /&gt;Tahta. Buddha Peralihan adalah "yang cerah" dan&lt;br /&gt;Bodhisattva yang mengembangkan Tangan dan Mata ini&lt;br /&gt;dikenal sebagai "yang mengetahui". Pada dasarnya,&lt;br /&gt;"mengetahui" dan "pencerahan" tidak banyak berbeda&lt;br /&gt;satu sama lain. Pencerahan mengikuti pengetahuan;&lt;br /&gt;pengetahuan adalah suatu tingkatan yang mendahului&lt;br /&gt;pencerahan. Jika orang mengembangkan Tangan dan Mata&lt;br /&gt;Buddha Peralihan di atas Tahta hingga sempurna, ia&lt;br /&gt;akan menjadi "ia yang memiliki kebijaksanaan sejati",&lt;br /&gt;ia yang dirinya sendiri telah bangun. Dengan&lt;br /&gt;mengembangkan tangan dan mata ini, Buddha-Buddha di&lt;br /&gt;sepuluh penjuru akan segera datang menggosok kita di&lt;br /&gt;atas tahta dan menganugerahkan kita ramalan&lt;br /&gt;Kebuddhaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu mengucapkan nama Buddha, atau menjunjung&lt;br /&gt;mantra, atau melakukan meditasi Dhyana, pengikut Jalan&lt;br /&gt;kadang-kadang dapat merasakan adanya sesuatu di atas&lt;br /&gt;kepala mereka, seperti ada kumbang yang sedang&lt;br /&gt;merayap, lari ke depan dan ke belakang. Tapi jika ia&lt;br /&gt;memegang dan menggosok kepalanya, tidak ada apa-apa di&lt;br /&gt;sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberitahu kalian apa sebenarnya yang terjadi.&lt;br /&gt;Pada waktu itu, para Buddha dari sepuluh penjuru telah&lt;br /&gt;datang untuk menggosok kita di atas tahta, dan&lt;br /&gt;menganugerahkan ramalan Kebuddhaan. Tetapi tanpa&lt;br /&gt;penembusan Mata Surgawi, orang tidak akan mampu&lt;br /&gt;melihat mereka. Meskipun demikian, Buddha-Buddha dari&lt;br /&gt;sepuluh penjuru telah datang menggosok kita di atas&lt;br /&gt;tahta dan memberikan suatu ramalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kalau hal seperti itu terjadi, itu merupakan&lt;br /&gt;hasil dari latihan. Namun jangan sampai hal ini&lt;br /&gt;membuat kita menjadi terlalu gembira dan angkuh,&lt;br /&gt;dengan berpikir, „Ah, Buddha-Buddha telah datang&lt;br /&gt;menggosokku di atas tahta dan memberikan dukungan&lt;br /&gt;mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran yang gembira dan angkuh adalah kemelekatan,&lt;br /&gt;dan meskipun itu adalah keadaan yang baik, jika kita&lt;br /&gt;melekat padanya, yang baik itu bisa berubah menjadi&lt;br /&gt;buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam gulungan terakhir dari Surangama Sutra,&lt;br /&gt;berbagai keadaan yang merupakan hasil mendasar dari&lt;br /&gt;latihan telah dijelaskan. Tetapi dengan berpikir bahwa&lt;br /&gt;ia telah mencapai suatu keadaan yang baik, seorang&lt;br /&gt;pengikut jalan menjadi melekat padanya, dan akibatnya&lt;br /&gt;ia menjadi salah satu dari pengikut-pengikut yang&lt;br /&gt;menyimpang. Ia menjadi dikuasai oleh setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, di dalam mengembangkan Dharma-Dharma&lt;br /&gt;seperti ini, kita harus menjadi „demikianlah,&lt;br /&gt;demikianlah, tanpa goyah". Keadaan baik maupun keadaan&lt;br /&gt;buruk, kita tetap tidak goyah. Dengan tidak&lt;br /&gt;tergoyahkan, kita mendapatkan kekuatan samadhi, dan&lt;br /&gt;dengan kekuatan samadhi kita meraih kekuatan&lt;br /&gt;kebijaksanaan. Dengan kekuatan kebijaksanaan sejati,&lt;br /&gt;kita akan menjadi „yang mengetahui", „yang cerah".&lt;br /&gt;48. Mi Di Li Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MI DI LI YE artinya „ukuran yang tepat". Ia juga&lt;br /&gt;berarti "ukuran agung", yakni, banyak sekali. MI DI LI&lt;br /&gt;YE juga bisa berarti „hati welas asih agung". Hati&lt;br /&gt;yang welas asih itu agung karena ia tidak terbatas. Ia&lt;br /&gt;melindungi semua makhluk dan menuntun mereka mencapai&lt;br /&gt;kebahagiaan; mereka kembali kepada asalnya, jauh dari&lt;br /&gt;semua rasa takut dan semua kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Tangan dan Mata Toya. Toya mempunyai&lt;br /&gt;sembilan cincin di atasnya. Di masa lalu, mereka yang&lt;br /&gt;telah meninggalkan rumah membawa toya ini saat&lt;br /&gt;berjalan. Mengiringi setiap langkah mereka, sembilan&lt;br /&gt;cincin itu mengeluarkan bunyi, memperingatkan semua&lt;br /&gt;serangga kecil agar menyingkir sehingga tidak&lt;br /&gt;terinjak. Toya adalah Harta Karun Buddhis. Bodhisattva&lt;br /&gt;Penyanggah Bumi selalu membawa Toya dan menggunakannya&lt;br /&gt;sebagai kunci untuk membuka pintu neraka. Apabila kita&lt;br /&gt;mengembangkan Tangan dan Mata ini, hati welas asih&lt;br /&gt;kita akan masak, dan kita akan dapat melindungi dan&lt;br /&gt;menyelamatkan semua makhluk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. Nwo La Jin Chr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NWO LA JIN CHR mempunyai arti "kasih mulia, yang&lt;br /&gt;paling mulia", pemimpin paling tinggi di antara yang&lt;br /&gt;mulia. Ia juga berarti "perlindungan baik, mahkota&lt;br /&gt;perlindungan". Pengikut Jalan dapat melindungi semua&lt;br /&gt;makhluk hidup, penuh perhatian pada mereka, serta&lt;br /&gt;membawakan kepada mereka tingkatan tertinggi&lt;br /&gt;pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan Tangan dan Mata Botol Permata, juga&lt;br /&gt;disebut Tangan dan Mata Botol Hu. Botol ini dapat&lt;br /&gt;menjauhkan semua kekotoran dunia, menyembuhkan makhluk&lt;br /&gt;hidup dari semua penderitaan. Bodhisattva yang&lt;br /&gt;mengembangkan Tangan dan Mata ini sepenuhnya mampu&lt;br /&gt;melindungi dan penuh perhatian pada semua makhluk&lt;br /&gt;hidup. Setelah mengembangkan Tangan dan Mata ini&lt;br /&gt;hingga tuntas, orang akan mampu menolong makhluk hidup&lt;br /&gt;dan menyingkirkan semua kesukaran dan malapetaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50. Di Li Shai Ni Nwo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, DI LI SHAI NI NWO mempunyai arti "kokoh&lt;br /&gt;dan tajam". Kalimat ini juga berarti "pedang". Ini&lt;br /&gt;adalah Tangan dan Mata Pedang Permata. Sebelumnya,&lt;br /&gt;pada waktu menjelaskan Empat Puluh Dua Tangan dan&lt;br /&gt;Mata, saya telah memberitahu kalian bahwa Pedang&lt;br /&gt;Permata digunakan untuk menaklukkan semua hantu-hantu&lt;br /&gt;li mei dan wang liang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kalian telah berhasil mengembangkan Tangan&lt;br /&gt;dan Mata ini, semua setan langit dan kaum eksternal,&lt;br /&gt;juga semua hantu li mei dan wang liang akan&lt;br /&gt;dijinakkan. Mereka takluk karena takut kepada Pedang&lt;br /&gt;Permata. Tangan dan Mata ini sangat dashyat. Jika&lt;br /&gt;setan langit dan kaum eksternalis menolak mematuhi&lt;br /&gt;perintah, mereka akan dipotong oleh Pedang Permata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51. Pe Ye Mwo Nwo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE YE MWO NWO mempunyai tiga makna. Pertama, "nama&lt;br /&gt;terdengar", karena nama telah terdengar di seluruh&lt;br /&gt;dunia di sepuluh penjuru. Ia juga berarti „pujian&lt;br /&gt;kebahagiaan", karena Buddha-Buddha dari sepuluh&lt;br /&gt;penjuru bergembira memuji nama itu. Dan terakhir, PE&lt;br /&gt;YE MWO NWO berarti „penyempurnaan nama", dan&lt;br /&gt;„penyempurnaan semua arti". Maksudnya, semua kewajiban&lt;br /&gt;telah diselesaikan. Ini adalah Tangan dan Mata Anak&lt;br /&gt;Panah. Dengan mengembangkannya, kita akan dapat dengan&lt;br /&gt;cepat bertemu dengan sahabat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Mantra Welas Asih Agung, SWO PE HE sangat&lt;br /&gt;penting. Kata ini muncul empat belas kali, dan&lt;br /&gt;memiliki enam makna. Dan di mana pun kata ini muncul&lt;br /&gt;di dalam Mantra Welas Asih Agung, keenam makna itulah&lt;br /&gt;yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti pertamanya adalah „pencapaian". Jika orang&lt;br /&gt;mengucapkan mantra, ia dapat menyelesaikan segala yang&lt;br /&gt;ingin ia selesaikan, dan memperoleh apapun yang ia&lt;br /&gt;cari. Apabila ia tidak memperoleh hasil seperti ini,&lt;br /&gt;itu hanya disebabkan hatinya belum tulus. Jika hatinya&lt;br /&gt;tulus dan keyakinannya sejati, ia pasti akan berhasil.&lt;br /&gt;Namun jika keraguan setitik saja muncul dalam hatinya&lt;br /&gt;terhadap mantra ini, akibat adanya pencampuran antara&lt;br /&gt;keyakinan dan keraguan, ia tidak akan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, SWO PE HE berarti "mulia". Pada waktu orang&lt;br /&gt;membacakan mantra, semua perbuatan yang tercela&lt;br /&gt;berubah menjadi mulia. Bodhisattva mengetahui apakah&lt;br /&gt;kita memiliki keyakinan atau tidak. Mereka tahu apakah&lt;br /&gt;kita benar-benar yakin, apakah kita setengah yakin&lt;br /&gt;setengah tidak, apakah kita banyak percayanya dan&lt;br /&gt;keraguannya hanya sedikit. Sehingga, keyakinan sejati&lt;br /&gt;harus dimiliki jika orang ingin berhasil dan segalanya&lt;br /&gt;menjadi mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, ayah seseorang sakit dan ia ingin agar&lt;br /&gt;ayahnya sembuh. Bolehlah ia mengucapkan mantra ini.&lt;br /&gt;Jika ia sungguh-sungguh percaya, akan ada hasilnya.&lt;br /&gt;Atau, barangkali seseorang ingin bertemu teman&lt;br /&gt;lamanya. Jika ia mengucapkan mantra dengan penuh&lt;br /&gt;keyakinan, segera ia akan bertemu dengannya. Atau jika&lt;br /&gt;ia berpikir, „Saya tidak memiliki teman, saya ingin&lt;br /&gt;mendapatkan sahabat sejati," dan jika ia mengucapkan&lt;br /&gt;mantra ini dengan penuh keyakinan, dan terus&lt;br /&gt;mengucapkannya, ia akan mendapatkan teman yang baik,&lt;br /&gt;bahkan seorang Penasihat Baik Yang Mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti yang ketiga dari SWO PE HE adalah „tenang sama&lt;br /&gt;sekali". Pada waktu seorang bhiksu berangkat untuk&lt;br /&gt;dilahirkan kembali, ke Nirvana – pada waktu ia mati –&lt;br /&gt;itu disebut menjadi "tenang sama sekali". Ini tidak&lt;br /&gt;sama artinya bahwa orang mengucapkan mantra ini, „Swo&lt;br /&gt;Pe He, Swo Pe He, Swo Pe He", lalu mati dan menjadi&lt;br /&gt;tenang sama sekali; orang tidak membaca mantra ini&lt;br /&gt;supaya mati. Apa gunanya hal seperti itu? Tidak ada&lt;br /&gt;orang yang mau mati. Ketenangan sama sekali artinya&lt;br /&gt;jasa-jasa baik telah lengkap, dan hakikat kebajikan&lt;br /&gt;adalah ketenangan, sampai ke tingkat di mana orang&lt;br /&gt;biasa tidak dapat mengukurnya dan hanya para Buddha&lt;br /&gt;dan Bodhisattva yang dapat mengetahui praktek&lt;br /&gt;kebajikan yang telah dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melenyapkan bencana" adalah maknanya yang keempat.&lt;br /&gt;Semua kesengsaraan dihentikan dan dilenyapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Memperbanyak manfaat" adalah artinya yang kelima.&lt;br /&gt;Pengucapan SWO PE HE sangat bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak percaya ada orang yang tahu arti keenam&lt;br /&gt;dari SWO PE HE ini. Jika ada di antara kalian yang&lt;br /&gt;tahu, ia bisa memberitahu saya – mengapa tidak ada&lt;br /&gt;yang tahu? Karena saya belum pernah menjelaskan&lt;br /&gt;sebelumnya. Artinya yang keenam adalah „tidak&lt;br /&gt;tinggal". Di dalam Vajra Sutra dikatakan, „Orang harus&lt;br /&gt;menghasilkan pikiran yang tidak tinggal di mana pun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tinggal" artinya tidak melekat. Hati tidak&lt;br /&gt;tinggal di mana pun dan tidak melekat pada apapun.&lt;br /&gt;Ketidakmelekatan berarti segala sesuatunya berjalan&lt;br /&gt;dengan baik. Ia merupakan sejenis&lt;br /&gt;Dharma-tidak-melakukan-apapun, namun tidak ada apapun&lt;br /&gt;yang tidak dilakukan. "Tidak tinggal" adalah tidak&lt;br /&gt;melakukan apapun, dan tidak melakukan apapun adalah&lt;br /&gt;"tidak tinggal".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu pikiran muncul, pikiran itu seharusnya&lt;br /&gt;tidak menetap di mana pun: inilah makna keenam dari&lt;br /&gt;SWO PE HE. Kita tidak tinggal di dalam penderitaan,&lt;br /&gt;ketidaktahuan, keserakahan, kebencian, kebodohan,&lt;br /&gt;keangkuhan, dan keraguan. Jika masih memiliki&lt;br /&gt;pikiran-pikiran seperti itu, kita harus segera&lt;br /&gt;menaklukkannya. Pikiran-pikiran seperti itu harus&lt;br /&gt;dijinakkan agar kita tidak menetap di mana pun.&lt;br /&gt;Taklukkan mereka dengan Tangan Pedang Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang hatinya penuh dengan keserakahan. Ke&lt;br /&gt;sinilah, saya akan menyembelihnya. Penuh dengan hantu&lt;br /&gt;kebencian? Saya akan memotong mereka. Setan kebodohan?&lt;br /&gt;Akan kucincang! Semua itu saya lakukan dengan Pedang&lt;br /&gt;Permata Raja Vajra saya, Pedang Kebijaksanaan saya.&lt;br /&gt;Jika ingin menaklukkan setan-setan langit dan kaum&lt;br /&gt;eksternal, kita pertama-tama harus menaklukkan pikiran&lt;br /&gt;salah terlebih dahulu. Pada waktu pikiran salah telah&lt;br /&gt;dikalahkan, setan-setan dan kaum eksternal juga telah&lt;br /&gt;kalah, dan bahkan jika mencoba mengganggu, mereka&lt;br /&gt;hanya akan menemui kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana pun SWO PE HE muncul, ia memiliki enam arti&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;53. Syi Two Ye&lt;br /&gt;54. Swo Pe He&lt;br /&gt;55. Mwo He Syi Two Ye&lt;br /&gt;56. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI TWO YE mempunyai lima arti: "Pencapaian, kemuliaan&lt;br /&gt;mendadak", "dilakukan", "menyempurnakan manfaat",&lt;br /&gt;"menyempurnakan semua arti", dan "memuji yang&lt;br /&gt;terhormat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian, kemuliaan mendadak, menyatakan bahwa&lt;br /&gt;melalui penggunaan kekuatan mantra ini kita dapat&lt;br /&gt;langsung memperoleh apapun yang kita harapkan. Orang&lt;br /&gt;mungkin bilang, "Saya mengucapkan Mantra Welas Asih&lt;br /&gt;Agung, dan belum mendapatkan apapun seketika itu&lt;br /&gt;juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengucapan mantra ini memerlukan hasil yang&lt;br /&gt;berhubungan dengan keahlian spiritual masing-masing.&lt;br /&gt;Tanpa hasil yang berkaitan ini, tidak akan ada&lt;br /&gt;pencapaian. Dengannya, setiap permintaan akan&lt;br /&gt;dikabulkan, „seperti yang engkau kehendaki". Dan&lt;br /&gt;apapun yang dicari akan datang menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI TWO YE juga berarti „dilakukan". Apapun yang&lt;br /&gt;dilakukan, akan dilakukan dengan sempurna.&lt;br /&gt;„Menyempurnakan semua arti" maksudnya apapun urusan&lt;br /&gt;yang sedang dihadapi, akan mendatangkan keberhasilan.&lt;br /&gt;„Penyempurnaan manfaat" menunjuk kepada manfaat bagi&lt;br /&gt;diri sendiri dan manfaat bagi orang lain. Memuji yang&lt;br /&gt;terhormat berarti setiap orang berkata, „Engkau sangat&lt;br /&gt;baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO HE SYI TWO YE: Setiap orang tahu bahwa MWO HE&lt;br /&gt;mempunyai arti „agung". Kalimat ini mempunyai arti&lt;br /&gt;bahwa kita dapat menyelesaikan semua masalah-masalah&lt;br /&gt;besar, kebajikan dan buah jasa agung, juga karma Jalan&lt;br /&gt;yang agung. Apapun yang dilakukan, akan berhasil&lt;br /&gt;dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat itu bersama-sama, SYI TWO YE SWO PE HE MWO&lt;br /&gt;HE SYI TWO YE SWO PE HE, merupakan Tangan dan Mata&lt;br /&gt;Sutra Permata. Sutra Permata adalah naskah yang sangat&lt;br /&gt;keramat, suatu pusaka Dharma. Jika orang mengembangkan&lt;br /&gt;Tangan dan Mata ini, ia akan meraih manfaat yang tidak&lt;br /&gt;habis-habis, dan abadi. Di masa yang akan datang,&lt;br /&gt;kebijaksanaan dan ingatannya akan luar biasa kuatnya&lt;br /&gt;dan ia akan memiliki pengetahuan yang luar biasa, di&lt;br /&gt;samping ingatan yang sangat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan kita cepat berlalu, sungguh mirip dengan orang&lt;br /&gt;yang tidak mampu berjalan tanpa tongkat penopang:&lt;br /&gt;setelah membaca sesuatu kita sukar sekali&lt;br /&gt;mengingatnya. Jika tiba waktunya untuk memanfaatkan&lt;br /&gt;apa yang sudah kita pelajari, kita harus terlebih&lt;br /&gt;dahulu membuka catatan. Mengapa ingatan kalian selemat&lt;br /&gt;itu? Karena kalian tidak pernah mengembangkan Tangan&lt;br /&gt;Sutra Permata. Orang akan memiliki pengetahuan yang&lt;br /&gt;luar biasa, seperti ensiklopedia hidup, seperti Yang&lt;br /&gt;Arya Ananda, jika ia mengembangkan Tangan Sutra&lt;br /&gt;Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak disangsikan bahwa Yang Arya Ananda, yang nomor&lt;br /&gt;satu di dalam pengetahuan, telah mengembangkan Tangan&lt;br /&gt;dan Mata Sutra Permata dengan sempurna, selama masa&lt;br /&gt;yang tidak terkira panjangnya, sehingga jika ada&lt;br /&gt;sesuatu yang lewat di telinganya, ia tidak pernah&lt;br /&gt;lupa. Bahkan ingatannya telah sampai pada tingkat di&lt;br /&gt;mana ia mampu mengingat hal-hal yang belum&lt;br /&gt;didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya berkata seperti ini? Yang Arya Ananda&lt;br /&gt;dilahirkan pada hari ketika Sang Buddha menyadari&lt;br /&gt;Kebuddhaan, dan ia belum mendengar Dharma yang&lt;br /&gt;dibabarkan Sang Buddha hingga dua puluh tahun&lt;br /&gt;kemudian, tatkala ia pergi meninggalkan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana ia dapat mengulang kembali Sutra yang&lt;br /&gt;diucapkan Sang Buddha, seperti yang dilakukannya&lt;br /&gt;setelah Sang Buddha menuju Nirvana? Itu karena ia&lt;br /&gt;mendengar Sutra-Sutra itu dari pengikut-pengikut yang&lt;br /&gt;lebih tua, dan mengingatnya. Atau mungkin&lt;br /&gt;pengikut-pengikut yang lebih tua tidak mengucapkan&lt;br /&gt;padanya, melainkan Sang Buddha sendiri yang&lt;br /&gt;mengulanginya untuk Ananda pada saat Ananda sedang&lt;br /&gt;bersamadhi, sehingga ia dapat mengingatnya semua. Ia&lt;br /&gt;mampu mengingatnya karena telah mengembangkan Tangan&lt;br /&gt;dan Mata Sutra Permata dengan sempurna, sehingga&lt;br /&gt;ingatannya sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang telah bertanya kepada saya bagaimana&lt;br /&gt;mendapatkan ingatan yang kuat, dan jawabannya&lt;br /&gt;sederhana saja, yaitu kembangkanlah Tangan dan Mata&lt;br /&gt;Sutra Permata. Tidak diragukan mereka yang mengingat&lt;br /&gt;Sutra-Sutra dengan sangat jelas memiliki pertalian&lt;br /&gt;dengan Tangan dan Mata ini. Ini adalah, menurut&lt;br /&gt;penjelasannya, Bodhisattva yang memancarkan cahaya dan&lt;br /&gt;memegang lentera merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh tubuh Bodhisattva ini mengeluarkan cahaya&lt;br /&gt;terang benderang, yang melambangkan kebijaksanaan&lt;br /&gt;agung yang tidak terputus, ingatan yang sangat kuat,&lt;br /&gt;pengetahuan yang luas, dan ilmu yang luar biasa –&lt;br /&gt;inilah buah jasa baik dan kebajikan yang dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57. Syi Two Yu Yi&lt;br /&gt;58. Shr Pan La Ye&lt;br /&gt;59. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI TO mempunyai arti "mencapai manfaat". YU YI&lt;br /&gt;artinya "tiada kegiatan" atau "ruang kosong".&lt;br /&gt;Sementara SHR PAN LA YE artinya "kebahagiaan". Ini&lt;br /&gt;adalah Tangan dan Mata Kotak Permata, yang dengannya&lt;br /&gt;orang bisa mendapatkan semua harta mestika yang&lt;br /&gt;terpendam di dalam bumi, dan menggunakannya demi&lt;br /&gt;manfaat semua makhluk hidup. Kalimat ini mengandung&lt;br /&gt;arti: dasar prinsip dari hakikat diri kita telah&lt;br /&gt;mendapatkan kebahagiaan dan mencapai semua manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60. Nwo La Jin Chr&lt;br /&gt;61. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NWO LA JIN CHR artinya "perlindungan cinta kasih",&lt;br /&gt;dalam arti memberikan perlindungan cinta kasih pada&lt;br /&gt;semua makhluk hidup. Kalimat ini menyatakan arti welas&lt;br /&gt;asih, dan merupakan Tangan dan Mata Botol Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62. Mwo La Nwo La&lt;br /&gt;63. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO LA itu "seperti yang engkau kehendaki". NWO LA&lt;br /&gt;artinya „sangat terhormat". Ini adalah Tangan dan Mata&lt;br /&gt;Tali, yang dapat membawa kedamaian dalam semua keadaan&lt;br /&gt;yang sulit, seperti keadaan sakit, kecelakaan, ataupun&lt;br /&gt;rintangan. Tangan Tali banyak manfaatnya. Kita membuat&lt;br /&gt;tali dari serat-serat lima warna, dan setelah&lt;br /&gt;mengembangkan Tangan dan Mata ini hingga sempurna,&lt;br /&gt;semua yang perlu kita lakukan cuma melemparkan Tali&lt;br /&gt;dan menjerat semua setan aneh, hantu, monster, hantu&lt;br /&gt;li mei dan wang liang. Mereka tidak akan dapat lari&lt;br /&gt;karena telah terikat. Karena tidak dapat melarikan&lt;br /&gt;diri, mereka menyerah. Ini adalah Dharma yang ajaib,&lt;br /&gt;meskipun kelihatannya biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64. Syi Lu Seng E Mu Chwye Ye&lt;br /&gt;65. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI LU SENG berarti „pencapaian, perlindungan kasih" –&lt;br /&gt;perlindungan kasih sayang kepada semua makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E MU CHWYE YE mempunyai arti „tidak kosong, tidak&lt;br /&gt;menolak". Tidak kosong berkaitan dengan keberadaan,&lt;br /&gt;tetapi keberadaan ini adalah keberadaan yang ajaib.&lt;br /&gt;Tidak menolak artinya tidak satu Dharma pun yang&lt;br /&gt;dikesampingkan; semua Dharma dipelajari. Sehingga&lt;br /&gt;dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melakukan pekerjaan Buddha,&lt;br /&gt;tidak satu Dhama pun yang ditolak;&lt;br /&gt;Sari dari Yang Demikian Itu Sejati&lt;br /&gt;tidak satu debu pun yang dikumpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E MU CHWYE juga mengandung arti „perkumpulan kasih,&lt;br /&gt;kesatuan yang harmonis". Ini adalah usaha&lt;br /&gt;membahagiakan semua makhluk hidup dan hidup di dalam&lt;br /&gt;harmoni dengan mereka. Ini tidak lain tidak bukan&lt;br /&gt;merupakan Tangan Kapak Permata. Orang yang&lt;br /&gt;mengembangkannya tidak akan mengalami kesulitan dengan&lt;br /&gt;penjara, dan di semua tempat, kapan saja, ia akan&lt;br /&gt;terhindar dari masalah hukum. Kalimat ini juga bisa&lt;br /&gt;berarti, di dalam hakikat diri sendiri kita mencapai&lt;br /&gt;semua kebajikan dan buah jasa dengan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian mungkin heran, „Jika saya mengembangkan Dharma&lt;br /&gt;ini, dapatkan saya melanggar hukum dan terhindar dari&lt;br /&gt;penjara?" Bukan begitu! Kita tidak boleh melanggar&lt;br /&gt;hukum! Apabila telah mengembangkan Dharma ini dan&lt;br /&gt;memahami Buddhadharma, bagaimana bisa kita melanggar&lt;br /&gt;hukum? Karena tidak melanggar hukum, tentu saja kita&lt;br /&gt;tidak akan ditahan ataupun dipenjarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kadang-kadang, orang-orang tidak berdosa&lt;br /&gt;ditangkap dan dipenjarakan. Ini karena mereka tidak&lt;br /&gt;pernah mengembangkan Tangan dan Mata Kapak Permata&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;66. Swo Pe Mwo He E Syi Two Ye&lt;br /&gt;67. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang tahu bahwa dunia tempat kita tinggal&lt;br /&gt;disebut dunia "Saha"? SWO PE artinya Saha, "berharga&lt;br /&gt;untuk ditahankan". Ia juga berarti "memikul dan&lt;br /&gt;mencintai", juga mengandung makna "kata-kata baik,&lt;br /&gt;kedatangan yang baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharga untuk ditahankan artinya makhluk hidup&lt;br /&gt;mampu menahan dunia Saha, pahit sebagaimana rasanya.&lt;br /&gt;Memikul dan mencintai artinya, di dalam dunia Saha&lt;br /&gt;ini, makhluk hidup memikul penderitaan dan bahwa&lt;br /&gt;menjadi mencintainya. Kata-kata baik, dan kedatangan&lt;br /&gt;baik artinya kita mengeluarkan kata-kata baik tentang&lt;br /&gt;dunia Saha ini, dengan mengatakan, "Dunia Saha sungguh&lt;br /&gt;baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita pergi ke dunia Saha untuk menjadi manusia.&lt;br /&gt;Inilah, kita telah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO HE artinya "agung". Ini menunjuk kepada Dharma&lt;br /&gt;Wadah Agung, Dharma dari Bodhisattva. E SYI TWO YE&lt;br /&gt;artinya, "pencapaian yang tidak terbatas", dan&lt;br /&gt;maksudnya Dharma Bodhisattva Wadah Agung pada akhirnya&lt;br /&gt;dapat tiba di pantai seberang dengan pencapaian yang&lt;br /&gt;tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini adalah Tangan dan Mata Anggur. Tatkala&lt;br /&gt;tangan ini telah dikembangkan hingga sempurna, mulut&lt;br /&gt;akan selalu terasa lebih manis dari gula. Orang dapat&lt;br /&gt;merasakan rasa manis ini kalau ia telah berhasil&lt;br /&gt;mengembangkan Dharma ini, dan rasa manis ini merupakan&lt;br /&gt;awal dari hasil yang akan dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman apapun, baik itu sayur-sayuran, atau buah,&lt;br /&gt;serangga tidak akan datang mengganggu, jika orang yang&lt;br /&gt;menanamnya mengembangkan tangan ini. Semua serangga&lt;br /&gt;menyingkir, mereka tidak menggerogotinya. Pohon buah&lt;br /&gt;yang ia tanam, buah pir, jeruk, apel, persik, semua&lt;br /&gt;akan tumbuh dengan sangat cepat dan terasa sangat&lt;br /&gt;manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan anggur memiliki sangat banyak faedah dan&lt;br /&gt;dengannya Dharma Wadah Agung yang tidak terbatas dapat&lt;br /&gt;diselesaikan. Di dalam penjelasan mantra ini, SYI LU&lt;br /&gt;SENG E MU CHWYE mewakili tubuh sejati dari Bodhisattva&lt;br /&gt;Raja Obat, yang menggunakan semua jenis obat untuk&lt;br /&gt;menyembuhkan semua makhluk hidup. SWO PE MWO HE E SYI&lt;br /&gt;TWO YE SWO PE HE adalah tubuh sejati dari Bodhisattva&lt;br /&gt;Obat Hebat, yang juga menggunakan segala macam jenis&lt;br /&gt;obat untuk menyembuhkan penyakit. Mereka bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68. Je Ji La E Syi Two Ye&lt;br /&gt;69. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JE JI LA E SYI TWO YE artinya "roda vajra". Hampir&lt;br /&gt;semua vajra bentuknya bundar, tetapi yang satu ini&lt;br /&gt;bundarnya berbeda dari vajra-vajra yang lain. Kalimat&lt;br /&gt;ini juga berarti, "menaklukkan setan-setan yang penuh&lt;br /&gt;kebencian". Setan adalah setan karena hati mereka&lt;br /&gt;selalu kecewa. Mereka mencela segalanya. Mereka&lt;br /&gt;bilang, "Buddha salah, juga Bodhisattva, Arhat, dewa,&lt;br /&gt;dan Yama!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka membenci semuanya. "Semuanya salah!" Mereka&lt;br /&gt;seperti orang gila yang tidak memperdulikan hukum&lt;br /&gt;apapun. Mereka menentang seluruh dunia. Untuk kalangan&lt;br /&gt;manusia, keadaan ini disebut gila; di antara&lt;br /&gt;hantu-hantu dan makhluk halus, ini disebut setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan kebencian memenuhi langit dengan energi&lt;br /&gt;kebenciannya. „Kalian semua tidak sopan terhadapku,"&lt;br /&gt;keluhnya. "Buddha? Saya akan menjatuhkannya.&lt;br /&gt;Bodhisattva dan Arhat, saya akan berbuat sama pada&lt;br /&gt;mereka. Manusia? Akan kumakan mereka semua. Hantu?&lt;br /&gt;Akan kuhancurkan mereka di bawah kakiku. Akan&lt;br /&gt;kutangkap dan kuhancurkan mereka!" Setan itu jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Tangan dan Mata Vajra, roda vajra, kita dapat&lt;br /&gt;menyingkirkan semua setan langit, kaum eksternalis dan&lt;br /&gt;hantu-hantu. Hantu dari jenis apapun, semua menyerah&lt;br /&gt;dan menjadi jinak jika roda ini digunakan, dan Dharma&lt;br /&gt;ini dilaksanakan. Semua makhluk dari jenis itu&lt;br /&gt;bersujud padamu dan berkata, „Saya akan mengikuti&lt;br /&gt;aturan dengan rasa hormat. Saya tidak akan melanggar&lt;br /&gt;aturan lagi." Mereka menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda Vajra tidak hanya dapat menghancurkan setan, ia&lt;br /&gt;juga memiliki suara yang menggetarkan. Di dalam&lt;br /&gt;Taoisme mereka berbicara tentang „lima halilintar yang&lt;br /&gt;menghantam kepala". Halilintar biasanya datang dari&lt;br /&gt;langit, tetapi guru-guru Taoisme dapat mengeluarkan&lt;br /&gt;halilintar dari tepak tangan mereka. Gemuruh&lt;br /&gt;halilintar akan membekukan setan-setan langit, bahkan&lt;br /&gt;menghancurkan kulit tubuh mereka. Ketika menyampaikan&lt;br /&gt;ceramah tentang Surangama Sutra, saya ada menyebut&lt;br /&gt;seorang kawan yang mampu melakukan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Tangan dan Mata ini berhasil dikembangkan,&lt;br /&gt;halilintar akan menggelegar pada waktu kita berlatih&lt;br /&gt;Dharma ini, dan semua setan kebencian akan bertekuk&lt;br /&gt;lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E SYI TWO YE artinya, „pencapaian yang tiada&lt;br /&gt;bandingannya". Tidak ada yang dapat dibandingkan&lt;br /&gt;dengan buah jasa dan kebajikan agung dari pencapaian&lt;br /&gt;ini, dan karenanya ia dapat menaklukkan semua setan&lt;br /&gt;kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70. Bwo Two Mwo Jye Syi Two Ye&lt;br /&gt;71. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BWO TWO MWO artinya "teratai merah". JYE SYI TWO YE&lt;br /&gt;artinya "kejayaan yang baik". Teratai Merah menang di&lt;br /&gt;atas segalanya dan menghasilkan semua pencapaian.&lt;br /&gt;Setelah mengembangkan Dharma ini, Tangan dan Mata&lt;br /&gt;Teratai Merah ini, jika kita ingin lahir di surga,&lt;br /&gt;akan gampang sekali untuk dilahirkan di surga mana pun&lt;br /&gt;yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;72. Nwo La Jin Chr Pan Chye La Ye&lt;br /&gt;73. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat dari mantra ini, NWO LA JIN CHR artinya&lt;br /&gt;"perlindungan mulia". PAN CHYE LA YE artinya&lt;br /&gt;"memperhatikan dengan bahagia", atau "memperhatikan&lt;br /&gt;suara dunia". Ini adalah Tangan dan Mata yang&lt;br /&gt;Memberkahi Tanpa Takut, yang digunakan Bodhisattva&lt;br /&gt;Yang Mendengarkan Suara Dunia untuk menyelamatkan&lt;br /&gt;makhluk hidup, sehingga semua makhluk menjadi tidak&lt;br /&gt;takut lagi terhadap keadaan apapun. Sang Bodhisattva&lt;br /&gt;membebaskan mereka dari semua rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;74. Mwo Pe Li Sheng Jye La Ye&lt;br /&gt;75. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MWO PE LI SHENG artinya "keberanian agung". Kalimat&lt;br /&gt;ini juga berarti "kebajikan pahlawan agung",&lt;br /&gt;perbuatan-perbuatan luhur pahlawan agung. Sang Buddha&lt;br /&gt;boleh disebut pahlawan agung, demikian juga halnya&lt;br /&gt;dengan Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JYE LA YE artinya „hakikat saat lahir" atau „hakikat&lt;br /&gt;dasar". Ini artinya hakikat asal dari semua makhluk&lt;br /&gt;hidup memiliki kebajikan pahlawan agung. Kebajikan&lt;br /&gt;pahlawan agung adalah Tangan dan Mata Seribu Tangan&lt;br /&gt;Yang Menyatukan dan Memegang. Tangan dan Mata ini&lt;br /&gt;dapat menaklukkan semua setan kebencian, tidak hanya&lt;br /&gt;di dalam dunia kita, tetapi juga di seluruh dunia di&lt;br /&gt;alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mengembangkan Empat Puluh Dua Tangan dan&lt;br /&gt;Mata harus mengetahui bahwa Tangan dan Mata ini adalah&lt;br /&gt;yang paling penting. Jika orang mengembangkan yang&lt;br /&gt;satu ini saja, semua Tangan dan Mata yang lain telah&lt;br /&gt;tercakup di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lalu, dapatkah saya mengembangkan cuma satu tangan&lt;br /&gt;dan mata ini, tanpa mengembangkan tangan dan mata yang&lt;br /&gt;lain?" kalian barangkali tergoda untuk bertanya&lt;br /&gt;seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja, kalau kalian suka malas. Orang yang tidak&lt;br /&gt;malas akan mengembangkan kesemua empat puluh dua&lt;br /&gt;tangan dan mata itu. Jika, sebaliknya, ia suka malas&lt;br /&gt;dan ingin berkembang menjadi Bodhisattva malas, ia&lt;br /&gt;boleh mengembangkan yang terakhir ini, yang mencakup&lt;br /&gt;semua yang lain. Akan makan waktu yang lebih lama&lt;br /&gt;untuk berhasil, karena jika kita malas, Dharma tidak&lt;br /&gt;akan dapat dicapai dengan segera. Jadi, tidak ada&lt;br /&gt;Dharma yang tetap. Jika kalian tidak bermaksud menjadi&lt;br /&gt;Bodhisattva yang malas, kalian tidak akan keberatan&lt;br /&gt;untuk mengembangkan lebih banyak Dharma lagi.&lt;br /&gt;76. Na Mwo He La Da Nwo Dwo La Ye Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini telah dijelaskan sebelumnya, namun siapa&lt;br /&gt;tahu ada di antara kalian yang sudah lupa, saya akan&lt;br /&gt;menjelaskannya lagi. Ada juga di antara kalian yang&lt;br /&gt;masih ingat, tetapi tidak dengan jelas, dan sekarang&lt;br /&gt;semuanya akan menjadi jelas. Yang lain, yang mengingat&lt;br /&gt;dengan jelas, boleh mendengar sekali lagi dan menjadi&lt;br /&gt;lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya salah memberikan ceramah, kalian harus&lt;br /&gt;segera memberitahu saya, karena cara saya membabarkan&lt;br /&gt;Sutra sama sekali berbeda dengan Guru Dharma lain.&lt;br /&gt;Saya tidak menggunakan catatan dan tidak menggunakan&lt;br /&gt;komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO artinya „saya berlindung". Berlindung kepada&lt;br /&gt;apa? Berlindung kepada Tiga Permata. HE LA DA NWO&lt;br /&gt;artinya „permata". DWO LA YE artinya "tiga". Saya&lt;br /&gt;ingin berlindung kepada Tiga Permata, dan saya&lt;br /&gt;melakukannya dengan seluruh tubuh, pikiran, hakikat,&lt;br /&gt;dan hidup saya. Mereka yang tinggal di rumah&lt;br /&gt;berlindung kepada Buddha, Dharma, Sangha, Tiga Permata&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlindung kepada Tiga Permata adalah berlindung&lt;br /&gt;kepada semua Buddha dalam ketiga masa di sepuluh&lt;br /&gt;penjuru hingga ke akhir ruang kosong, melalui seluruh&lt;br /&gt;Alam Dharma. Berlindung kepada Tiga Permata juga&lt;br /&gt;adalah berlindung kepada semua Dharma di tiga masa di&lt;br /&gt;sepuluh penjuru hingga ke akhir ruang kosong, melalui&lt;br /&gt;seluruh Alam Dharma. Berlindung kepada Tiga Permata&lt;br /&gt;juga artinya berlindung, dengan seluruh pikiran, dan&lt;br /&gt;seluruh hidup kita, kepada semua anggota suci Sangha&lt;br /&gt;di tiga masa di sepuluh penjuru hingga ke akhir ruang&lt;br /&gt;kosong, melalui seluruh Alam Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga ke akhir ruang kosong: ruang kosong tidak&lt;br /&gt;memiliki akhir. Semua alam semesta termasuk di dalam&lt;br /&gt;Alam Dharma. Terdapat sepuluh Alam Dharma, terdiri&lt;br /&gt;dari empat bidang luhur dan enam bidang biasa. Empat&lt;br /&gt;bidang atau alam luhur adalah alam Buddha, alam&lt;br /&gt;Bodhisattva, alam Pendengar Suara, alam Yang Cerah&lt;br /&gt;Berkondisi. Enam bidang biasa adalah alam dewa, alam&lt;br /&gt;manusia, alam asura, alam binatang, alam hantu&lt;br /&gt;kelaparan, dan alam penghuni neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh penjuru itu terdiri dari utara, timur,&lt;br /&gt;selatan, barat, timur laut, barat laut, tenggara,&lt;br /&gt;barat daya, atas, dan bawah. Tiga masa adalah masa&lt;br /&gt;lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berlindung kepada Permata Buddha di seluruh&lt;br /&gt;sepuluh penjuru dan tiga masa. Kata-kata yang&lt;br /&gt;diucapkan Buddha adalah Permata Dharma, Tripitaka&lt;br /&gt;dengan dua belas bagian naskahnya. Semua Sutra yang&lt;br /&gt;diucapkan Buddha disebut Permata Dharma. Permata&lt;br /&gt;Dharma tidak hanya muncul di antara umat manusia,&lt;br /&gt;Permata Dharma juga mengisi ruang kosong dan Alam&lt;br /&gt;Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang telah membuka Lima Mata dan mencapai Enam&lt;br /&gt;Penembusan Spiritual mengucapkan Sutra dengan asli,&lt;br /&gt;artinya, ia mengucapkan "Sutra sejati yang tanpa&lt;br /&gt;kata-kata". Di dalam ruang kosong, apapun yang ia&lt;br /&gt;inginkan, dapat ia sampaikan tanpa membuka mulutmu.&lt;br /&gt;Sesepuh Keenam bilang, "Tatkala pikiran kacau Bunga&lt;br /&gt;Dharma mengubahnya; Pikiran yang cerah akan memutar&lt;br /&gt;Bunga Dharma."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kata-kata tidak berarti Sutra tidak memiliki&lt;br /&gt;kata-kata. Artinya cuma bahwa orang biasa tidak mampu&lt;br /&gt;melihatnya. Tetapi, ia mampu, dan tatkala ia berpaling&lt;br /&gt;ke ruang kosong, ia akan melihat Buddha sedang&lt;br /&gt;membabarkan Sutra. Ada yang membabarkan Sutra Bunga&lt;br /&gt;Dharma, ada yang membabarkan Surangama Sutra, dan yang&lt;br /&gt;lain membabarkan Avatamsaka Sutra. Mereka ada di sana&lt;br /&gt;membabarkan Sutra dan mantra, seperti Surangama&lt;br /&gt;Mantra. Dengan cara ini, Permata Dharma hadir di&lt;br /&gt;seluruh Alam Dharma hingga ke akhir ruang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga berlindung kepada Permata Sangha di sepuluh&lt;br /&gt;penjuru dan tiga masa, hingga ke akhir ruang kosong&lt;br /&gt;dan Alam Dharma. Siapa yang termasuk di dalam Sangha&lt;br /&gt;dan pertapa suci? Semua Bodhisattva agung dan Arhat,&lt;br /&gt;semua Bhiksu-Sangha agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DWO LA YE artinya "tiga". Kita berlindung kepada Tiga&lt;br /&gt;Permata, Permata Rangkap Tiga, di sepuluh penjuru dan&lt;br /&gt;tiga masa, hingga ke akhir ruang kosong dan seluruh&lt;br /&gt;Alam Dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YE artinya "menghormat". Berlindung dan menghormat&lt;br /&gt;kepada Tiga Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;77. Na Mwo E Li Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NA MWO sekali lagi berarti „berlindung", dan E LI YE&lt;br /&gt;artinya „yang bijaksana". Kita berlindung kepada semua&lt;br /&gt;yang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;78. Pe Lu Jye Di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PE LU JYE DI artinya „merenungkan", atau&lt;br /&gt;„memperhatikan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;79. Shau Pan La Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHAU PAN LA YE artinya "kebahagiaan". Bersama-sama,&lt;br /&gt;kalimat ini dan yang sebelumnya, menunjuk kepada&lt;br /&gt;Bodhisattva Yang Mendengarkan dengan Penuh&lt;br /&gt;Kebahagiaan, yaitu Bodhisattva Yang Mendengarkan Suara&lt;br /&gt;Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodhisattva Yang Mendengarkan dengan penuh Kebahagiaan&lt;br /&gt;menyelesaikan semua kebajikan dan buah jasa. SWO PE HE&lt;br /&gt;artinya "pencapaian semua jasa-jasa baik dan&lt;br /&gt;kebajikan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;81. Nan Syi Dyan Du&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mantra telah diucapkan, NAN memimpin ke depan&lt;br /&gt;Kata-Kata Sejati yang mengikuti. NAN artinya&lt;br /&gt;„memunculkan arti".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYI artinya "pencapaian". DYAN DU artinya "alam saya".&lt;br /&gt;Alam saya, wilayah saya, telah tercapai; ini adalah&lt;br /&gt;wilayah luas saya, dan selama delapan ratus yojana&lt;br /&gt;alam ini tenang dan damai tanpa masalah. Wilayahku&lt;br /&gt;yang luas menengah, enam ratus yojana dan wilayah&lt;br /&gt;kecilku, empat ratus yojana juga damai dan tenang.&lt;br /&gt;Demikianlah saya telah mematok wilayahku. Di dalamnya,&lt;br /&gt;semua kebajikan dan buah jasa baik disempurnakan dan&lt;br /&gt;semua keinginan tercapai. Misalnya saja, di dalam&lt;br /&gt;wilayahku saya tidak akan mengizinkan gempa bumi di&lt;br /&gt;San Fransisco, atau bencana alam lainnya. Di dalam&lt;br /&gt;wilayahku, semua makhluk halus baik yang melindungi&lt;br /&gt;Dharma harus memastikan bahwa harapanku dihormati.&lt;br /&gt;Saya telah mematok wilayahku di San Fransisco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa luasnya?" kalian mungkin bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluas sebutir debu! Debu di sini termasuk di dalamnya&lt;br /&gt;debu yang tak terhitung banyaknya dan debu yang tak&lt;br /&gt;terhitung banyaknya itu adalah juga sebutir debu. Jadi&lt;br /&gt;jika sebutir debu itu dihancurkan, semua debu juga&lt;br /&gt;dihancurkan. Jika sebutir debu tidak dihancurkan,&lt;br /&gt;tidak ada yang dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;82. Man Dwo La&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAN DWO LA artinya „lapangan Jalan". Juga berarti&lt;br /&gt;„dewan Dharma". Kata ini artinya „lapangan Jalanku&lt;br /&gt;pasti akan berhasil, dan perkumpulan Dharmaku akan&lt;br /&gt;lengkap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;83. Ba Two Ye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BA TWO YE artinya „lengkap dan penuh, sesuai dengan&lt;br /&gt;isi hatimu". Sebagai contoh, jika saya berpikir bahwa&lt;br /&gt;sebutir debuku tidak boleh dihancurkan – maka ia tidak&lt;br /&gt;akan dihancurkan. Jika saya tidak menginginkan sebutir&lt;br /&gt;debu pun hancur, debu-debu yang lain tetap tak akan&lt;br /&gt;kekurangan sesuatu apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengucapkan NAN SYI DYAN DU MAN DWO LA BA TWO YE&lt;br /&gt;SWO PE HE dengan harapan agar tidak terjadi gempa bumi&lt;br /&gt;di San Fransisco. Gempa bumi dahsyat menjadi gempa&lt;br /&gt;kecil, gempa kecil menjadi tidak ada. Karena tidak ada&lt;br /&gt;gempa, tidak ada yang perlu merasa cemas. Jadi,&lt;br /&gt;tercapailah. Ia lengkap dan penuh, sesuai dengan isi&lt;br /&gt;hati kita. Apapun yang kita pikirkan, kita mencapainya&lt;br /&gt;persis seperti itu. Jika mempercayainya, mantra ini&lt;br /&gt;sungguh menakjubkan. Jika orang tidak mempercayainya,&lt;br /&gt;itu karena ia tidak tertarik untuk mendapatkan sesuatu&lt;br /&gt;yang sangat menakjubkan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;84. Swo Pe He&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian! Apa yang dicapai? Harapan kita; apapun&lt;br /&gt;yang kita inginkan. Apapun yang kita suka, akan kita&lt;br /&gt;dapatkan jika kita mengucapkan NAN SYI DYAN DU MAN DWO&lt;br /&gt;LA BA TWO YE SWO PE HE. Mereka yang telah meninggalkan&lt;br /&gt;rumah mengucapkan kalimat ini setiap kali rambut&lt;br /&gt;kepalanya dicukur. Kalimat ini artinya, segalanya&lt;br /&gt;telah lengkap, sempurna, dan tercapai, mulia, "seperti&lt;br /&gt;yang saya kehendaki".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutra Dharani Hati mengenai Welas Asih Agung dan&lt;br /&gt;Mantra Welas Asih Agung sekarang telah dijelaskan.&lt;br /&gt;Tahun sebelumnya, salah satu muridku bilang ingin&lt;br /&gt;mendengarkan Sutra itu dan hari ini, kira-kira setahun&lt;br /&gt;kemudian, penjelasan dari Sutra dan Mantra tersebut&lt;br /&gt;telah tuntas. Saya harap setiap dari kalian akan&lt;br /&gt;mendapatkan apa yang kalian inginkan, sesuai dengan&lt;br /&gt;harapan kalian, artinya, kalian semua akan BA TWO YE&lt;br /&gt;SWO PE HE, dan berhasil mewujudkan semua sumpah&lt;br /&gt;kalian. Kekuatan sumpah masing-masing orang&lt;br /&gt;berbeda-beda, demikian juga pencapaian tiap orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3373062771363800051-8281413163909353436?l=mantar-bodhicita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/feeds/8281413163909353436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3373062771363800051&amp;postID=8281413163909353436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default/8281413163909353436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default/8281413163909353436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/2008/08/maha-karuna-dharani-oleh-yang-mulia.html' title='Maha Karuna Dharani oleh Yang Mulia Tripitaka Acarya Hsuan Hua'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3373062771363800051.post-7616656067361307937</id><published>2008-08-17T11:56:00.001-07:00</published><updated>2008-08-17T11:56:36.409-07:00</updated><title type='text'>MAHA KARUNA DHARANI</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;Sebelum      membaca Dharani, terlebih dahulu hendaknya bersujud sembahyang kepada Sang      Avalokitesvara Bodhisattva Mahasattva. Setelah itu barulah membaca dharani      ini, boleh sambil berlutut atau duduk bersila, yang utama adalah harus berhati      tulus ikhlas, hormat, cermat dan khidmat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;Pembacaan      dharani sebaiknya didahului dengan mantra-mantra di bawah ini :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;AUM      RAM !&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;(      Mantra untuk membersihkan suasana semesta alam )&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;     &lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;AUM      SVAR !&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;(      Mantra untuk melindungi diri pemuja )&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;NAMO      SATTANAM SAMYAK SAMBODHI KOTINAM JITA!&lt;br /&gt;    AUM ! JARA ! VAJRA ! KUNDHI ! SVAHA !&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;(      Mantra untuk memohon kepada Sang Maha Ibu Dunia )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;AUM      BHUR !&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;(      Mantra untuk memutar roda Dharani )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;AUM      MANI PADME HUM !&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;(      Mantra untuk menerangi Sang Hati)&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;Mantra      - mantra pendek diatas harus dibaca masing-masing 3, 5, 7, 9, atau 21 kali,      setelah itu baru membaca MAHA KARUNA DHARANI berikut ini menurut urutannya      :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;NAMO      RATNA TRIAYI (1), NAMO ARIAYI (2), AVALOKITESVARA ARIAYI (3), BODHISATTVA      BAYAI (4), MAHASATTVA BAYAI (5), MAHA KARUNIKAYAI (6), AUM (7), SATPRAVAR      ARIAYI (8), SUTRANATRASA (9), NAMO SIRI DHARMA ARIAYI (10), AVALOKITESVARA      RINDHABIYA (11), NAMO NARAKUNDHI (12), HIRI MAHA RATNA SAMMI (13), SARVA ADHADHU      SUBHIYAI (14), ASIKIN (15), SATTVA SATTHA NAMAVA SATTHA NAMA BHAGA (16), MARVA      TRATA (17), SIDDHARTHA TRATA (18), AUM AVALOKES (19), LOKATI (20), KALOTI      (21), ISERI (22), MAHA BODHISATTVA (23), SATTVA SATTVA (24), MARA MARA (25),      MAHES MAHES RUDRAJIN (26), GURU GURU KARMA (27), TURU TURU VARJAYATI (28),      MAHA VARJAYATI (29), DHARA DHARA (30), TRINI (31), SARVA RAYA (32), CHARA      CHARA (33), NAMA VARMARA (34), MUKTI (35), TRIHES IHES (36), SARMA SARMA (37),      ARASHAM BUDDHA RASARI (38), VARSA VARSAM (39), BUDDHA RASARI (40), HURU HURU      MIRA (41), HURU HURU HESRI (42), SARA SARA (43), SERI SERI (44), SERU SERU      (45), BODHIYA BODHIYA (46), BUDDHAYA BUDDHAYA (47), MAITREYA (48), NARAKUNDHI      (49), TRISITNINA (50), BADJAMMNA (51), SVAHA (52), SITDAYA (53), SVAHA (54),      MAHA SITDAYA (55), SVAHA (56), SITDHA ARIAYI (57), SARVA ARIAYI (58), SVAHA      (59), NARAKUNDHI (60), SVAHA (61), MARA NARA (62), SVAHA (63), SETIARA SANGHA      AMUKHAYA (64), SVAHA (65), SARVA MAHA SITDHA ARIAYI (66), SVAHA (67), CHAKRA      SITDAYA (68), SVAHA (69), BUDDHA DHARMA SITDAYA (70), SVAHA (71), NARA KUNDHI      BHAGA ARIAYI (72), SVAHA (73), MARVARISIN KARMA ARIAYI (74), SVAHA (75), NAMO      RATNA TRIAYI (76), NAMO ARIAYI (77), AVALOKITESVARA ARIAYI (78), SVAHA (79),      AUM (80), SIDDHARTA (81), BHANDALA (82), BHANDEAYI (83), SVAHA (84).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;AUM      BADJERAH DHARMA KIRIKU NAMA SAMMATHA BUDHHANAUM AUM AVAM RAM HAM SVAHA&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;(baris      ini dibaca 7 kali)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:100%;color:#0000ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff3333;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;keterangan      :&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;Maha      Karuna Dharani (Tay Pi Ciu) adalah sebuah dharani yang amat "gawat"      karena daya sucinya. maka bagi mereka yang memanjatkan dharani ini hendaknya      berpantang makan barnag-barnag yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk      hidup berupa apapun juga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;Dipujikan      untuk dipanjatkan bagi mereka yang menjalani latihan rohani pada hari-hari      UPOSATHA, yaitu pada setiap tanggal 1, 8, 15, dan 23 menurut penanggalan bulan      Chandrasangkala (Imlek), menjalani laku idak makan daging dan lain-lain, tujuan      kesucian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:100%;color:#0000ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff3333;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cara      membuat air penyembuhan :&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff3333;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;color:#0000ff;"&gt;Terlebih      dahulu sajikan satu cangkir atau mangkok berisi air bersih di hadapan altar      Sang Avalokitesvara. Lalu nyatakanlah segala dukanya (penyakit, penderitaan      lahir batin, dsb.) secara sungguh-sungguh, kemudian bacalah Maha Karuna Dharani      3x, 5x, atau 7x (sambil berlutut atau duduk bersila). setelah pembacaan dharani      selesai, barulah air itu diminumkan kepada pendrita yang berkepentingan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:100%;color:#0000ff;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Laksanakanlah      menurut petunjuk-petunjuk itu setiap pagi dan petang, dengan terlebih dahulu      membersihkan badan. Hasilnya telah banyak terbukti, terutama bagi kaum wanita      yang sednag mengalami kesukaran dalam bersalin, akan banyak menolong dan menunjukkan      keampuhannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3373062771363800051-7616656067361307937?l=mantar-bodhicita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/feeds/7616656067361307937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3373062771363800051&amp;postID=7616656067361307937' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default/7616656067361307937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3373062771363800051/posts/default/7616656067361307937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mantar-bodhicita.blogspot.com/2008/08/maha-karuna-dharani.html' title='MAHA KARUNA DHARANI'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
